Napak Tilas Para Sesepuh Dan Pendiri NU Berlanjut di Pesantren KH. Ahmad Shiddiq

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Acara napak tilas para sesepuh dan pendiri NU yang menolak kepengurusan PBNU hasil Muktamar Jombang berlanjut di pesantren KH Ahmad Siddiq Jember jawa timur.

Hadir dalam kesempatan ini KH. A Hasyim Muzadi, KH Salahuddin Wahid, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, DR. KH Mohamnad Adnan (PWNU Jateng), KH. Adnan Syarif, KH Afifuddin Muhajir, KH Syekh  Ali Akbar Marbun (Medan), KH. Mahfud Halim Shiddiq,  KH. Saiful Bari Shiddiq,  Prof. Dr. KH. Abdul Halim Subahar,  dan para kiai dari kresidenan Besuki dan tuan rumah KH Firjon Barlaman Ahmad Shiddiq.

Didahului oleh K.H. Ali Ma’shum, KH. Ahmad Shiddiq adalah Rais Am Syuriah PB Nahdlatul Ulama 1984-1991dan diteruskan oleh K.H. Ali Yafie. KH. Ali Yafie adalah salah satu tokoh yang paling berani menentang keliberalan Gus Dur di zamannya.

Kyai Achmad Shiddiq juga merupakan santri KH. Hasyim Asy’ari menimba ilmu di Tebuireng. Semasa di Tebuireng, Kyai Hasyim melihat potensi kecerdasan pada Achmad, sehingga, kamarnya pun dikhususkan oleh Kyai Hasyim. Achmad dan beberapa putra-putra kyai dikumpulkan dalam satu kamar.

Di pondok Tebuireng itu pula, Kyai Achmad berkawan dengan Kyai Muchith Muzadi yang belum lama wafat dan kemudian hari menjadi mitra diskusinva dalam merumuskan konsep- konsep strategis, khususnya menyangkut ke-NU-an, seperti buku Khittah Nahdliyah, Fikroh Nandliyah, dan sebagainya.

Jihad Melawan Belanda

Perjuangan Kyai Achmad dalam mempertahankan kemerdekaan ’45 melawan penjajahan Belanda dimulai dengan jabatannya sebagai Badan Executive Pemerintah Jember, bersama A Latif Pane (PNI), P. Siahaan. (PBI) dan Nazarudin Lathif (Masyumi). Pada saat itu, bupati dijabat oleh “Soedarman, Patihnya R Soenarto dan Noto Hadinegoro sebagai sekretaris Bupati.

Selain itu, Kyai Achmad juga berjuang di pasukan Mujahidin (PPPR) pada tahun 1947. Saat itu Belanda. melakukan Agresi Militer yang pertama. Belanda merasa kesulitan membasmi PPPR, karena anggotanya adalah para Kyai. Agresi tersebut kemudian menimbulkan kecaman internasional terhadap Belanda sehingga muncullah Perundingan Renville. Renville memutuskan sebagai berikut:

“Mengakui daerah-daerah berdasar perjanjian Linggarjati II dan ditambah daerah-daerah yang diduduki Belanda lewat Agresi harus diakui Indonesia. Sebagai konsekwensinya perjanjian Renville, maka pejuang-pejuang di daerah kantong (termasuk Jember) harus hijrah”.

Para pejuang dari Jember kebanyakan mengungsi ke Tulung Agung. Di sanalah Kyai Achmad mempersiapkan pelarian bagi para pejuang yang mengungsi tersebut.

KH Achmad Siddiq lahir di Jember, 24 Januari 1926 dan wafat 23 Januari 1999 saat berumur 64 tahun. Dia adalah salah satu kader terbaik KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asyari dan ayahanda KH. Sholahuddin Wahid atau Gus Solah.

Wallahu Alam


Artikel Terkait