Tulisan Ilmiah ke-III Ustadz Idrus Ramli: Pembusukan NU Dari Dalam Oleh Said Agil

Shortlink:

image

NUGarisLurus – Tulisan ketiga Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur Kiai Muhammad Idrus Ramli tentang pembusukan NU dari dalam oleh Said Agil Siraj (SAS). Tulisan ini untuk menolak isi buku Ketua umum PBNU yang di sebarkan oleh LTN PBNU tentang pencampuran tauhid Islam dengan agama lain yang kafir.

Tabayun sudah pernah dilakukan Forum Ulama Muda (FKM Jawa Timur) dengan ratusan Kiai di Sidoarjo pada Tahun 2010. Saat itu, Said Agil sudah mengakui kesalahan bukunya dan bersedia merevisi tapi ternyata di cetak ulang dan kembali di sebarkan.

Karena belum ada Kiai yang peduli untuk menolaknya, Maka Ustadz Idrus Ramli yang berjuluk “Pendekar Aswaja” pun turun tangan meskipun hanya melalui media facebook. Banyak cacian ditujukan untuk beliau dari pengikut SAS namun beliau Ustadz Idrus tidak gentar.

SAID AQIL SIROJ DAN PEMBUSUKAN NU DARI DALAM (iii)

Serial Liberalisasi NU dari Dalam Catatan ini mengomentari buku Said Aqil Siroj (SAS), yang berjudul TASAWUF SEBAGAI KRITIK SOSIAL; MENGEDEPANKAN ISLAM SEBAGAI INSPIRASI, BUKAN ASPIRASI (TSKS MISIBA), terbitan resmi Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) pada tahuan 2012, dengan editor Ahmad Baso, halaman 310.

SAS: Lalu, bagaimana dengan Ukhuwah Islamiyah? Al-Quran sekalipun tidak menyinggung soal menganjurkan “ukhuwwah Islamiyah”. Justru yang ditekankan adalah persaudaraan seiman, seperti disebut dalam ayat: “Innamal mu’minuna ikhwah fa ashlihu baina akhawaikum wattaqullah la’allakum turhamun” (QS Al-Hujurat [49]: 10) (Umat beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara kalian, peganglah komitmen kalian kepada Allah, agar kalian mendapatkan rahmat Tuhan). (TSKS MISIBA halaman 310).

NU: Dalam pernyataan di atas SAS menafikan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar umat Islam) sebagai hal yang dianjurkan dalam al-Qur’an. Pertanyaan kami, benarkah al-Qur’an tidak menyinggung soal menganjurkan ukhuwwah Islamiyyah? Lalu bagaimana SAS menanggapi ayat berikut ini:
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Jika mereka bertobat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui. (QS Al-Taubah [9]: 11).

ادْعُوهُمْ لآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ
Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. (QS Al-Ahzab [33]: 5).

Dalam kedua ayat di atas ditegaskan tentang adanya saudara seagama dan sekaligus anjuran ikatan saudara seagama. Sedangkan agama yang dimaksudkan dalam kedua ayat tersebut, tentu agama Islam. Karena agama yang diakui oleh Allah dalam al-Quran hanyalah agama Islam. Allah berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Alu-Imran [3]: 85).

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإسْلامُ
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS Alu-Imran [3]: 19).

فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS al-An’am : 125).

Berdasarkan ayat-ayat di atas, bukankah dengan demikian Al-Quran telah menyinggung saudara seagama, yaitu ukhuwwah Islamiyah? Kalau SAS belum puas dengan penjelasan Al-Quran di atas, silahkan SAS periksa hadits-hadits berikut ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. متفق عليه رواه البخاري ومسلم.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara dengan sesama Muslim. Ia tidak akan menganiaya dan tidak akan mengabaikan saudaranya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dari seorang Muslim, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan darinya di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutupinya pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim).

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لا تَحاسَدُوا، وَلا تَناجَشُوا، وَلا تَباغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلا يَبع بَعْضُكُمْ على بيع بَعْضٍ وكُونُوا عِبادَ الله إخْوانًا، الـمُسلِمُ أخُو الـمُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ وَلا يَخْذُلُهُ وَلا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنا ـ ويشيرُ إلى صدره ثلاثًا ـ بِحَسْبِ امْرىء مِنَ الشَّرّ أنْ يَحْقِرَ أخاهُ الـمُسْلِمَ، كُلُّ الـمُسْلِمِ على الـمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ ومَالُهُ وَعِرْضُهُ)). رواه مسلم وغيره.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian saling iri hati. Janganlah kalian saling menyaingi. Janganlah kalian saling membenci. Janganlah kalian saling membelakangi. Janganlah sebagian kalian menjual atas jualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara dengan sesama Muslim. Ia tidak akan menganiayanya. Ia tidak akan mengabaikannya. Ia tidak akan meremehkannya. Ketakwaan ada di sini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil menunjuk ke dada beliau tiga kali). Cukuplah sebagai keburukan bagi seseorang dengan meremehkan saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim diharamkan atas saudaranya sesama Muslim; yaitu darahnya, hartanya dan harga dirinya.” (HR. Muslim dan lain-lain).

