Uang, Ujian Terberat Bagi Kiai

Shortlink:

annahl_16“Wa bi al-najm hum yahtadun”. Bintang itu sebagai pemandu para musafir agar tidak sesat jalan. Nabi Muhammad SAW menambahi, bahwa para sahabatku bagai bintang. Yang mana saja anda jadikan pemandu, anda pasti benar dan tidak bakalan sesat. Begitu halnya para ulama, dinobatkan sebagai pewaris para Nabi.

Tapi di sisi lain ada peringatan, bahwa pada akhir zaman sedikit sekali orang yang memegangi prinsip keagamaan. Sangat berat orang bertegang teguh pada keimanan seperti memegang bara api di genggaman. Lebih dari itu diisyaratkan bahwa umat islam akan menjadi bulan-bulanan, menjadi santapan empuk bagi orang lain, bagai hidangan yang dikerumuni para penyantap.

Nabi menjelaskan, itu semua bukan karena jumah mereka sedikit, melainkan karena sudah terserang virus wahn yang melumpuhkan iman, yaitu: Hubb al-Dunya (mencintai dunia) dan Karahiyah al-maut (tak siap mati).

Begitulah wejangan Rasulullah SAW kepada para pewarisnya secara khusus dan kepada umatnya secara umum. Ditunjukkan betapa mulia para pewarisnya di hadapan Tuhan, betapa terhormatnya martabat mereka menurut pandangan agama, tapi juga diberi warning, bahwa tidak semudah itu mengampu amanat agama. Godaan sangat banyak dan berat. Ya, karena tidak ada orang beriman, apalagi yang menggagas derajat tinggi tanpa ujian. Pohon menjadi tumbuh subur dan besar setelah melampaui terpaan angin bertubi-tubi, setelah lolos dari hama yang menggerogoti.

Zaman orde baru dulu penulis pernah ikut seminar membahas kiprah kaum nahdliyin di era pembangunan. Pembicaraan menyangkut banyak hal dan yang menarik adalah mengungkap betapa pemerintahan Golkar mepetakan kiai NU dalam level-level. Dari level presiden hingga bupati.

Yang mengejutkan adalah, pembicara itu dengan suara lantang berkata: “Ingin melemahkan kiai, beri uang!”. Tentu banyak peserta tidak terima dan kegaduhan terjadi. Kemudian mereda setelah pembicara menyajikan data sekian banyak. Ya, tapi tidak semua kiai seperti itu.

Rasanya itu bukan statement politikus atau penguasa pintar saja. Justru itu adalah sabda Rasulullah SAW sekian abad lalu, di mana beliau telah memberi peringatan senada. Hanya saja, para penguasa bersikap cerdas dan memanfaatkan Hadis itu untuk kepentingan politik dan kekuasaannya. Sementara sebagian para kiai kurang perhatian dan merasa Hadis tersebut bukan menasehati dirinya, melainkan menasehati kiai lain.

Sekarang, sejalan dengan perkembangan politik yang serba menuntut kos tinggi, jamiyah keagamaan, organisasi sosial keagamaan, makin besar makin dimintai oleh penguasa atau calon penguasa. Makin banyak anggotanya, makain tinggi nilai jualnya. Itulah sebabnya, maka semisal NU kini menjadi seksi dan diperebutkan. Bahkan berani mengeluarkan uang milyaran, tega bermain curang dan menjahati rival demi bisa memimpin NU.

Dunia ini sudah mencatat betapa tidak amanahnya banyak pemimpin agama soal uang amanah. Ingat zaman krisis moneter dulu, tragedi KUT yang melibatkan banyak tokoh agama. Untung belum ada KPK, lalu kasus perlahan menguap.

Semoga Allah SWT menutupi aib para kiai yang tidak amanah tempo dulu, mengampuni segala dosanya dan menaburi mereka dengan rahmat dan kasih-Nya. Jadi, umumnya para kiai yang lulus diuji istiqamah, mengaji, mengajar, wiridan dan semua aktifitas keagamaan, tapi sedikit yang lulus diuji uang. Begitu isyarat dawuhe kanjeng nabi, seperti tertera pada Hadis di atas.


Artikel Terkait