Tulisan Ilmiah Ustadz Idrus Ramli Seri V: Said Agil Tuding Dakwah Nabi Bermuatan Politis

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Tulisan ilmiah pakar Aswaja NU Center Jatim Ustadz Muhammad Idrus Ramli semakin menarik dan dalam. Dalam rangka mengungkap pembusukan NU dari dalam yang dilakukan oleh Said Agil Siraj (SAS) dengan menyebarkan penyimpangan aqidah melalui buku -bukunya.

Bahkan buku Said Agil yang menyimpang ini disebarkan oleh LTB PBNU melalui hasil editor Ahmad Baso, penulis buku tentang Islam Nusantara. Tulisan bantahan dari Ustadz Idrus dan dalam rangka melindungi aqidah Aswaja ini sudah memasuki seri V ditulis langsung melalui akun pribadi faceebook.

ISLAM DAN MUATAN POLITIS

Jawaban Terhadap Kaum Orientalis (bagian V)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terang-terangan dalam dakwahnya, dan penduduk Makkah semakin banyak yang memeluk Islam, kaum Kuffar Quraisy melakukan segala macam cara untuk menghambat dakwah beliau. Ibnu Hisyam, sejarawan terkemuka, meriwayatkan dalam kitabnya al-Sirah al-Nabawiyyah, bahwa suatu ketika Utbah bin Rabi’ah, salah seorang tokoh Quraisy yang disegani memanggil orang-orang Quraisy agar berkumpul kepadanya.

Setelah mereka berkumpul, Utbah berkata kepada mereka: “Wahai orang-orang Quraisy, seandainya aku mendatangi Muhammad, lalu aku berbicara kepadanya.

Akan aku tawarkan beberapa hal kepada Muhammad, barangkali ia akan menerima sebagian tawaran itu.

Jika ia menerima, kita berikan tawaran itu kepadanya, dengan kompensasi, Muhammad tidak lagi membicarakan agama kita.” Mereka menjawab: “Iya, Aba al-Walid (panggilan akrab Utbah bin Rabi’ah). Datangilah Muhammad, ajak ia berbicara. Barangkali dapat menerima tawaran kita.” 

Lalu Utbah berangkat mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah duduk bersama beliau, Utbah membuka pembicaraan dengan berkata: “Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya kedudukan engkau di antara kami sangat mulia dan memiliki posisi nasab yang luhur. Sesungguhnya engkau telah membawa perkara yang besar kepada kaummu, yang memecah belah persatuan mereka dan memaki-maki tokoh-tokoh mereka. Tolong dengarkan ucapanku. Aku akan menawarkan beberapa hal kepadamu. Kamu pikirkan beberapa tawaran itu. Barangkali kamu dapat menerima sebagian tawaran kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Katakanlah wahai Abal Walid. Aku akan mendengarkan perkataanmu.”

Lalu Utbah berkata: “Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya jika engkau hanya menghendaki harta dengan agama baru yang kamu bawa kepada kami, kami akan mengumpulkan sebagian harta kami untukmu sehingga kamu menjadi orang yang paling banyak hartanya di antara kami. Jika kamu berdakwah karena menginginkan kemuliaan, maka kami akan menjadikanmu sebagai pemimpin kami, sehingga setiap urusan kami akan diputuskan bersama kamu.

Jika kamu berdakwah karena menginginkan kerajaan, maka kami akan mengangkatmu sebagai raja. Dan apabila yang datang kepadamu itu makhluk halus yang tidak mampu kamu tolak dari dirimu, maka kami akan mencarikan pengobatan untukmu, dan kami akan mengorbankan harta kami untuk kesembuhanmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu telah selesai berbicara wahai Aba al-Walid?” Utbah menjawab: “Ya, selesai.” Lalu beliau berkata: “Dengarkan ucapanku”. Lalu beliau membaca surah Fushshilat, sehingga setelah sampai pada ayat:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (13)

Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum Ad dan kaum Tsamud”. (QS Fushshilat [41]: 13).

Setelah sampai pada ayat tersebut, Utbah menahan mulut Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam dan meminta beliau tidak meneruskan bacaannya. Utbah khawatir ancaman yang terkandung dalam ayat tersebut akan benar-benar terjadi kepada kaum Quraisy.

Setelah kejadian itu, Utbah kembali kepada kaumnya. Setelah ia duduk bersama mereka, mereka berkata: “Bagaimana pembicaraanmu dengan Muhammad wahai Aba al-Walid?” Ia menjawab: “Hasilnya, sesungguhnya aku telah mendengar suatu firman yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Demi Allah, firman tersebut bukan syair, bukan sihir dan bukan peramalan. Wahai orang-orang Quraisy. Taatilah ucapanku. Biarkan Muhammad meneruskan dakwahnya. Demi Allah, firman yang dibacakannya akan membuktikan terjadinya berita yang besar.