Kedua hadits di atas, dan hadits-hadits lain yang tidak kami sebutkan di sini, menegaskan adanya saudara seagama atau seislam, ukhuwwah islamiyyah. Dengan demikian, penafian SAS terhadap ukhuwwah Islamiyah dari al-Quran dan hadits adakalanya disengaja, maka hal ini jelas kekufuran. Al-Imam al-Nasafi berkata:

وَرَدُّ النُّصُوْصِ كُفْرٌ
“Menolak nash-nash al-Qur’an adalah kekufuran.”
Al-Imam al-Qadhi Iyadh berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَنِ اسْتَخَفَّ بِالْقُرْآَنِ أَوِ الْمُصْحَفِ أَوْ بِشَيْءٍ مِنْهُ … أَوْ أَثْبَتَ مَا نَفَاهُ أَوْ نَفَى مَا أَثْبَتَهُ عَلىَ عِلْمٍ مِنْهُ بِذَلِكَ أَوْ شَكَّ فِيْ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ كَافِرٌ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِإِجْمَاعٍ قَالَ اللهُ تَعَالَى (وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيْزٌ لاَ يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلاَ مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيْلٌ مِنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ)

Ketahuilah, sesungguhnya orang yang meremehkan al-Quran, atau mushhaf, atau sesuatu dari al-Quran … atau menetapkan sesuatu yang dinafikan al-Qur’an, atau menafikan sesuatu yang ditetapkan al-Quran dengan sepengetahuannya terhadap hal tersebut, atau meragukan sesuatu dari hal tersebut, maka orang itu adalah orang kafir menurut ahli ilmu dengan ijma’. Allah ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Al-Qadhi Iyadh, al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 2 hlm 304).

Al-Imam al-Nawawi berkata:

وَأَنَّ مَنْ دَافَعَ نَصَّ الْكِتَابِ أَوِ السُّنَّةِ الْمَقْطُوْعِ بِهَا الْمَحْمُوْلَ عَلىَ ظَاهِرِهِ فَهُوَ كَافِرٌ بِاْلإِجْمَاعِ
Sesungguhnya orang yang menolak nash al-Quran atau sunnah yang pasti yang dibawa pada makna literalnya adalah kafir berdasarkan ijma’. (Al-Imam al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, juz 7 hlm 289).

Paparan para ulama di atas mengantarkan pada kesimpulan, bahwa orang yang menafikan atau menolak sesuatu yang ditetapkan dalam al-Quran dan sunnah yang qath’iy adalah kafir berdasarkan ijma’.

Pertanyaannya, apakah SAS berarti dihukumi kafir karena menafikan ukhuwah Islamiyah yang ditetapkan dalam al-Quran dan hadits? Hemat kami, pembaca dapat menjawab pertanyaan ini dengan hati nurani yang jernih.

Di sini ada pertanyaan, bagaimana seandainya SAS menafikan ukhuwah Islamiyah dalam al-Quran karena tidak tahu? Menjawab pertanyaan ini, mari kita cermati ucapan al-Imam Syihabuddin al-Khafaji al-Syafi’i berikut ini:

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (مَنْ جَحَدَ أَيْ أَنْكَرَ آَيَةً مِنْ كِتَابِ اللهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ لَمْ يَقْرُبْ عَهْدُ إِسْلاَمِهِمْ فَقَدْ حَلَّ ضَرْبَ عُنُقِهِ) أَيْ قَتْلُهُ لِتَكْذِيْبِهِ للهِ وَرَسُوْلِهِ
Dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mengingkari satu ayat dari al-Quran dari kaum Muslimin yang tidak baru masuk Islam, maka benar-benar halal memukul lehernya, yakni membunuhnya, karena orang tersebut mendustakan Allah dan Rasul-Nya.” (Syihabuddin al-Khafaji, Nasim al-Riyadh, juz 6 hlm 420).

Al-Imam al-Nawawi berkata:

فَكُلُّ هَذَا أَوْ شِبْهِهِ لاَ شَكَّ فِيْ تَكْفِيْرِ قَائِلِهِ إِنْ كَانَ مِمَّنْ يُظَنُّ بِهِ عِلْمُ ذَلِكَ وَمَنْ طَالَتْ صُحْبَتُهُ الْمُسْلِمِيْنَ فَإِنْ كَانَ قَرِيْبَ عَهْدٍ بِإِسْلاَمٍ أَوْ بِمُخَالَطَةِ الْمُسْلِمِيْنَ عَرَّفْنَاهُ ذَلِكَ وَلاَ يُعْذَرُ بَعْدَ التَّعْرِيْفِ
Semua hal tersebut (ucapan-ucapan yang menyebabkan murtad) atau yang serupa dengannya, tidak diragukan dalam menghukumi kafir orang yang mengucapkannya, apabila orang tersebut termasuk orang yang diduga kuat mengetahuinya, dan orang yang lama bersahabat dengan kaum Muslimin. Maka apabila orang tersebut baru masuk Islam atau baru berbaur dengan kaum Muslimin, maka kita beritahukan tentang hukum hal tersebut, dan tidak bisa diterima alasan tidak tahu setelah diberitahu. (Al-Imam al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, juz 7 hlm 290).

