Tidak Akui Hasil Kecurangan Muktamar, Ketua PWNU Jateng KH. Abu Hafsin: Kami Akan Lakukan Gugatan Hukum!

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com, Jombang – Beberapa Pengurus Wilayah NU menanggapi berbagai macam atas berbagai kecurangan yang di lakukan oleh panitia muktamar NU ke -33. Dan suara tegas disampaikan Ketua PCNU Jawa Tengah KH. Abu Hafsin dan berbagai pengurus PWNU lainnya.

Tak Akui Hasil Muktamar, PWNU dan PCNU Siapkan Gugatan Hukum

Jajeli Rois – detikNews

Jombang – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang, Jawa Timur menyisakan polemik. Sejumlah pengurus wilayah dan cabang NU tidak mengakui hasil muktamar. Mereka berencana menggugat Pengurus Besar NU periode 2010-2015 dan panitia muktamar.

“Melihat berbagai manipulasi nyata dan kasat mata itu di muktamar ini, kami akan melakukan gugatan hukum,” kata Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abu Hafsin di Jombang, Kamis (6/8/2015).

“Kami jelas kecewa dengan proses muktamar ini, karena jelas-jelas mempersulit kami dari awal. Juga banyak manipulasi nyata di dalam,” ujarnya.

Luapan kekecewaan muktamirin ini memuncak setelah sidang pleno ahlul halli wal aqdi (AHWA) berubah menjadi sekadar pengumuman anggota AHWA dengan orang-orang yang sudah ditentukan.

Nama-nama anggota AHWA yang diumumkan itu hanya berasal dari usulan sebagian kecil pengurus wilayah dan cabang. Mereka dipaksa mengisi blangko isian anggota AHWA pada saat regristrasi.

Panitia dianggap tidak mengakomodir usulan PWNU dan PCNU yang akan mengusulkan 9 nama calon anggota AHWA di sidang rois syuriah itu.

“Ini jelas-jelas kedzaliman, karena hak PWNU dan PCNU dikebiri dan tidak dihargai,” kata Rois Syuriah PWNU Papua Barat KH Ahmadi.

“Padahal waktu itu, para rois syuriah sudah diverifikasi untuk masuk ruang sidang pemilihan. Sudah hampir 2 jam menunggu, tiba-tiba kok dibatalkan pemilihan, dan langsung diumumkan anggota AHWA tanpa pemilihan oleh para rois tanpa alasan yang jelas,” tambah Jamaludin Maryajang, Rois Syuriah PWNU Sulteng.

Selain proses pemilihan AHWA, sejumlah muktamirin juga merasakan ada banyak manipulasi serta kejanggalan- kejanggalan di Muktamar NU di Jombang. “Kami juga tidak mengakui produk muktamar, termasuk kepengerusan PBNU yang dihasilkan tidak sah,” tandas Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin.

REPUBLIKA.CO.ID,JOMBANG — Sebanyak 25 PWNU beserta PCNU tidak mengakui hasil Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang menetapkan KH Ma’ruf Amin dan KH Said Aqil Siroj sebagai Rais ‘Aam serta Ketua Tanfidziyyah PBNU. Lantaran dinilai cacat hukum dan banyak manipulasi.

“Kami jelas kecewa dengan proses Muktamar ini yang jelas jelas mempersulit kami dari awal dan banyak manipulasi yang nyata di dalamnya,” kata Ketua PWNU Riau Tarmizi Tohor, dalam rilisnya, Kamis (6/8).

Luapan kekecewaan memuncak setelah sidang pleno pemilihan anggota ahlul halli wal aqdi (ahwa) berubah menjadi sekadar pengumuman anggota ahwa dengan orang-orang yang sudah ditentukan.

“Padahal waktu itu para rais syuriyyah sudah diverifikasi untuk masuk ruang sidang untuk melakukan pemilihan tiba- tiba selama hampir dua jam kok dibatalkan pemilihan itu dan langsung diumumkan anggota ahwa tanpa pemilihan oleh para rais tanpa alasan yang jelas,” ungkap Rais Syuriyyah PWNU Sulteng, Jamaluddin Maryajang.

Hasil anggota ahwa yang diumumkan tersebut hanyalah berasal dari usulan sebagian kecil PCNU dan PWNU yang dipaksa mengisi blangko isian anggota
Ahwa pada saat registrasi tanpa mengakomodir usulan dari PWNU dan PCNU.

“Ini kan jelas-jelas kezaliman karena hak PWNU dan PCNU dikebiri dan tidak dihargai,” ungkap Rais Syuriyyah PWNU Papua Barat KH Ahmadi.

Setelah itu, para pengurus PWNU dan PCNU tersebut menyatakan tidak mau lagi mengikuti sidang pleno selanjutnya, yaitu pemilihan ketua umum tanfidziyah.

“Melihat berbagai manipulasi nyata dan kasat mata itu, kami akan melakukan gugatan hukum, dan kami sekali lagi tidak mengakui produk muktamar termasuk kepengurusan PBNU yang dihasilkan karena tidak sah,” kata Ketua PWNU Jawa Tengah Abu Hafsin.

Wallahu Alam


Artikel Terkait