Kritik KH. Muhammad Hasan Terhadap Cara Klarifikasi Seorang Said Agil

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Cara klarifikasi dari ketua umum PBNU Said Agil Siraj yang bersikukuh berpendapat jenggot mengurangi kecerdasan padahal sudah mengakui itu sunnah nabi mendapat tanggapan dari aktivis NU KH. Muhammad Hasan Abdul Muiz.

Kiai Muhammad Hasan juga mengaku mendapat pengakuan dari ahli medis syaraf bahwa klaim syaraf otak yang tertarik jenggot bisa mengurangi kecerdasan tidak bisa dibenarkan dan tidak punya dasar secara medis. Berikut ini tanggapan beliau yang didapatkan oleh redaksi.

Prof. DR. KH. SAID AQIL SIRADJ, MA DAN JENGGOT

Beberapa hari yang lalu, di media sosial ramai memperbincangkan ceramah ketua umum tanfidziyah NU, KH. Said Aqil Siraj yang membahas masalah jenggot. Dalam ceramahnya, beliau “mengolok-olok” orang yang berjenggot. “Yang lebih penting lagi, yang paling serius lagi, orang yang BERJENGGOT itu mengurangi kecerdasan. Jadi, syaraf yang untuk mendukung kecerdasan otak ketarik untuk memanjangkan jenggot. Coba lihat, Gus Dur tidak berjenggot, Nurkholis Majid tidak berjenggot, Pak Quraisy Syihab tidak berjenggot. Yang cerdas-cerdas gak ada yang berjenggot. Tapi kalau yang berjenggot emosinya meledak-ledak. Jejjer otaknya. Karena, syaraf yang mensupport otak supaya cerdas ketarik oleh jenggotnya. Semakin panjang semakin goblok.” Begitu ceramah yang beliau sampaikan. Dan yang saya tulis di sini adalah translate langsung dari ceramah beliau. Tidak ada yang ditambah-tambahi ataupun dikurangi.

Ceramah ini beliau sampaikan dengan penyampaian yang sifatnya guyonan. Tapi, begitupun karena masalah jenggot adalah sebuah persoalan yang menyangkut sunnah Nabi, maka tentunya meskipun disampaikan dengan penyampaian yang sifatnya guyonan, ceramah beliau ini menimbulkan pro-kontra. Bahkan tidak jarang, seperti yang saya amati di medsos, ada yang menyatakan bahwa Said Aqil memerangi sunnah Nabi.

Ditambah lagi, Said Aqil memang termasuk seorang sosok yang kontroversial di kalangan NU. Dimulai dari pernyataannya sewaktu menceritakan Sayyidina Utsman “didemo” oleh kelompok-kelompok yang kontra beliau, bahwa -kata Said Aqil- Sayyidina Utsman waktu itu sudah pikun, juga “kedekatan” Said Aqil dengan Syiah, pernyataannya yang menyatakan bahwa yang tidak merayakan perayaan Asyura adalah orang tidak mengerti, ditambah lagi yang teranyar “orang yang berjenggot mengurangi kecerdasan”, dan masih banyak pernyataan nyentrik beliau lainnya. Yang kesemuanya itu menjadikan beliau masuk dalam deretan sosok yang kontroversial.

Sebelumnya, saya menyangka bahwa yang Said Aqil maksud Said Aqil “berjenggot mengurangi kecerdasan”, adalah yang terlalu panjang. Karena memang ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa jenggot yang terlalu panjang mengurangi kecerdasan. Sebagaimana hal itu sudah dinukil oleh pendukung-pendukung Said Aqil di media-media sosial. Persepsi saya seperti itu awalnya. Meskipun dalam ceramahnya Said Aqil jelas menyatakan “orang yang berjenggot”, dan bukan yang terlalu panjang jenggotnya, tetapi sekali lagi awalnya husnuddzan saya menyatakan bahwa yang dimaksud Said Aqil itu adalah yang terlalu panjang.

Terlepas dari benar tidaknya pendapat ulama yang menyatakan bahwa jenggot yang terlalu panjang akan mengurangi kecerdasan, karena siapapun, bahkan Ibnul Jauzi sendiripun (yang mana beIiau termasuk ulama yang berpendapat demikian), saya yakin haqqul yakin akan mengakui bahwa pendapat seperti itu murni ijtihad pribadi. Kemarin (Rabu 16 September) kebetulan saya bincang-bincang dengan salah satu dokter ahli syaraf, di Bondowoso. Saya tanya, “apakah benar jenggot itu bisa menarik syaraf yang mensuplai kecerdasan sehingga orang berjenggot atau yang terlalu panjang jenggotnya cederung bodoh?” Ketika saya bertanya demikian, si dokter langsung tertawa. Menunjukkan bahwa pendapat seperti itu secara medis sangat tidak berdasar.

