PBNU akan Hapus Ijma’ dan Qiyas, Gus Solah: Seluruh Nahdliyin akan Menentang!

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Sejumlah pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdatul Ulama (MWCNU) Kabupaten Jombang menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, Jum’at (11/9). Pertemuan ini diadakan guna membahas adanya dugaan Perubahan anggaran dasar yang terjadi dalam Muktamar Nahdatul Ulama (NU) ke 33 di Kabupaten Jombang Jawa Timur sehingga menyebabkan melencengnya aqidah NU. Hal ini diutarakan Pengasuh PondokPesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin
Wahid (Gus Solah).

Gus Solah mengatakan, pertemuan para MWCNU ini merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap NU sehingga perlu adanya penyelamatan dan pengembalian NU kepada asalnya. Salah satu inti persoalan adalah dihapuskannya muqodimah dari Anggaran Dasar.

“Perkara pelaksanaan Muktamar ke 33 NU yang lalu kita kesampingkan dahulu, yang terpenting adalah penyelamatan aqidah NU,” ujarnya saat ditemui wartawan di dalem kasepuhan ponpes Tebuireng, Jumat (11/9/2015).

Penyelewengan aqidah yang paling ketara, lanjut Gus Solah, adalah dihilangkannya Ijma dan Qiyas sebagai salah satu dasar hukum Nahdlatul Ulama.

“Dulu pedoman kita adalah Al Quran, Hadis, Ijma dan Qiyas. Namun yang terjadi saat ini tinggal dua saja, ini sama halnya mengubah apa yang sudah didirikan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asyari dan saya yakin akan ditentang seluruh warga nahdiyin,” imbuhnya.

Masih menurut Gus Solah, selain mengadakan pertemuan, pihak MWCNU akan membuat surat peryataan penolakan pengubahan Anggaran Dasar.

“Besok pagi akan ada giat penandatangan surat pernyataan oleh ratusan pesantren yang ada di Kabupaten Jombang untuk menolak perubahan tersebut,” pungkasnya.

Berikut Empat Poin Hasil Pertemuan MWCNU Jombang di Tebuireng

Berikut keempat poin yang menjadi pembahasan dan dugaan penyelewengan Aqidah saat pelaksanaan Muktamar ke 33 NU di Kabupaten Jombang Agustus Silam.

Pertama, adanya penghapusan keseluruhan Muqaddimah Anggaran Dasar.

Kedua, menghapus faham ahlu sunnah wal jamaah dalam bidang aqidah, fiqih dan tasawuf, yakni dilakukan dengan cara mengubah BAB II tentang pedoman aqidah dan asas menjadi
“dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, NU berasas kepada Pancasila dan Undang undang Dasar 1945”.

Ketiga, forum muktamar diduga mengganti faham ahlusunnah wal jama’ah dengan Khasaish ahlu sunnah wal jama’ah yang subtansinya berbeda jauh dengan ahlu sunnah wal jama’ah sebagaimana tertera dalam kitab risalah Ahlu Al-sunnah wa Al jamaah yang ditulis oleh Hadaratussyaikh KH Hasym Asyari dan Kittah Nahdliyah.

Keempat, mengubah bunyi pasal 33 dengan memunculkan naskah Pedoman Aqidah dan Azas NU yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari anggaran dasar, di mana naskah ini belum pernah disusun, dibicarakan dan disahkan dalam Forum Muktamar.

[BangsaOnline/NUgl]


Artikel Terkait