KH. Solahuddin Wahid: Jika PBNU Mengubah NU Ajaran Mbah Hasyim, Kita Adakan Muktamar Luar Biasa

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – KH Solahuddin Wahid (Gus Solah) mengaku siap untuk duduk bersama dengan panitia Muktamar ke-33 NU untuk menyelesaikan kisruh dan dugaan penyimpangan terhadap ajaran KH Hasyim Asy’ari.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Solah usai mengadakan pertemuan dengan sejumlah pengurus MWC NU se- Kabupaten Jombang di ndalem kesepuhan, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Menurutnya, pihaknya menemukan beberapa poin hasil muktamar yang digelar awal Agustus lalu sudah tidak sesuai dengan ajaran NU. ”Ini ada dugaan penyelewengan yang kami temukan, makanya perlu kita suarakan supaya ada tanggapan dari sana (panitia muktamar, Red). Kalau menurut mereka mengaku tidak ada, tapi ini kami temukan penyelewengan itu. Selanjutnya ayo kita duduk bareng. Menurut kami itu melanggar ajarannya mbah Hasyim dulu,” ujarnya, Selasa (15/9).

Ia menyatakan, sebenarnya permasalahan tersebut sederhana. Panitia muktamar ataupun PBNU tinggal merubah ke ajaran NU seperti hasil pemikirannya Mbah Hasyim. ”Kalau mereka mengeluarkan hasil muktamar, AD-ART seperti yang dulu, tidak masalah. Tapi kalau dipaksakan perubahannya, ya kita adakan MLB (muktamar luar biasa). Itu juga tetap berdasarkan permintaan warga NU,” lanjutnya.

Adik kandung Gus Dur itu juga menegaskan, dirinya tidak mempermasalahkan terkait kepengurusan saat ini. ”Kalau kepengurusan nantinya sudah dinyatakan sah oleh Menkum HAM, ya sudah. Walaupun kita tidak ikhlas, kita harus menyetujui. Akan tetapi, jika kepengurusan itu dinyatakan tidak sah, ya diadakan pemilihan ulang. Namun, untuk perubahan-perubahan ajaran, walaupun itu disahkan kita tidak terima. Itu yang akan kita gugat di MLB, bukan kepengurusan,” jelasnya.

Sementara Muhammad Ma’shum Zen, salah satu doktor pemerhati pemikiran ajaran NU yang hadir dalam kesempatan tersebut menyebutkan, di antara ajaran yang diduga diselewengkan itu salah satunya tentang dasar ajaran NU.

”Awalnya di NU paham keagamaannya berdasarkan Al Quran, Hadits, ijma’ dan Qiyas. Tapi ternyata di draf muktamar berbunyi, hanya menjadikan Al Quran dan Assunnah sebagai dua sumber pokok syariat Islam, dan menerima dua sumber yang lahir dari keduanya, yakni ijma’ dan qiyas,” katanya sembari menunjukkan teks tersebut.

Menurutnya, selain persoalan tersebut, masih ada lagi beberapa ajaran NU yang diselewengkan. ”Selain ini ada lagi, bisa dilihat dari redaksinya. Memang kita butuh ketelitian untuk mengkajinya,” pungkasnya. [BangsaOnline/NUgl]


Artikel Terkait