Dosa Aqidah Khomeini, Al Albani Hingga Said Agil Siraj

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Para tokoh menyimpang mempunyai panutan tersendiri. Syiah mengikuti Khomeini, Wahhabi mengikuti Al Albani hingga Nahdliyyin yang liberal fanatik mengikuti Said Agil Siraj. Berikut dosa aqidah ketiga tokoh ini menurut KH. Luthfi Bashori yang kami kutip dari PejuangIslam.Com.

HATI RUSAK YANG MENGHITAM

Banyak di antara umat Islam yang kurang menyadari bahaya perbuatan dosa itu dapat menghitamkan hati seseorang, khususnya jika terlalu sering melanggar syariat Allah.  Seseorang yang hatinya sudah menghitam, maka akan sulit menerima kebenaran, sekalipun datangnya dari Allah maupun dari Rasulullah SAW.

Terkadang banyak pula orang menyangka, bahwa yang dimaksud perbuatan dosa itu hanyalah berkisar pada pelanggaran fisik, seperti yang diistilahkan oleh masyarakat Jawa sebagai MOLIMO (Lima Dosa Besar), yaitu: MABUK (minum arak), MAIN (berjudi), MALING (mencuri), MADAT (narkoba), MADON (berzina).

Padahal, yang namanya dosa  itu banyak macamnya, sebagaimana Sy. Nawwas bin Sam’an Al-Anshari RA menyatakan, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang arti kebajikan dan dosa. Lalu beliau SAW menjawab, “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang indah. Sebaliknya dosa adalah perbuatan yang menyesakkan dada, padahal engkau sendiri tidak mau perbuatanmu itu akan diketahui orang lain.” (HR. Muslim).

Sy. Abu Hurairah RA mengatakan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang melakukan suatu dosa, maka dalam hatinya terpatri bintik hitam. Jika ia meninggalkan dosanya itu dengan bertobat, maka hatinya kembali mengkilap (bersih). Namun jika ia sering mngulangi dosanya, bintik hitam di hatinya akan semakin bertambah, hingga hatinya tertutup oleh bintik-bintik hitam.

Bintik hitam itulah yang dimaksud dalam ayat Alquran dengan kata Raana (titik hitam), yaitu bahkan hati mereka penuh dengan Raana (titik hitam), sebab perbuatan-perbuatan dosa yang telah mereka lakukan”. (HR. Tirmdzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Adapun, dosa yang paling berbahya adalah dosa yang dilakuakna oleh hati itu sendiri, yaitu dosa yang bekaitan dengan aqidah atau keyakinan seseorang terhadap kebenaran syariat yang datang dari Allah dan disampaikan oleh Rasulullah SAW, lantas secara estafet disebarkan kepada genersi berikutnya oleh anak didik Rasulullah SAW yaitu para Shahabat ridliyallahu anhum.

Misalnya, ingkar atau ragu terhadap kemurnian dan kesempurnaan Alquran Kitab Suci umat Islam, yang ribuan tahun dan ribuan mushaf (eksemplar)  telah beredar di dunia dengan redaksi yang sama, tanpa ada sedikitpun perbedaan, apalagi disertai menghina Alquran.

Atau ingkar serta ragu terhadap ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, karena hakikatnya semua ajaran beliau SAW adalah wahyu dari Allah SWT, karena ucapan beliau SAW itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan –kepadanya-. (QS. Annajm 3-4), apalagi merendahkan kedudukan beliau SAW.

Contoh dosa-dosa aqidah yang menghitamkan hati pelakunya bahkan tidak mencerminkan keislaman maupun keimanannya:

* Khomeini tokoh Syiah yang anggap mewakili para imam Syiah, merasa lebih tinggi kedudukannya dari pada para Nabi termasuk Rasulullah SAW. Khomeini mengatakan, “Sesungguhnya di antara hal yang termasuk paling urgen dalam madzhab kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan tinggi yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat muqrrab (yang dekat kepada Allah)  dan tidak pula para nabi yang diutus”. (Lihat al-Hukumah al-Islamiyah hal. 52, karya Khomeini).

* Al-Albani, salah satu tokoh Wahhabi berani dengan kasar menyatakan Nabi Muhammad SAW itu SESAT. Al-Albani berkata, “Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang shaleh, bahwa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukumi mereka sebagai SESAT dari kebenaran, tidak ada masalah untuk menghukumi mereka sebagai sesat dari kebenaran, karena ini selaras dengan penghukuman Allah  atas Nabi Muhammad sebagai SESAT dari kebenaran, sebelum turunnya surat Ad-Dhuha ayat-7″. (Rujukan pernyataan Al-Albani ini ada dalam kitab Fatawa Al-Albani, 432).

* Said Aqil Siraj, tokoh Liberalisme juga berani menvonis Nabi Muhammad SAW itu SALAH saat membahas Hadist Nabi Muhammad SAW riwayat Imam Tirmidzi tentang akan terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan. Said Aqil Siraj mengatakan, “Kalau hadits itu shahih dan memang 73 golongan terjadi persis, jelas Rasulullah SALAH…!”. (Silahkan merujuk Aula, April 1996, hal. 73).

Wallahu Alam


Artikel Terkait