Kedekatan Tokoh NU Garis Lurus Dengan Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki Rahimahullah

Shortlink:

image

Kyai Luthfi Bashori muda memijit Abuya Sayyid Muhammad Al Maliki

NUGarisLurus.Com – Tokoh sentral ‘NU Garis Lurus’ KH. Luthfi Bashori Bin KH. M. Bashori Alwi merupakan murid yang sangat dekat dengan guru panutan ulama besar Aswaja Prof. Dr  As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani Rahimahullah Ta’ala. Bahkan untuk urusan jenggot beliau pun diperhatikan oleh Abuya. Berikut kisah yang kami kutip dari website PejuangIslam.Com.

JENGGOTKU, AMANAT GURUKU

Luthfi Bashori

Terlepas pria berjenggot adalah termasuk sunnah Rasul, tentunya menurut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang keilmuannya mu`tabar dalam dunia Islam, maka penulis mempunyai riwayat tersendiri mengenai bulu jenggot yang senantiasa menghiasi pipi dan dagu penulis.

Jika ditilik dari sisi keluarga, maka penulis bukanlah berasal dari keturunan keluarga berjenggot dan berjambang tebal yang lebat, tapi hampir semua keluarga yang kebetulan memelihara jenggot, maka yang tumbuh hanyalah jenggot lumrah seperti kebanyakan jenggot milik masyarakat Jawa pada umumnya.

Saat pertama kali penulis belajar di ma`had Abuya Sayyid Muhammad Alwi Almaliki, Makkah Saudi Arabiah, maka penulis merasa senang mempunyai guru yang berjenggot tebal dan lebat, hingga beliau tampak sangat berwibawa.

Belum lagi mayoritas kaum lelaki warga Saudi Arabiah adalah para pria berjenggot, hingga terbersitlah keinginan dalam hati penulis, yang saat itu berusia 18 tahun, “Apa bisa aku menjadi pria berjenggot seperti mereka hingga tampak perkasa dan berwibawa?”

Suatu saat, tatkala penulis masih berada di ma`had Abuya Sayyid Muhammad Almaliki, penulis kebetulan memakan sesuatu yang menyebabkan timbulnya alergi pada bagian kulit kaki.

Oleh dokter diberi obat salep, sekaligus dianjurkan agar diolesi minyak zaitun pada daerah alergi.

Entah bagaimana asalnya, setelah kulit kaki yang sering diolesi minyak zaitun itu sembuh dari alergi, maka mulai ditumbuhi rambut yang lebih tebal daripada bagian kulit lainnya.

Pengalaman alami inilah yang dijadikan dasar penulis untuk menggapai keinginan menjadi pria berjenggot.

Maka sejak itu pula, setiap kali penulis akan tidur malam, tak lupa mengolesi bagian pipi dan dagu dengan minyak zaitun.

Subhanallah, dengan ikhtiyar itu, akhirnya Allah memberi rezeki kepada penulis berupa tumbuhnya jenggot dan jambang, yang sesuai harapan di masa remaja.

Maka dengan segala puja dan puji bagi Allah, penulis sangat bersyukur saat dewasa bisa menjadi pria berjenggot.

Ternyata, pertumbuhan jenggot penulis ini, pernah mendapat perhatian khusus dari guru utama penulis, yaitu Abuya Sayyid Muhammad Alwi Almaliki.

Hal ini terbukti, saat penulis berpamit untuk pulang kampung, setelah menyelesaikan belajar di ma`had Almaliki selama 8 tahun, maka Abuya Sayyid Muhammad Almaliki sempat berpesan khusus tentang jenggot penulis, beliau mengatakan yang ringkasnya:

“Hai anakku, aku senang sekali melihat jenggotmu, karena jenggotmu ini seperti jenggotnya orang-orang Arab Saudi.

Tolong yaa, nanti sesampai di Jawa, jangan pernah mencukur jenggotmu sampai bersih, seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang Jawa, tapi biarkan jenggotmu tumbuh seperti ini…!”.

Nah, sejak itulah satu-satunya pria yang tetap istiqamah memelihara jenggot dan jambang dalam anggota keluarga adalah penulis seorang.

Di samping penulis memelihara jenggot ini untuk melaksanakan perintah guru, maka yang paling penting adalah penulis dapat mengamalkan Sunnah Rasul S.A.W sebagaimana dalam riwayat:

Abdullah bin Umar berkata, Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam: “Janganlah kalian menyerupai orang-orang musyrikin, peliharalah jenggot kalian dan tipiskanlah kumis kalian”. (HR. Bukhari – Muslim – Baihaqi)


Artikel Terkait