Apabila ia (Muhammad) berhasil dibunuh oleh orang-orang Arab selain kalian, berarti kalian telah dicukupkan oleh mereka. Tapi apabila Muhammad ini menang melawan bangsa Arab, maka kerajaannya adalah kerajaan kalian. Kemuliaannya juga kemuliaan kalian.”

Mendengar ucapan Utbah, mereka berkata: “Demi Allah, Muhammad telah benar-benar menyihirmu dengan lidahnya wahai Aba al-Walid.”

Utbah berkata: “Ini pendapat saya mengenai Muhammad. Silahkan, kalian lakukan apa yang kalian kehendaki.”

Al-Thabari, Ibnu Katsir dan sejarawan lainnya juga meriwayatkan, bahwa beberapa orang dari tokoh-tokoh Quraisy, antara lain Walid bin Mughirah dan Ashi bin Wail, mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka mengajukan beberapa tawaran seperti tawaran Utbah bin Rabi’ah sebelumnya, dengan kompensasi agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memaki-maki tuhan-tuhan mereka, dan tidak menganggap bodoh tradisi-tradisi mereka yang tidak rasional. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jawaban kepada mereka:

“Aku tidak memerlukan apa yang kalian ucapkan. Aku tidaklah datang membawa misi yang aku bawa kepada kalian dengan tujuan mencari harta kekayaan, atau menginginkan kemuliaan di tengah-tengah kalian dan atau ingin menjadi raja kepada kalian. Akan tetapi Allah mengutusku kepada kalian sebagai seorang Rasul. Dia telah menurunkan kepadaku suatu kitab, dan memerintahkanku menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Lalu aku sampaikan pesan-pesan Tuhanku kepada kalian dan aku bermaksud baik buat kalian. Maka apabila kalian menerima apa yang aku bawa kepada kalian, maka itulah bagian kalian di dunia dan akhirat. Dan apabila kalian menolak ajakanku, aku akan bersabar karena perintah Allah sehingga Allah memutuskan antara aku dengan kalian.”

Demikianlah sebagian fragmen dari kisah kesejarahan perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah. Kisah tersebut memberikan pelajaran kepada kita tentang beberapa hal:

Pertama, hakikat dakwah Islam yang dijalankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah murni risalah samawi (dari langit), di mana beliau diutus sebagai Rasul, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dengan menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan Allah yang diwahyukan di dalam al-Qur’an.

Kedua, dakwah Islam yang dijalankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memuat ambisi pribadi dan ambisi keluarga beliau. Misalnya ambisi untuk menjadi seorang raja, menjadi orang yang kaya raya, menjadi orang yang paling berpengaruh di tengah-tengah kaumnya dan atau karena faktor halusinasi yang tidak bisa mampu beliau atasi. 

Ketiga, orang yang memiliki idealisme dalam berdakwah selalu dihadapkan dengan ujian dan rintangan, termasuk ujian yang berupa tawaran jabatan, kekayaan dan benda-benda materi lainnya, asalkan mengurangi idealismenya dalam berdakwah. Dewasa ini kita saksikan, beberapa aktivis Islam, yang semula bersih dalam berdakwah, visi dakwahnya menjadi agak redup dan terkadang ternodai oleh hal-hal yang negatif akibat menerima bantual finansial dari kelompok yang berkepentingan.

Keempat, dalam berdakwah agar target dakwahnya tercapai dengan baik, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menghalalkan segala cara. Di satu sisi, syariat Islam mengharuskan kita dalam berdakwah memiliki target-target yang baik. Akan tetapi di sisi lain, cara-cara atau wasilah kita dalam berdakwah juga haruslah baik. Target harus baik, cara juga harus baik. Seandainya target yang baik membenarkan cara apapun dalam berdakwah, tentu bisa saja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam akan menerima tawaran mereka menjadi raja. Kemudian setelah kekuasaan ada di tangan, agama disebarkan melalui mesin kekuasaan sedikit demi sedikit. Lebih-lebih hegemoni kekuasaan memiliki pengaruh yang kuat terhadap masyarakat. Kita amati, banyak orang-orang yang memiliki madzhab dan aliran tertentu, menyebarkan pahamnya melalui mesin kekuasaan. Akan tetapi hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena hal tersebut bertentangan dengan esensi dakwah beliau. 

Seandainya cara seperti itu termasuk bagian dari kearifan kondisional dan siasat yang baik, tentu akan mengaburkan perbedaan antara seorang dai yang jujur dalam dakwahnya dengan seorang pembohong yang menipu dalam siasatnya.