Paparan di atas memberikan kesimpulan, bahwa orang yang mengucapkan kata-kata murtad di atas dihukumi kafir dan murtad, apabila:

1) orang tersebut diduga kuat mengetahuinya. Terkait dengan SAS, sebagian besar orang pasti meyakini bahwa SAS mengetahui.

2) orang yang lama bersahabat dengan kaum Muslimin. Terkait dengan SAS, sejak lahir memang hidup dengan kaum Muslimin dan mengerti agama.
Di sisi lain, orang yang mengucapkan perkataan murtad di atas, tidak dihukumi murtad apabila:

1) orang tersebut baru masuk Islam. Tentu kriteria ini tidak berlaku bagi SAS.

2) orang yang baru bergaul dengan kaum Muslimin. Kriteria ini juga tidak berlaku bagi SAS.

Dengan demikian, apakah pernyataan SAS yang menafikan penjelasan al-Qur’an dan Hadits tentang ukhuwwah Islamiyah dengan alasan tidak tahu, dapat menyebabkan kekafiran dan kekufuran? Hemat kami, pembaca dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan hati nurani yang jernih.
Di sini ada pertanyaan, mengapa SAS menafikan persaudaraan seagama, dan mengalihkan pada persaudaraan seiman? Jelas maksud SAS adalah mengajak umat Islam agar keluar dari ajaran Islam dan mengikuti ajaran liberal, dengan menerapkan persaudaraan orang-orang beriman dengan kepercayaan dan keimanan kepada apa pun sebagaimana dapat dibaca dari alur buku yang ditulisnya. Anda jangan tertipu dengan pernyataan SAS berikut ini:

“Justru yang ditekankan adalah persaudaraan seiman, seperti disebut dalam ayat: “Innamal mu’minuna ikhwah fa ashlihu baina akhawaikum wattaqullah la’allakum turhamun” (QS Al-Hujurat [49]: 10) (Umat beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudara kalian, peganglah komitmen kalian kepada Allah, agar kalian mendapatkan rahmat Tuhan). (TSKS MISIBA halaman 310).

Karena yang dimaksud dengan persaudaraan seiman versi SAS tersebut, adalah persaudaraan antar manusia dengan segala macam kepercayaan dan keimanan kepada apapun. Menurut SAS, umat Yahudi, Kristen, Konghuchu, Hindu, Budha dan lain-lain semuanya adalah umat beriman, bukan umat kafir yang tidak beriman. Sudah barangtentu, pendapat SAS tersebut bertentangan dengan Al-Quran yang menegaskan bahwa orang-orang yang berada di luar Islam adalah orang-orang kafir yang tidak beriman. Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS Alu-Imran : 19).

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) yang menolak masuk Islam, adalah orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah, bukan orang-orang yang beriman. Allah juga berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS al-An’am : 125).

Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa orang-orang yang dikehendaki sesat oleh Allah dengan tidak masuk Islam, adalah orang-orang yang tidak beriman, alias orang-orang kafir. Sementara menurut SAS, orang-orang yang tidak masuk Islam adalah orang-orang yang beriman. Al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam sebagai berikut:

أَنَّ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْ مَنْ دَانَ بِغَيْرِ اْلإِسْلاَمِ كَالنَّصَارَى أَوْ شَكَّ فِيْ تَكْفِيْرِهِمْ أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُمْ فَهُوَ كَافِرٌ وَإِنْ أَظْهَرَ مَعَ ذَلِكَ اْلإِسْلاَمَ وَاعْتَقَدَهُ. (ابن حجر الهيتمي، الإعلام بقواطع الإسلام، ص 237).
Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti orang-orang Kristiani, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan ajaran mereka, maka dia adalah orang kafir, meskipun ia menampakkan keislaman dan meyakininya. (Ibnu Hajar al-Haitami, al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam, hlm 237, dan al-Qadhi Iyadh, al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, hlm 851, Imam al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin, juz 7 hlm 290).

Wallahu a’lam.
Muhammad Idrus Ramli
Bersambung …

Menurut pengakuan Ustadz Idrus sebelum ini, sebenarnya beliau mau menulis ini saat sebelum muktamar. Namun saat itu banyak yang menegurnya dianggap melemahkan SAS menjelang muktamar. Kini tulisan ilmiah beliau sebarkan setelah muktamar dan beliau dituduh hanya karena kecewa hasil muktamar.

Wallahul Musta’an


Artikel Terkait