KH. Muhammad Najih (Gus Najih) Bedah Islam Nusantara Dan Konspirasi Kaum Liberal

Shortlink:

image

image

NUGarisLurus.Com – Dewan Murid Madrasah Ghozaliyyah Syafi’iyyah (DEMU MGS) yang merupakan madrasah gabungan ribuan santri dari semua pesantren se Sarang, Rembang, Jawa Tengah menggelar Kuliah Jumat perdana pada jumat siang (28/9/2015).

Narasumber dalam hajatan rutin DEMU MGS ini adalah KH. Muhammad Najih Maimoen atau Gus Najih Pengasuh Ribath Darusshohihain Pondok Pesantren Al-Anwar. Beliau hadir dengan mengusung tema ”Islam Nusantara dan konspirasi kaum liberal”. Tema yang sedang santer diperbincangkan oleh masyarakat nusantara saat ini.

Acara yang bertempat di halaman MGS ini diawali moderator dengan sedikit pengenalan serta tujuan sebenarnya makalah yang akan disampaikan narasumber. Diantara tujuan beliau adalah menghadapi gencarnya kampanye wacana Islam Nusantara yang dilakukan oleh pihak yang ingin “mensinkronkan” Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Dan juga mengusut seluk beluk Islam Nusantara dan misi apa yang diusung oleh orang-orang dibelakangnya.

Salah satu pengamalan dan syi’ar Islam Nusantara yang beliau anggap paling fenomenal adalah pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa pada acara peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara, tanggal 15 Mei 2015.

Bahkan ada pula sebuah ucapan selamat berupa karangan bunga dari sebuah Pondok Pesantren atas peresmian gereja katholik Santo Fransiskus Xaverious Cangkringan dan keikutsertaan santri pondok tersebut bermain hadroh di Gereja tersebut pada acara  yang sama pada tanggal 10 juli 2015.

Lebih lanjut lagi, sebuah studium general (kuliah Umum) untuk mahasiswa baru di STAIN Kudus pada hari selasa, 1 september 2015 juga disusupi doktrin Islam Nusantara. Dengan Tema “memperbincangkan Islam Arab dan Islam Nusantara”, Narasumber mencoba meruntuhkan satu persatu hukum-hukum islam yang sudah dibakukan dan disepakati (baca: Mujma’ ‘alaihi) oleh para ulama’.

Dalam makalah beliau yang menjadi sumber pembahasan kuliah Jum’at,  Juga diungkap penyimpangan Kiai NU seperti Gus Nuril Arifin pengasuh Pondok Soko Tunggal Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dengan berani menyebut ahlul bait keturunan nabi atau para Habaib sudah musnah. Karena semuanya keturunan Sayidina Ali sudah mati dan yang mengaku keturunan Nabi di Indonesia adalah Arab Badui.

Gus Najih juga mengutip cerita dari KH. Sholahuddin Munshif Jember yang pernah diundang acara haul di daerah Kapuas Kalimantan Tengah. Ternyata Bupati Kapuas beragama kristen menyambutnya lengkap dengan pakaian muslim dan istrinya yang juga beragama kristen menjadi Ketua Muslimat NU didaerah tersebut. Nastaghfirullah, Wanatubu Ilaih!

Beliau juga menandaskan bahwa ide-ide tentang pluralisme dan Islam Nusantara ini merupakan salah satu proyek Barat untuk menjinakkan Islam. Dalam buku berjudul Civil Democratic Islam; Partner, Reource and strategis (2003), cheryl Bernard menulis bahwa saran-saran strategis yang diberikan cheryl kepada pemerintah AS untuk menghadapi
Islam adalah sbb :

1. Ciptakan tokoh atau pemimpin panutan yang membawa nilai-nilai modernitas.
2. Dukung terciptanya masyarakat sipil di dunia Islam.
3. Kembangkan gagasan Islam warna-warni, seperti Islam Jerman, Islam Amerika, Islam Inggris dst.
4. Serang terus menerus kelompok fundamentalis dengan cara pembusukan person-personnya melalui media massa.
5. Promosikan nilai-nilai demokrasi Barat modern.
6. Tantang kelompok tradisionalis dan fundamentalis dalam soal kemakmuran, keadilan sosial, kesehatan, ketertiban masyarakat dsb.
7. Fokuskan ini semua kepada dunia pendidikan dan generasi muda Muslim.

Setelah sesi tanya jawab usai, Beliau menutup KulJum kali ini dengan kesimpulan pesan, Islam Nusantara sebenarnya adalah gambaran Islam yang tidak perlu dipermasalahkan. Islam tahlilan, yasinan, ziarah kubur, tawassul,
mauludan dan lain sebagainya, inilah Islam Nusantara, sebuah tatanan yang sudah baku mengakar di tengah-tengah umat. Sebuah Syari’at dan ajaran Islam yang dibawa para Walisongo untuk meng-Islamkan Nusantara.

Masalahnya adalah, kalau tiba-tiba istilah tersebut sekarang dimunculkan lagi, diusung dan didakwahkan oleh tokoh-tokoh nyeleneh yang sering menggembor-gemborkan ide Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme, maka hal ini akan menjadi pintu gerbang potensial untuk merusak tatatan aqidah dan Syari’at Islam.

Terakhir oleh kyai yang lahir pada tanggal kemerdekaan indonesia ini, berpesan, Untuk ikhlas dalam belajar di madrasah salaf ini, bukan sekedar niat untuk bisa membaca kitab, tapi harus disertai niat agar memperoleh hidayah dari Allah swt. Yang kita pelajari di sini adalah ajaran Islam yang sesuai dengan “Maa ana ‘alaihi wa ashabi” kalau sekarang bisa disebut ”maa filkutub assalafiyyah”. Maka dari itu kudu resik atine, kuat aqidahe, jejek keyakinane, gak sah sik seneng kejawen, lillahi ta’ala pasrah kaliyan Allah subhanahu wa ta’ala.
( Harus bersih hatinya, Lurus Aqidahnya, Jangan suka dengan kejawen, Lillahi Ta’ala tawakkal kepada Allah Subhanahu Wa ta’ala)

Wallahu Alam


Artikel Terkait