Tafsir Al-Nahl 15-16: Tidak Semua Muktamirin Busuk

Shortlink:

annahl_16“Wa bi al-najm hum yahtadun”. Seperti halnya bintang di langit, ada yang bercahaya kemilau dan ada yang redup menggelap. Sembilan bintang yang bertabur mengitari bola dunia pastilah bintang kemilau yang menuntun musafir ke arah tujuan, hingga tak sesat jalan.

Tapi ada pula bintang menggelap karena tertutup awan tebal. Cahaya suci yang diberikan Tuhan tidak mampu menembus awan hingga tidak memberi manfaat apa-apa, bahkan pada diri sendiri. Meski tidak persis, tapi mirip itulah gambaran akhlaq para muktamirin NU ke-33 kemarin.

muktamirin-muktamar-nu-bangsa-online

Ribuan peserta muktamar yang berkumpul di Ponpes Tebuireng karena enggan datang ke lokasi muktamar di alun-alun Jombang yang dianggap tidak sah. (foto: rony suhartomo/BANGSAONLINE)

Malam itu, malam penentuan Rais Aam, juga malam pemilihan ketua Tanfidz atau PBNU, sungguh malam keberkahan, sekaligus kepuasan. Seperti ditulis kemarin, bahwa lebih dari 300 pengurus Cabang dan Wilayah yang sah dan bermandat asli dari daerahnya datang ke pesantren Tebuireng dengan keikhlasan sendiri, tanpa ada yang memberi komando. Mengalir seperti air dan semilir seperti angin sepoi, hingga lebih dari 2000 orang.

Memang emosi sempat meledak-ledak dan api kemarahan hampir membakar syetan-syetan Muktamar. Namun sungguh aneh bin ajaib. Situasi seperti menjelang perang Badar itu mereda perlahan dan akhirnya merunduk menjadi hening. Umpatan-umpatan kasar berubah menjadi istighfar, kecaman-kecaman pedas berubah menjadi kalimah thayyibah dan teriakan-teriakan mengutuk berubah menjadi takbir, memuji kebesaran Allah SWT.

Seorang arif bisa merasakan ada getaran mistik dan sentuhan tasliyah dari makam Kiai Hasyim Asy’ari yang sekaligus juga makam Gus Dur yang diyakini bahwa beliau berdua sedang menebar wejangan tepat pada waktunya, agar para muktamirin yang sedang ada di pesantren Tebuireng tidak larut dalam emosi dan tidak perlu datang ke alun-alun.

Subahanalllah, subhanallah, subhanallah, fatwa tasliyah itu ternyata benar-benar menembus ruhani dan singgah di sanubari mereka. Entah bagaimana asalnya, entah bagaimana itu terjadi, nyatanya mereka patuh dan menikmati tetap berada di dalam pesantren dan sama sekali tidak bergeming pergi ke alun-alun untuk memberikan suara.

Di dalam pesantren itu ada yang bermunajah di masjid, ada yang membaca al-Qur’an di makam dan sebagainya bahkan hampir menjelang fajar. Apa hikmah di balik itu semua. Antara lain :

Pertama, mereka adalah para pengurus yang ikhlas, sehingga diselamatkan oleh Allah SWT dari dosa dan kezaliman. Mereka dijauhkan dari mengotori NU dengan ulah yang dilarang agama. Sebab, sudah bukan menjadi rahasia lagi, bahwa di alun-alun, di arena pemungutan suara itu uang dan uang berseliweran dalam remang, membisik dan merayu para muktamirin yang mau menjadi budaknya.

Sekedar 20 juta saja sangat kecil dan mudah didapat. Tapi, jangan sekali-sekali bertanya “So, sekelas anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi dapat berapaan?”. Sebab, pertanyaan macam itu su’ul adab dan tidak patut dialamatkan kepada kiai NU. Mereka bukanlah mereka. Para kiai itu sejatinya para pewaris Nabi dan tidak mungkin menajisi diri sendiri. Kiai tidak sama dengan preman politik atau bajingan terminalan.

Kedua, semua itu adalah langkah Allah SWT yang nyata. Allah telah memisahkan mana Muktamirin yang haq dan mana Muktamirin yang bathil. Di sinilah Tuhan turun tangan menyeleksi dengan cara-Nya sendiri hingga terjadi dua kubu berbeda.

Yang satu beristighfar dan yang lain berpesta pora. Itu juga bentuk kepedulian Tuhan terhadap NU, sekaligus memberi tahu kepada dunia, bahwa tidak semua peserta Muktamar busuk dan berorientasi kekuasaan.

Masih banyak warga Nahdliyin yang shalih-shalih, ikhlas dan bersih. Inilah pengurus NU yang imannya tangguh dan tetap berpegang pada akhlaq karimah. Meskipun mereka tahu, bila pergi ke alun-alun dan memberikan suara pasti mendapat uang. Tapi bagi mereka, ridla Allah, syafaat Rasulillah SAW dan keberkahan kiai Hasyim Asy’ari dan para kiai pendiri NU jauh lebih berharga ketimbang sekedar helai rupiah. “Barakallah fikum”.

Muktamirin yang sengaja melakukan kebusukan, bermain politik uang dengan keji, maka pasti tidak tenang, hatinya berontak dan jiwanya guncang. Jika demikian, berarti dia masih punya iman. Tinggal beristighfar, bertobat dan berhenti. Bila tenang-tenang saja dan tidak merasa berdosa, tidak merasa menyalahi akhlaq karimah atau amanah nahdliyah, maka dikhawatirkan mati su’ul khatimah. Na’udz billah min dzalik.


Artikel Terkait