NU Garis Lurus Ungkap Bahasa Buruk Para Tokoh Liberal

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Imam Besar NU Garis Lurus Hadhrotussyaikh KH. Luthfi Bashori mengungkapkan bahwa ternyata para tokoh liberal mempunyai bahasa yang sangat buruk dalam menyampaikan virus liberalnya.

HATI & LISAN
YANG BAIK & YANG BURUK

Lukman Alhakim adalah seorang shalih yang namanya diabadikan dalam Alquran. Diriwayatkan bahwa suatu saat majikan Lukman, memberikan seekor kambing kepadanya seraya berkata, ‘’Hai Lukman, sembelilah dan berikan kepadaku bagian dagingnya yang terbaik.’’

Maka Luqman memberikan kepadanya hati dan lidah. Kemudian selang beberapa hari, majikan itu memberikan kepadanya seekor kambing lagi seraya berkata, ‘’Hai Lukman, sembelilah dan berikan kepadaku bagian daging  yang paling busuk.’’
Maka Luqman membawakan kepadanya hati dan lidah. Kemudian tuannya bertanya kepadanya tentang hal itu.

Maka Luqman menjawab, ‘’Keduanya adalah yang terbaik ketika digunakan untuk kebaikan dan paling busuk bila dpaling busuk keyika digunakan untuk kebusukan.  Jadi kebaikan maupun keburukan seseorang itu tergantung hati dan lisan (atau tulisan, pen).’’

Beberapa contoh penggunaan lisan (tulisan) yang ada di sekitar umat Islam, tentunya dapat dinilai degan standar hikmah Luqman di atas, sebagai berikut:

image

M. DAWAM RAHARJO: ”Kalau Islam tidak bisa dikontrol oleh negara, sebaiknya Islam dilarang saja di Indonesia”, dilontarkan dalam Kolokium International Center Islam and Pluralism (ICIP) pada Selasa, 11 Oktober 2005 di Jakarta, dikutip http://www.christianpost.co.id.

ABDURRAHMAN WAHID: “Erotisme merupakan sesuatu yang selalu mendampingi manusia, dari dulu hingga sekarang. Untuk mewaspadai dampak dari erotisme itu dibuatlah pandangan tentang moral. Dan moralitas berganti dari waktu ke waktu. Dulu pada zaman ibu saya, perempuan yang pakai rok pendek itu dianggap cabul. Perempuan mesti pakai kain sarung panjang yang menutupi hingga matakaki. Sekarang standar moralitas memang sudah berubah. Memakai rok pendek bukan cabul lagi. Oleh karena itu, kalau kita mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah merupakan pemaksaan. Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk pihak yang lain. Contoh lain adalah tradisi tari perut di Mesir yang tentu saja perutnya terbuka lebar dan bahkan kelihatan puser. Mungkin bagi sebagian orang, tari perut itu cabul. Tapi di Mesir, itu adalah tarian rakyat; tidak ada sangkut-pautnya dengan kecabulan.” (islamlib.com).

MUSDAH MULIA, Kordinator Tim Pengarus-Utamaan Gender (PUG) – Depag RI, yang menerbitkan Counter Legal Draft – Kompilasi Hukum Islam (CLD – KHI) yang berisi, antara lain: Poligami tidak sah. Kawin Beda Agama sah. Laki-laki terkena ‘iddah 130 hari. Waris anak laki dan perempuan sama. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, Budi Hendrianto, hal. 237 – 241).

MUSTHOFA BIRSI, dalam acara Pembukaaan Pameran Seni Rupa Nasirun di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa, 2/10/2015 mengatakan:  “Islam kita itu ya Islam Indonesia bukan Islam Saudi Arabia, bukan berarti kalau tidak pakai jubah dan sorban Islam kita tidak diterima, Rasulullah SAW memakai jubah, sorban dan berjenggot ya karena tradisi orang Arab seperti itu. Abu Jahal juga berpakaian yang sama, berjenggot pula. Bedanya kalau Rasul wajahnya mesem (sarat senyum) karena menghargai tradisi setempat. Nah, kalau Abu Jahal wajahnya kereng (pemarah). Silahkan mau pilih yang mana?” Katanya disambut gelak tawa hadirin.

Padahal Imam Abu Dawud telah menyebutkan dalam kitab sunannya, bahwa Nabi SAW telah bersabda: ”Perbedaan kita dengan orang musyrik adalah memakai sorban di atas kopiah”. (Ini adalah dalil kesunnahan bersorban dan bukan semata-mata budaya Arab).

Penulis: KH. Luthfi Bashori
Sumber: PejuangIslam.Com

Wallahu Alam


Artikel Terkait