Kesyirikan Para Pemuja Dan Pengagum Gus Dur Hingga Menganggapnya Nabi

Shortlink:

image

image

Foto pengikut Gus Dur atau Gusdurian yang menganggapnya Nabi.

NUGarisLurus.Com – Fanatik buta dan menjadikan idola yang salah telah membuat para pengikut Gus Dur atau Gusdurian mendekati lembah kemusyrikan. Jika Gus Dur adalah bapak Pluralisme yang menganggap benar semua agama dan meyakininya semuanya akan masuk surga, Kini para penerus dan pengagumnya mengikuti jalan yang sama menuju gerbong kesesatan.

Mereka mencari semua aspek pembenaran atas penyimpangan dan kesesatan yang dilakukan Gus Dur selama hidupnya. Jika tidak mereka dapati ‘pembenaran’ maka jalan mengarang sebuah cerita ‘kewalian palsu’ Gus Dur adalah jalan yang halal bagi mereka. Inilah fanatik idola kebutaan mencari pegangan hidup terhadap selain Syariat Islam sebagai Agama ‘Yang paling benar’ ajaran Sayyiduna Muhammad Saw.

Seminar dan kajian pun ramai mereka biayai dan adakan hanya demi menggali pemikiran ‘nyleneh dan sesat’ Gus Dur lalu mengarang cerita atau menambahi dan penuh manipulasi soal Gus Dur yang menurut mereka mencapai derajat setengah dewa. Bukan hanya Gus Dur, Megawati ternyata juga mempunyai pengikut dan pengagum yang agak mirip dengan Gus Dur. Begitupula semacam keyakinan akan munculnya ‘Ratu Adil’ ditanah Jawa yang sering di isukan ditengah masyarakat hingga para penyanjung Jokowi yang menganggapnya tidak pernah punya salah sampai kentutnya wangi.

Berikut tulisan pembahasan KH. Luthfi Bashori yang kami kutip dari website PejuangIslam.Com dan mempunyai hubungan dengan persoalan kesyirikan diatas.

DOSA SYIRIK YANG TAK TERAMPUNKAN

Syirik adalah itikad atau perbuatan yang menyamakan sesuatu dengan Allah, atau menyembah dan bersujud kepada selain Allah.

Termasuk menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah adalah menganggap sama terhadap sifat yang menjadi kekhususan bagi Allah, seperti berdo`a kepada selain Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah kepada selain Allah misalnya menyembah berhala, atau niat berkorban (sesaji), bernadzar, berdo`a dan sebagainya kepada selain Allah.

Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. Annisaa, 48)

“Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (QS. Luqman, 13).

Sy. Abdurrahman bin Abu Bakrah RA mendengar dari bapaknya, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perhatikanlah, kuberitahukan kepada kalian tentang dosa-dosa paling besar, yaitu menyekutukan Allah,  durhaka kepada ibu-bapak,  dan sumpah palsu.” (HR. Msulim).

Nabi Muhammad Rasululah SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman, “Barangsiapa melakukan suatu perbuatan yang menyekutukan Aku dengan yang lainnya, maka amalannya kembali kepada orang yang disekutukan itu, dan Aku cuci tangan daripadanya.”  (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya.

Allah juga akan memasukkan orang-orang musyrik itu ke dalam neraka selama-lamanya, sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah Neraka, Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” (QS. Al-Maidah, 72).

Termasuk bentuk syirik di era masyarakat modern, seperti yang terjadi dalam sejarah Indonesia, yaitu tentang keyakinan akan munculnya Ratu Adil, yang menurut versi politik klenik bahwa munculnya Ratu Adil itu sebagai penyelesai persoalan negara.

Dalam sejarah disebutkan, bahwa ada laporan kepada Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1914 D.A. Rinkes, penasehat urusan bumi putera, yang mengatakan bahwa sebagian masyarakat Indonesia ternyata senang melakukan mistifikasi. Rinkers merujuk pada tersebarnya secara luas mistisisme secara khusus, ia merujuk pada mistifikasi politik yang pada waktu itu menjadi gerakan populer dengan mengangkat gerakan Hangabei dan mitos Ratu Adil.

Karena pada waktu itu, ketika masyarakat pribumi menghadapi masalah ekonomi berupa persaingan dengan usahawan Cina, pemecahan politiknya ditempuh dengan mengangkat Pangeran Hangabei untuk menarik anggota. Lantas muncullah Tjokroaminoto memimpin SI menggantikan Haji Samanhudi. Sempat pula Tjokroaminoto dipublikasikan dan dikultuskan sebagai “Ratu Adil” atau juru selamat, tujuannya untuk menarik simpati orang-orang awam. (Diringkas dari sumber tulisan Kuntowijoyo, 2001:342).

Termasuk perbuatan syirik adalah ikut melakukan ritual keagamaan non muslim.

Sebut saja ritual Barongsai sebagai contoh, maraknya tari Barongsai yang saat ini menjadi trend kembali di tengah masyarakat, maka hendaklah umat Islam mewaspadainya.

Perlu difahami, bahwa di negara Cina tarian Barongsai adalah sebagai praktek yang dilakukan oleh rahib Budha atau Tao untuk berurusan dengan masalah kerohanian mereka.

Barongsai merupakan salah satu keyakinan tradisional Cina untuk pencucian tempat/daerah. Ada beberapa arti dalam tarian Barongsai ini, yaitu menjadikan Feng Shui dianggap lebih bagus:
(Feng Shui menurut leluhur Cina, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana cara manusia untuk hidup selaras dengan alam dan lingkungan sekitar):

1. Menghilangkan energi negatif.
Suara yang nyaring dari drum dan gembrengan akan menyucikan atau membersihkan sebuah daerah/tempat yang chi/energi negatif dan jelek, menjadi energi yang baru dan bagus.
2. Mengusir roh halus yang tidak baik
Kekuatan dari tarian dan keberadaan dari barongsai akan cukup untuk mengusir roh jahat keluar dari lokasi, dan memastikan bahwa usaha yang Anda kerjakan lebih sukses.
3. Membawa keberuntungan.
Sebagai simbol kekuatan dan membawa keberuntungan, dengan keberadaan barongsai. (Sumber: http://www.tionghoa.info/barongsai).

Termasuk yang dikhawatirkan tergelincir dalam kesyirikan modern, adalah apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat dengan fanatik `over dosis` terhadap para tokoh idolanya, semisal para pengikut Megawati, saat berani “Cap Jempol Darah” sebagai bentuk kesetiaan kepada Megawati.

Atau  keyakinan terhadap Gus Dur yang dipandang oleh pengikut setianya sebagai “Manusia Setengah Dewa”.

Atau perilaku para pengidola Jokowi  saat mencalon jadi presiden, mereka menganggap Jokowi tidak mungkin berbuat salah, bahkan kentutnya pun diyakini berbau wangi.

Semoga umat Islam tetap istiqamah menjaga diri dari perbuatan yang dapat membahayakan aqidahnya.

Wallahu Alam


Artikel Terkait