Islam Rahmatan Lil ‘Alamin Menurut Syekh Nawawi Banten ‘Ulama Nusantara Yang Ngaji di Arab’

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al- Bantani (bahasa Arab : ﻣﺤﻤﺪ ﻧﻮﻭﻱ ﺍﻟﺠﺎﻭﻱ ﺍﻟﺒﻨﺘﻨﻲ) lahir di Tanara  Serang   – meninggal di Mekkah, 1897) adalah seorang ulama nusantara yang terkenal.

Beliau bergelar al Bantani karena ia berasal dari Banten , Indonesia. Beliau adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid , tasawuf , tafsir , dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Pada usia 15 tahun beliau menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khatib al-Sambasi , Syaikh Abdul Ghani Bima , Syaikh Yusuf Sumbulaweni , Syaikh Abdul Hamid Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati , Sayyid Ahmad Zaini Dahlan , Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al- Betawi . Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati , ulama terkemuka di Mekah . Lewat ketiga Syaikh inilah karakter dia terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan , ulama besar di Madinah.

Berjihad Melawan Belanda

Setelah beberapa tahun bermukim di Mekah, Beliau pulang ke Banten . Sampai di tanah air beliau menyaksikan praktik praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda . Beliau melihat itu semua lantaran kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihadpun berkobar. Beliau keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja Pemerintah Belanda membatasi gara- geriknya. Akhirnya beliau dilarang berkhutbah di masjid-masjid. Bahkan belakangan beliau dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan jihad terhadap penjajahan Belanda (1825- 1830 M).

Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syaikh Nawawi terpaksa menyingkir ke Negeri Mekah , tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro padam pada tahun 1830 M.

Banyak murid-muridnya dari nusantara yang belajar ke arab yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H. Hasyim Asy’ ari (Pendiri Nahdhatul Ulama ), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah ), K.H. Khalil Bangkalan , K.H. Asnawi Kudus , K.H. Tb. Bakrie Purwakarta , K.H. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.

Konon, K.H. Hasyim Asy’ari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarib penjelasan Tausyihnya dikarang oleh Syaikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati K.H. Hasyim Asy’ari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Makna Islam Rahmatan Lil ‘Alaamiin Menurut Syaikh Nawawi

Kaum liberal sering berlindung dengan jargon Islam Rahmatan Lil ‘alamin dan mengartikannya dengan makna dan tafsir yang melenceng dari tujuan asli ayat Al Qur’an.

وما ارسلناك إﻻ رحمة للعالمين

Dalam Kitab ‘Madarij As Su’uud Syarah Kitab Maulid Al Barjanji salah satu dari ratusan kitab karangan beliau, Syekh Nawawi Banten yang merupaka maha gury nusantara menjelaskan bahwa yang dimaksud Islam Rahmatan Lil ‘Alaamiin adalah:

image

“Sesungguhnya Allah mengutus nabi muhammad Shollahu ‘Alaihi Wasallam kepada manusia karena rahmat terhadap mereka didalam agama dan dunia.

Adapun dalam perkara agama karena nabi shollahu ‘Alaihi wasallama di utus sedangkan manusia jahuliyah dalam keadaan sesat yang bingung karena panjangnya masa jahiliyah tanpa ada nabi dan banyaknya perselisihan di dalam kitab -kitab mereka hingga tidak ada jalan bagi mereka menuju kebenaran.

Maka nabi pun mengajak mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menunjukkan kepada mereka jalan kebenaran Islam.

Adapun rahmat didalam perkara dunia mereka selamat dari kehinaan dan mendapatkan pertolongan karena barokah agama mereka yaitu Islam.

Jika ditanyakan, Kenapa bisa disebut rahmatan lil ‘alamiin padahal nabi membawa pedang bagi orang -orang yang angkuh sombong menentang hingga akhirnya mereka susah,  ketakutan hingga banyak dari penentang itu yang mati?

Maka jawabnya adalah; Bahwa mereka yang melawan nabi dan tidak mau ikut sesungguhnya itu kesalahan mereka sendiri karena angkuh sombong menentang dan melawan hingga menyia -nyiakan bagian mereka sendiri. Perumpamaan hal ini seperti yang disebutkan oleh Imam Az Zamakhsari: Allah telah mengalirkan air yang melimpah hingga para manusia banyak yang mengambilnya untuk mengairi kebun dan tanaman mereka akhirnya mereka golongan yang beruntung.

Namun, tersisa sebagian golongan yang tidak mau mengambil manfaat dari air tersebut dan menyia -nyiakannya.

Pada dasarnya air yang melimpah itu adalah nikmat dan rahmat dari Allah bagi kedua golongan tersebut tapi golongan yang kedua menjadikan nikmat dari Allah sebagai bencana karena mereka mengharamkan atau menghalangi diri mereka sendiri dari nikmat tersebut. Akhirnya mereka tidak mau mengambil manfaatnya.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai golongan orang -orang yang beruntung. Aamiin

Wallahu Alam


Artikel Terkait