Kelima, kelompok yang berpaham materialistik sepeti kaum kafir Quraisy selalu berburuk sangka terhadap dakwah Islam yang dijalankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti berasumsi bahwa dakwah beliau ditunggangi oleh kepentingan pribadi, mencari jabatan dan kekuasaan, ambisi politik sebagai raja dan semacamnya. Tuduhan semacam ini juga dihembuskan oleh kaum orientalis Barat sejak beberapa waktu yang lalu seperti Von Kremer dan Van Vloten yang terus berusaha menanamkan keragu-raguan di tengah-tengah kaum Muslimin tentang esensi dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kaum orientalis menyebarkan tuduhan keji bahwa dakwan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sarat dengan muatan politis kekuasaan dan kerajaan. Tentu saja asumsi tersebut sangat tidak masuk akal. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menolak semua tawaran orang-orang Quraisy, meskipun mereka telah melakukan ancaman, intimidasi dan gangguan terhadap pribadi, keluarga dan orang-orang yang menjadi pengikutnya pada saat itu.

Dewasa ini, ada juga sebagian orang yang mengaku Muslim, tetapi melancarkan tuduhan negatif terhadap dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia terpengaruh dengan paham kaum orientalis yang mengikuti pemikiran orang-orang materialistik kaum kafir Quraisy. Adalah Said Aqil Siroj (SAS) yang mengatakan dalam bukunya, Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam Lintas Sejarah (ASJDLS), terbitan LKPSM Yogyakarta, tahun 1997, halaman 29 mengatakan:

“Menurut banyak referensi sejarah Islam, kehadiran Islam sejak semula telah sarat dengan muatan-muatan politis”. (AWJDLS hlm 29).

Pernyataan tersebut telah diulang lebih halus oleh SAS dalam bukunya, yang berjudul TASAWUF SEBAGAI KRITIK SOSIAL; MENGEDEPANKAN ISLAM SEBAGAI INSPIRASI, BUKAN ASPIRASI (TSKS MISIBA), terbitan resmi Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) pada tahuan 2012, dengan editor Ahmad Baso, halaman 77 sebagai berikut ini:

“Kehidupan manusia sarat dengan nuansa siyasah (politis). Ruang gerak siyasah ini tentu tidak bisa ditilik dari satu visi saja. Visi eksternal yang dikedepankan oleh komunitas yang berada di luar garis “Islam” (kuffar-musyrik) sering diangkat. Yang lebih penting juga adalah visi internal dalam batas lintas sekte (mazhab, firqah) dalam Islam. Visi eksternal ini tampak dari kisah yang dituturkan oleh Ibn Al-Atsir berikut: Afif Al-Kindi, salah seorang pedagang, pernah datang ke Makkah pada satu musim haji. Dia menyaksikan seorang laki-laki (maksudnya Nabi Muhammad Saw) sedang shalat menghadap kiblat, disusul seorang perempuan (Siti Khadijah) dan seorang pemuda (Ali ibn Abi Thalib). Kemudian Afif bertanya kepada Abbas, paman Nabi Saw, yang saat itu belum masuk Islam: “Agama apa ini?” Abbas menjawab: “Ini Muhammad ibn Abdullah, keponakanku, dan dia mengaku sebagai utusan Allah yang berobsesi menggulingkan Persia dan Romawi.” (TSKS MISIBA hlm 77-78).

Setelah mengutip riwayat dari Afif al-Kindi tersebut, SAS menjelaskan: “Kisah ini seringkali dianggap sebagai bukti bahwa dakwah Rasulullah SAW, sejak pertama kali telah bertendensi politik, yakni obsesi untuk menaklukkan imperium Persia dan Romawi (Bizantium) sebagai adikuasa dunia saat itu.” (AWJDLS hlm 30).

Dalam paparan di atas SAS memberikan kesimpulan bahwa kehadiran Islam sejak pertama kali telah sarat dengan muatan politis. Tentu saja, yang diamaksud SAS adalah dakwah Islam yang dijalankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berdasarkan riwayat dari Afif al-Kindi tersebut. Pertanyaan yang patut kita ajukan di sini adalah, bisakah riwayat dari Afif al-Kindi tersebut dijadikan dalil bahwa kehadiran Islam sejak pertama kali sarat dengan muatan politis? Jawabannya, jelas tidak bisa karena beberapa alasan:

Pertama, riwayat dari Afif al-Kindi di atas, disebutkan oleh Ibn al-Atsir dalam tarikhnya tanpa sanad. Sementara riwayat yang sama, yang disebutkan dengan sanad, telah didha’ifkan oleh al-Imam al-Bukhari, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah (juz 4 hlm 516), ketika menyebutkan biografi Afif. Dalam sanad riwayat tersebut terdapat perawi yang bernama Yahya bin Abi al-Asy’ats, seorang perawi yang majhul. Sebagaimana dimaklumi, hadits dha’if tidak dapat dijadikan hujjah dalam hukum fiqih, apalagi dalam hal yang sangat prinsip, yaitu Islam secara universal.

