Makalah Lengkap KH. Muhammad Najih Maemoen: ‘Islam Nusantara’ Dan Konspirasi Liberal

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Arsip dan catatan lengkap makalah pengasuh Ribath Darussohihain Hadhrotussyaikh KH. Muhammad Najih Maemoen (Gus Najih) tentang konspirasi kaum liberal dan polemik ‘Islam Nusantara’.

MAKALAH ISLAM NUSANTARA KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMOEN: SETUJU TIDAK SETUJU?

Penulis Pesantren Pedia pada September 28, 2015

 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ  وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى رَسُولِ الله ِ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاه، أَمَّا بَعْدُ:

Islam Nusantara hadir disaat kaum liberal dan para pembajak akidah beranggapan bahwa Islam yang sekarang dianggap gersang, terkekang, ke-Arab-araban, anti seni, anti budaya, anti kemajuan sekaligus anti emansipasi wanita. Gejala puritanisme menjadi alasan lahirnya wacana Islam Nusantara. Menurut mereka, toleransi antar umat beragama semakin memudar dan jauh dari matriks-matriks pertemuan peradaban dengan agama lainnya. Bagi mereka, Islam, Hindu, Budha, Kristen, Protestan, dan Konghucu sama-sama agama samawi yang mengajarkan kebaikan yang bisa menghantarkan pemeluknya masuk surga. Dengan Islam Nusantara, mereka menginginkan Islam yang fleksibel, toleran, dan sinkretis.

Islam Nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat dibalik lahirnya wacana Islam Nusantara. Dengan Islam Nusantara mereka mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dst. Mereka juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran). Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara. Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghiroh islamiyahnya. Ada misi “Pluralisme Agama” dibalik istilah Islam Nusantara, disamping  juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.

Ada ungkapanJawa “Othak-athik Mathuk/Gathuk” (diotak-atik agar sesuai). Inilah gambaran Islam Nusantara, dimana ajaran Islam akan diotak-atik oleh otak (baca: hawa nafsu) agar sesuai dengan akal dan kearifan lokal (baca: keinginan hawa nafsu). Salah satu pengamalan dan syi’ar Islam Nusantara yang paling fenomenal adalah pembacaan al-Qur’an dengan langgam jawa pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana negara, tanggal 15 Mei 2015 dan dilanjutkan “Ngaji al-Qur’an Langgam Jawa dan Pribumisasi Islam” yang digelar oleh Majlis Sholawat Gusdurian di Pendopo Hijau Yayasan LkiS di Sorowajan, Bantul, Yogjakarta Rabo 27 Mei 2015. Bahkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, tidak tanggung-tanggung dalam mengampanyekan ide Islam Nusantara dengan menggelar diskusi mingguan dengan nama “Majlis Kemisan” di rumah dinasnya, Kompleks Perumahan Widia Chandra III No, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Menteri agama juga berjanji akan menggelontorkan dana untuk proyek tersebut.

Tak ketinggalan, Presiden Jokowi turut memberi dukungan dan apresiasi terhadap ide Islam Nusantara, dukungan tersebut ia sampaikan pada saat sambutan di acara Munas NU dan Istighosah Menyambut bulan Ramadhan 1436 H dengan tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” Selasa 14 Juni 2015 bertempat di masjid Istiqlal, yang akhirnya menjadi tema Muktamar NU di Jombang. (www.fimadani.com)

Ucapan selamat berupa karangan bunga dari Pondok Pesantren Al-Qodir Tanjung Wukirsari Cangkringan Sleman atas peresmian gereja Katholik Santo Fransiskus Xaverius Cangkringan dan keikutsertaan santri pondok tersebut bermain hadroh di gereja tersebut pada acara yang sama pada tanggal 10 Juli 2015, semakin menambah bukti corak Islam Nusantara yang mereka kehendaki.

