Tafsir Al-Nahl 15-16: Ashabul Yamin dan Ashabus Syimal dalam Muktamar NU

Shortlink:

annahl_15
annahl_16

“Wa ‘alamat, wa bi al-najm hum yahtadun”. Ayat studi ini (16) menunjuk fungsi bintang sebagai pencerah, pemandu, penuntun manusia ke arah yang dikehendaki agar tidak sesat di jalan. Muktamar NU ke 33 di Jombang telah ditutup dengan acara seadanya yang sama sekali tidak mencerminkan acara penutupan seperti layaknya penutupan dalam acara besar berlevel nasional.

Kesan dipaksakan, amburadul, clingar-clingurnya si pemimpin sidang yang tidak punya konsep, semrawutnya para dalang hitam di belakang, wajah-wajah kecut sangat nyata dirasakan oleh semua umat yang menonton siaran langsung di televisi, TV9 malam itu. Sungguh malam naas bagi kaum nahdliyin yang shalih-shalih, tapi malam pesta bagi kaum nahdliyyin yang tholeh-tholeh.

Suasana pada malam pemilihan ketua Tanfidziyah atau PBNU semalam benar-benar terbelah dan menyedihkan. Ada dua lokasi yang jauh berbeda, baik dari kondisi tempatnya, sisi manusianya, moral, kepentingan maupun apa yang diperbuat pada malam dan jam yang sama.

Ricuh yang terjadi ketika sidang pleno I membahas AHWA, Minggu (4/8). (foto: rony suhartomo/BANGSAONLINE)

Ricuh yang terjadi ketika sidang pleno I membahas AHWA, Minggu (4/8). (foto: rony suhartomo/BANGSAONLINE)


Malam pemilihan ketua itu, ada lebih dari 2.000 orang, lebih dari 300 pengurus cabang dan wilayah berkumpul di pondok pesantren Tebuireng, pesantren pendiri NU, hadlratus syejh KHM Hasyim Asy’ari. Entah apa sebabnya, tiba-tiba mengalir begitu saja, mereka pada berdatangan ke Tebuireng tanpa ada yang mengundang, tanpa ada yang mengomando, tanpa ada yang menginstruksikan. Mereka meninggalkan arena Muktamar di alun-alun demi menuju pesantren Tebuireng, di mana kiai Hasyim Asy’ari dan Gus Dur dimakamkan di sana.

Itu pasti bukan karena kepentingan duniawi, karena di makam tidak ada apa-apanya. Rupanya cahaya ilahiah turun menyinari kalbu mereka, rupanya nahfah (bisikan suci) mememerintahkan mata batin mereka agar segera meninggalkan tempat “terlaknat” untuk segera menuju tempat ibadah dan munajah. Lima hari mereka dizalimi dan tertindas, diperlakukan sangat tidak pantas, tidak dilayani, idak diberi ID Card dan tidak ada servis yang layak hanya karena tidak setor nama-nama calon Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).

Pada puncaknya, mereka memutuskan bahwa tidak patut melanjutkan Muktamar dengan datang ke alun-alun untuk memilih ketua PBNU. Hal itu karena diyakini pasti busuk, banyak kecurangan, banyak penindasan di mana-mana dan menambah dosa, bila hadir di arena pemungutan suara itu. Mereka lantas mengadakan rapat singkat yang isinya:

Pertama, membuat Muktamar tandingan. Ini pendapat yang muda-muda. Andai jadi membuat Muktamar tandingan bisa dipastikan akan menang dan sah karena mereka adalah para pemilik suara yang sah dan bermandat resmi dari Cabang dan Wilayah, serta sudah sangat memenuhi quorum. Usulan ini segera ditolak oleh Kiai Hasyim Muzadi dan Gus Solah karena bisa menimbulkan perpecahan. Keutuhan NU lebih wajib kita jaga. Masih ada waktu untuk berbuat kebajikan untuk NU.

Kedua, tidak perlu dan gerakan kita tetap gerakan kesalehan, bersih dan menata NU menjadi lebih bermartabat, sesuai syariah islam dan gagasan para kiai-kiai pendiri dulu. Inilah yang kemudian disepakati, meski dengan hati sangat kecewa dan bersedih.

Tapi kekecewaan mereka itu segera sirna setelah mereka perlahan hanyut dalam istighfar bersama di makam kiai Hasyim Asyari. Sebagian mereka juga bermunajah hampir semalam di masjid, mendoakan agar NU dilindungi Allah SWT dari tangan-tangan politikus hitam.

Bisa dibayangkan, seperti apa para malaikat langit menyikapi dua tempat yang berbeda, alun-alun dan Masjid pesantren Tebuireng, dalam perhelatan yang sama, tapi perilakunya berbeda. Nyata sekali ada: Ashabul Yamin dan Ashabus Syimal malam itu.


Artikel Terkait