Kedua, seandainya riwayat dari Afif al-Kindi di atas shahih, maka harus dilihat dengan cermat bahwa kesimpulan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berobsesi menggulingkan Persia dan Romawi dalam dakwahnya, adalah kesimpulan Abbas yang masih musyrik dan belum masuk Islam. Sebagaimana dimaklumi, orang-orang musyrik Quraisy banyak yang berburuk sangka terhadap dakwah beliau, yang mereka anggap sarat muatan politis, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat di atas.

Ketiga, riwayat dari Afif al-Kindi tersebut –seandainya shahih-, masih dapat dipahami bahwa dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bermuatan politis. Mengingat bahwa riwayat tersebut bersenyawa dan berkaitan erat dengan informasi al-Qur’an tentang dialog antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kaum Musyrik Quraisy. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَقَالُوا إِنْ نَتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ. (القصص : 57).

“Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami”. Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” 

Al-Hafizh Ibnu Katsir, pakar tafsir terkemuka menjelaskan, sebab nuzulnya ayat tersebut, bahwa suatu ketika orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika kami mengikuti agamamu dan berbeda dengan agama suku-suku Arab di luar Tanah Suci, kami takut mereka akan mengganggu dan memerangi kami, serta mengusir kami dari tempat tinggal kami.” Merespon alasan yang dibuat-buat oleh kuffar Quraisy tersebut Allah berfirman: “Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman”. Maksud dari ayat tersebut adalah, bahwa alasan yang dikemukakan oleh kuffar Quraisy tersebut bahwa penghalang mereka untuk masuk Islam adalah faktor keamanan yang akan mengancam mereka, jelas alasan bohong dan mengada-ada. Sebab apabila Allah memberikan jaminan keamanan kepada mereka selaku penjaga tanah suci, pada saat mereka masih kafir dan musyrik, bagaimana mungkin Allah tidak menjamin keamanan mereka setelah masuk Islam dan mengikuti kebenaran. Sungguh hal ini sangat tidak mungkin. (Tafsir Ibn Katsir, juz 6 hlm 222). Dari sini dapat dipahami, bahwa riwayat dari Afif al-Kindi di atas bersenyawa dengan ayat tersebut.

Menemukan korelasi ayat tersebut, dengan kisah Afif al-Kindi di atas, sangat mudah didapatkan tanpa merusak kesucian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah Islam yang dibawanya. Pada saat awal-awal Islam, Persia dan Romawi adalah adikuasa dunia yang siap menyerang siapapun yang berani berbeda dengan mereka. Selain juga isu-isu ketakutan kuffar Quraisy terhadap suku-suku Arab di sekitarnya apabila mereka berbeda agama juga menjadi perbincangan. Merespon terhadap ketakutan kaum Quraisy terhadap suku-suku Arab di sekitar mereka, serta isu-isu ancaman Persia dan Romawi apabila berbeda agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru menjelaskan: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah bersamaku, kalian akan menguasai bangsa Arab, dan orang-orang ajami akan membayar upeti kepada kalian.” Maksudnya, jika kalian masuk Islam, ketakutan kalian terhadap suku-suku Arab dan bangsa Ajami itu akan hilang, dan justru kalian akan menguasai Arab dan menggulingkan Persia dan Romawi. Kisah-kisah kesejarahan semacam ini banyak sekali ditemukan dalam riwayat kitab-kitab hadits dan sejarah.

Dengan demikian, kesimpulan SAS dari riwayat Afif al-Kindi di atas, bahwa kehadiran dakwah Islam sejak pertama kali sarat dengan muatas politis, termasuk pelintiran dan distorsi terhadap teks kesejarahan. Kesimpulan tersebut hanya mengambil bagian kecil dari riwayat kesejarahan, dan mengabaikan penjelasan ayat al-Qur’an dan sekian banyak riwayat yang menjelaskan maksud riwayat Afif al-Kindi tersebut dengan pemahaman yang benar. Kesimpulan tersebut sebagai bentuk subordinasi dan taklid terhadap kaum orientalis Barat dan kaum kuffar Quraisy. Tentu saja kesimpulan tersebut juga merusak kesucian dakwah dan pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bebas dari nuansa dan ambisi politis. Dalam tulisan ini tidak akan menjelaskan hukum orang yang merusak kesucian dakwah dan pribadi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya. 

Ada satu pertanyaan yang patut diajukan di sini. Apa tujuan SAS mengikuti kaum orientalis dan kuffar Quraisy dengan berkesimpulan bahwa kehadiran Islam sejak pertama kali sarat dengan muatan politis? Jawabannya, insya Allah menyusul. Wallahu a’lam.

Muhammad Idrus Ramli
Bersambung …

Wallahu Alam


Artikel Terkait