Mencintai Nabi Muhammad, Bahagia Menemani Rasulullah

Shortlink:

image

Imam Besar NU Garis Lurus KH. Luthfi Bashori

NUGarisLurus.Com –  Berteman dengan orang shalih yang baik, akan dapat membahagiakan hati seorang muslim, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sebaiknya salah pilih berteman dengan orang-orang jahat, akan menyengsarakan kehidupan dunianya terlebih di akhiratnya kelak.

Contoh Shahabat  Abu Hurairah merasakan kebahagiaan dalam dirinya dan keimanan memenuhi hatinya, karena dapat menemani Rasulullah SAW. Maka beliau sangat bersukur kepada Allah SWT atas kenikmatan itu.

Shahabat Abu Hurairah berkata, ’’Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada Abu Hurairah untuk masuk Islam. Segala puji bagi Allah yang  telah mengajarkan Al-Quran kepada Abu Hurairah. Segala puji bagi Allah yang  telah mengaruniakan Abu Hurairah dapat berteman dengan Nabi Muhamad SAW.’’

Shahabat Abu Hurairah telah menegaskan hal ini kepada Rasulullah SAW, dan beliau buktikan dengan kegembiraan yang sangat ketika menghadiri majelis Rasulullah SAW. Beliau bersungguh-sungguh memperhatikan dan menghapal ribuan hadits Nabi Muhammad SAW.

Shahabat Abu Hurairah pernah berkata, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih baik dari pada Rasulullah SAW, seakan-akan beliau itu matahari berjalan di wajahnya.”

Tentunya kebahagiaan hidup bersama Rasulullah SAW itu, bukan hanya dirasakan oleh Shahabat Abu Hurairah saja, namun kegembiraan tersebut hampir dirasakan oleh semua para Shahabat.

Contoh lain, tatkala shahabat Tsauban mendatangi Rasulullah SAW dengan wajah yang pucat, Rasulullah SAW menyangka bahwa Tsauban terserang penyakit atau merasa sangat lapar. Namun Shahabat Tsauban mengatakan: “Wahai Rasulullah, aku tidak sakit dan tidak lapar,”

Rasulullah balik bertanyak, “Apa sebab wajahmu pucat?’’

Shahabat  Tsaubah menjawab, ’’Wahai Rasulullah, aku tadi di rumah timbul satu pemikiran, sekarang aku hidup di dunia, jika sesaat saja tidak bertemu dengan engkau, maka hidupku gelisah, lantas bagaimana kelak di akhirat?  Jika aku masuk surga tentu surgaku  berbeda dengan surgamu, berarti aku tidak bersamamu? ’’

Lalu Rasulullah SAW pun sempat terdiam hingga turun ayat yang artinya: ’’Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, para syuhadak dan orang-orang shaleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS. Annisa: 69).

Maksudnya, bahwa manusia itu akan dikumpulkan di akhirat kelak bersama orang yang dicintai semasa hidupnya di dunia.

Siapa saja yang senang berteman dengan orang-orang shalih, maka kelak di akhirat akan dikumpulkan di sorga bersama orang-orang shalih.

Sedangkan siapa saja yang berteman dengan orang kafir, misalnya menjalin ukhuwah yang mesra dengan para Pendeta, Pastur, Bhiksu, Brahmana, Jiao Sheng (penebar agama Khong hu cu) dan penganut aliran sesat manapun, maka kelak akan dikumpulkan di neraka bersama dengan orang-orang kafir dan para penganut aliran sesat itu.

Penulis KH. Luthfi Bashori
Sumber: PejuangIslam.Com


Artikel Terkait