Sekali lagi, terlepas dari benar tidaknya pendapat seperti itu, ada persoalan yang lebih urgen lagi menyangkut konten ceramah tersebut dan menyangkut sosok beliau KH. Said Aqil Siradj.

Pertama, menyangkut konten ceramah beliau. Sebenarnya, semenjak video ceramah tersebut marak diunggah di medsos, saya sudah menunggu klarfikasi dari beliau. Karena menurut saya, jika Said Aqil jeltelmen mengklarifikasi bahwa yang beliau maksud dalam ceramah itu adalah yang terlalu panjang jenggotnya. Adapun pemilihan kalimat yang beliau sampaikan dalam ceramah tersebut adalah “sabqul kalam”, saya kira dengan begitu saja pasti masalahnya sudah clear.

Dan benar dugaan saya, Said Aqil akhirnya mengkalrifikasi. Berikut translate klarifikasi beliau,

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh…

Memilihara jenggot adalah termasuk salah satu sunnah Rasullah SAW. Konsekuensinya orang yang memanjangkan jenggot harus mengikuti perilaku dan akhlak Rasulullah. Karena misi yang paling subtansi dari Rasulullah adalah membangun akhlakul karimah, bukan sekedar aksesoris yang menghiasi dirinya, tapi akhlaknya jauh dari perilaku akhlak mulia dan akhlak Rasullah.

Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya. Karena syaraf yang sebenarnya mendukung untuk kecerdasan otak sehingga menjadi cerdas, (karena tumbuh jenggot) akan tertarik sampai habis. Sehingga jenggotnya menjadi panjang.

Nah, orang yang berjenggot panjang, walaupun kecerdasannya berkurang, dia akan turun ke hati. Artinya orang yang berjenggot panjang adalah simbol dari orang yang hatinya sudah arif, hatinya bersih, tidak lagi mencintai harta, mencintai dunia, apalagi jabatan. Kemudian menjadi orang yang ikhlas lillahita’ala.

Oleh karena itu, apabila kita melihat ulama-ulama sufi atau para wali, itu semuanya berjenggot. Artinya kecerdasannya sudah pindah dari otak menuju hati. Orang yang berjenggot seharusnya mengikuti beliau-beliau ini. Perpanjang jenggot itu silahkan, tapi hatinya harus mulia. Tidak ada rasa takabur, tidak ada hubbu al dunya (mencintai dunia), cinta kedudukan maupun jabatan. Karena jenggot menunjukan simbol kebersihan hatinya dan simbol karifan jiwanya.

Bagi yang belum mencapai maqom tersebut, menurut saya, seyogyanya tidak memenghiasi dirinya penampilan jenggot panjang, bergamis, dan malah menjadikannya sombong akhirnya dengan penampinnya tersebut. Dia merasa paling benar, paling mengikuti sunnah rasul. Silahkan berjenggot panjang, tapi hatinya harus mulia, harus bersih dengan berakhlakul karimah”.

Namun klarifikasi ini -menurut saya- masih belum mengclearkan masalah. Justru, klarifikasi ini menjerumuskan Said Aqil sendiri ke dalam beberapa kerancuan. Perhatikan di alinea pertama dari klarifikasi ini, beliau sudah mengakui bahwa berjenggot itu sunnah Rasul. Tetapi lagi-lagi beliau kembali “membuat kekeliruan”, yaitu di alinea kedua di mana beliau menyatakan, “Masalah jenggot, menurut saya, orang yang memiliki jenggot itu mengurangi kecerdasanya”. Sudah bilang berjeenggot adalah sunnah Nabi kok masih tetap ngotot menyatakan ORANG YANG MEMILIKI JENGGOT (saya tulis dengan huruf besar karena ini titik poin yang menjadikan pernyataan beliau kontroversi) mengurangi kecerdasan?! Mana mungkin sunnah Nabi justru membawa kepada kebodohan?!

Saya kira Said Aqil sendiri -sebagai ulama yang sering kali membawa-bawa Ilmu Mantiq dalam ceramah-ceramahnya- jika beliau merenungi kembali dengan seksama klarifikasi itu niscaya beliau akan memahami kerancuan yang saya maksud tadi.