Mereka mencoba menginterpretasi ulang agama Islam sesuai kemauan hawa nafsu dan syahwat duniawi mereka untuk diselaraskan dengan dunia modern, agar umat Islam bisa menjaga dan berpidato di gereja, dan sebaliknya para pendeta, pastor dan biksu bisa berpidato dan berkhutbah di masjid. Sebagai contoh seorang kiai NU, Gus Nuril Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Multi Agama bernama “Soko Tunggal”di Semarang dan “Soko Tunggal Abdurrahman Wahid” di Rawamangun Jakarta timur, memberikan ceramah agama di Gereja Bethany Tayu Pati dan beberapa gereja lainnya. Dia juga mengatakan bahwa “Keturunan Rasulullah SAW sudah tidak ada, semua sudah mati dibunuh. Arab-arab di Indonesia adalah Arab Badui semua, bukan keturunan Sayyidina Ali dan Nabi Muhammad SAW” “Islam di Indonesia didatangkan oleh Sultan Ahmad Tsani dari berbagai madzhab, meliputi Sunni, Syi’i, dan lainnya. Juga dari berbagai kultur dari seluruh dunia, seperti Cina, Pakistan, India, dan lainnya, bukan dari Arab saja”.

Ada cerita dari KH. Sholahuddin Munshif Jember ketika beliau menghadiri undangan  haul di daerah Kapuas, Kalimantan Tengah, hadir disitu bupati Kapuas yang beragama Kristen lengkap dengan atribut seorang muslim. Bahkan beliau mendapatkan cerita dari orang yang hadir disitu, istrinya yang beragama kristen menjadi ketua muslimat NU di daerah setempat. Demikian ini, tentunya bisa juga terjadi di daerah-daerah yang mayoritas penduduknya kafir-kristen, seperti Palangkaraya, Tapanuli Selatan, Papua, serta daerah-daerah lainnya.

Fenomena haji yang menggunakan blangkon (tidak berkopyah) sebagai atribut KBIH Arafah, Bangsri, Jepara, di bawah pimpinan KH. Nuruddin Amin juga terinspirasi dari ide Islam Nusantara. Pimpinan KBIH tersebut mengatakan: “Makanya kami sengaja mempraktikkan pengamalan Islam Nusantara dengan wujud memakai blangkon”.

Sejak beberapa hari terakhir, media banyak memberitakan warga pulau dewata dihebohkan dengan beredarnya foto pernikahan sejenis di medsos dengan latar belakang perbukitan di bali. Dalam akun media social facebook yang bernama Joe Tully itu, terlihat jelas foto pernikahan sejenis tersebut berlangsung. Bahkan si pemilik akun menuliskan peristiwa penting dalam hidupnya.selain itu juga ada adegan salah satu pengantinnya sungkem kepada ibunya, pernikahan sejenis itu diduga berlangsung di daerah Ubud, Bali. (sindonews.com)

Menurut KH. Idrus Ramli, saat jumpa pers di media center muktamar NU ke-33 di Jombang menyatakan: “Ada tiga kelompok yang menyusup masuk dalam struktur PBNU. Ada kelompok pengurus yang berlatar belakang membela Syi’ah, ada yang berkepentingan untuk wahhabiyah dan ada yang mempunyai misi menyebarkan ideologi liberal” (www.jatimtimes.com).

Menurut Kiai Idrus, Istilah Nusantara merupakan istilah yang digunakan oleh masyarakat sebelum datangnya Islam di Indonesia. Dalam catatan sejarah, istilah Nusantara dideklarasikan oleh Patih Gajah Mada, setelah diangkat sebagai Amangkubumi di Kerajaan Majapahit. Dalam bahasa agama, istilah Nusantara adalah istilah Jahiliyyah, yaitu istilah yang digunakan masyarakat kita sebelum masuknya Islam ke Indonesia. Berkaitan dengan konteks ini, Islam mencela untuk mengajak atau menyerukan pada suatu istilah atau slogan yang digunakan oleh orang-orang jahiliyyah.

Mereka secara struktural dan terorganisir bergerak ingin mengacak-acak dan merubah tatanan ideologi NU, yaitu ideologi Sunni, Asya’irah dan Maturidiyah, berpegang pada al-Qur’an dan Hadits serta qaul-qaul ulama salafus sholih dalam bermadzhab empat, diganti menjadi ideologi liberal ala Islam Nusantara sebagai bentuk kelangsungan ide Gus Dur “Pribumisasi Islam”. Lewat Islam Nusantara mereka ingin menghidupkan kembali sistem Hindu-Budha ala Majapahit. Ada aroma komunis di balik wacana Islam Nusantara.

 

Pages: 1 2 3 4 5


Artikel Terkait