Menurut saya, untuk mengclearkan pernyataannya, sebenarnya beliau cukup menyatakan bahwa ceramahnya itu dimaksudkan untuk jenggot yang terlalu panjang. Dan bukan hanya sekedar jenggot. Toh beliau dulu juga berjenggot (sebagaimana foto beliau yang kemudian banyak diaploud oleh yang kontra beliau). Adapun kalau kalimat yang beliau pakai dalam ceramahnya itu meng-universalkan semua jenggot, baik yang biasa ataupun yang terlalu panjang, maka saya kira beliau cukup dengan menyatakan bahwa itu “sabqul kalam”. Dan masalahpun akan clear.

Tampaknya dalam masalah ini memang membutuhkan “kejantanan” Said Aqil dalam mengklarifikasi. Karena perlu diingat lagi bahwa dalam pidatonya, beliau dengan terang dan lantang menyatakan, “Tetapi kalau yang BERJENGGOT (ingat sekalilagi beliau memakai kalimat! ‘BERJENGGOT’ bukan ‘YANG TERLALU PANJANG JENGGOTNYA’) emosinya meledak-ledak. Jejjer otaknya. Karena, syaraf yang mensupport otak supaya cerdas ketarik oleh jenggotnya. Semakin panjang semakin goblok.”

Itu berkaitan dengan ceramah beliau. Selanjutnya mengenai sosok beliau. Menurut hemat saya warga NU dari Bondowoso ini, seandainya beliau sang ketua umum ini menjauh dari hal-hal yang kontroversi, misalnya kedekatannya dengan Syiah, pernyataannya yang menyatakan bahwa yang tidak merayakan Asyura adalah orang yang tidak mengerti, dan pernyataan kontroversi yang lain; juga seandainya beliau lebih hati-hati lagi dalam pemilihan kalimat dalam ceramah-ceramahnya, niscaya yang kontra beliau akan berbalik menjadi bangga. Karena, menurut saya saat ini beliau adalah termasuk tokoh NU yang patut dibanggakan. Kemampuan bahasa arab dan kitab kuningnya yang “seperti air mengalir” itu (banyak orang yang lancar Bahasa Arab, tetapi kemampuan kitab kuningnya kurang), juga beliau sebagai toko di NU yang wawasan keislamannya, terutama tentang tarikhul firaq dan kecemerlangan ilmu kalamnya sudah tidak diragukan lagi, inilah yang menyebabkan beliau patut dibanggakan.

Saya teringat kepada sebuah hadits, pada suatu ketika Nabi duduk berduaan bersama salah satu istri beliau. Kemudian di kejauhan sana ada salah seorang sahabat melintas. Nabi memanggil sahabat tersebut, seraya Nabi bersabda, “ini istriku”. Saya masih ingat kata guru saya, Abuya as Sayyid Ahmad al Maliki, kata beliau, dari hadits ini dapat kita petik sebuah hikmah, bahwa seyogyanya kita tidak melakukan hal-hal yang menjadikan kontroversi di kalangan masyarakat. Sebagaimana Nabi tidak mau membuka peluang kontroversi di hati sahabat yang melihat beliau berduaan dengan seorang wanita dari kejauhan, dengan memanggil sahabat tersebut supaya sahabat itu betul-betul yakin bahwa yang berduaan dengan Nabi itu adalah mahrom Nabi. Meskipun -hasya wa kalla- para sahabat akan berprasangka buruk kepada Nabi. Tetapi sekalilagi, Nabi melakukan seperti itu untuk mentauldankan kepada kita umatnya supaya tidak dekat-dekat dengan sesuatu yang rentan menimbulkan kontroversi. Terlebih lagi bagi umat Muhammad yang kebetulan diberi amanah sebuah kepemimpinan.

Terakhir, barangkali tulisan ini juga sampai kepada beliau sang ketua, KH. Said Aqil Siraj, maka salam ta’dzim dan ukhuwah dari saya untuk beliau. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan ma’unah dan ‘inayah kepada beliau untuk melaksanakan tugas yang sudah diamanahkan. Menuju cita-cita yang diinginkan oleh hadratus syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Salam dakwah dan ukhuwah.

Bondowoso, 3 Dzil Hijjah 1436.
Muhammad Hasan Abdul Muiz
(Alumni Masyru’ as Sayyid Ahmad bin Muhammad al Maliki)


Artikel Terkait