Tafsir Al-Nahl 15-16: Ainul Bashirah dan Ainul Bisyarah di Muktamar NU

Shortlink:

annahl_16“Wa bi al-najm hum yahtadun “. Bintang itu pemandu para musafir menemukan arah tujuan. Dan Muktamar bintang sembilan telah usai, tanpa acara penutupan seperti biasanya. Semua itu gara-gara preman politik mengintervensi Muktamar para ‘ulama sehingga suasananya gaduh dan tidak harmonis.

Persoalannya, kenapa itu bisa terjadi? Pasti karena premannya sangat kuat atau kiainya yang lemah. Tulisan ini bukan untuk menjawab, hanya sekedar menyajikan tipologi Kiai saat ada dalam Muktamar, yakni:

Pertama, kiai yang “al-‘ain al-bashirah”-nya (kejernihan melihat persoalan berdasar kacamata ilahiyah) jauh lebih kuat ketimbang “ainul bisyarah” (mata duitan). Kiai kelas ini punya pandangan tranparansif ke depan, jiwanya bersih dan berprilaku lurus sesuai syari’ah agama, Zuhud, menghindari syubhat dan aktif mencegah syubhat, apalagi haram. Tidak mungkin membiarkan politik kotor ada di depannya.

Kedua, kiai yang “ainul bisyarah”nya lebih kuat ketimbang “al-ain al-bashirah”nya. Kiai kelas ini ada dua:

A) Kiai yang sudah tahu ada preman politik bermain busuk, dengan uang dan kekuasaan, tapi pura-pura tidak tahu, lalu diam saja. Kiai macam ini biasanya punya kepentingan, sehingga pilih amannya dan pilih untungnya. Meski “Bashirah”-nya kalah oleh “Bisyarah”-nya, tapi masih mending, karena terbatas untuk pribadi. Ya, tapi di akhirat tetap diadili karena tidak menjalankan nahi ‘an al-muhkar.

B) Kiai yang sudah tahu ada kebusukan politik dan membenarkan hal itu berlangsung. Kiai tipe ini biasanya pintar fiqih, banyak dalil sehingga pandai membuat “hilah”, rekayasa hukum. Kiai tipe ini hobi berpolitik, tapi bukan murni untuk izzul islam wa al-muslimin, melainkan untuk memanen politik. Kiai ini lebih parah ketimbang sebelumnya. Sebab, resiko dosa tidak hanya menimpa pribadi, melainkan menebar kepada muktamirin yang menjadi kroninya. Mudah-mudahan kiai macam ini tidak termasuk Ulama’ al-Su’ yang dikutuk Nabi. Jelas, “ainul bashirah”-nya padam tertutup oleh “ainul bisyarah”. Penulis yakin, Kiai macam ini tidak ada di Muktamar NU kemarin.

Ketiga, kiai yang “ainul bashirah” dan “ainul bisyarah”nya tidak jelas. Kiai ini memang punya “bashirah” tapi tidak aktif, juga punya ainul bisyarah, juga tidak aktif. Kiai ini bersih dan berjiwa shalih, tapi kesalehannya lebih untuk diri sendiri hingga tidak perhatian terhadap apa yang terjadi di sekitar. Bisa saja mengaku tidak tahu adanya kebusukan, tidak tahu ada politik uang besar-besaran. Itu sah, tapi ditertawakan orang banyak. Apakah Tuhan ikut mentertawakan?

Menurut rumus, “kebenaran pasti menang atas kebatilan”. Jadi, jika ain bashirah sangat kuat, maka apapun upaya para preman politik tidak akan ada artinya apa-apa. Salah satu buktinya adalah para muktamirin yang tetap tinggal di pesantren Tebuireng dan tidak mau pergi ke alun-alun untuk memberikan hak suara. Padahal, mengerti, jika ke sana bisa mendapat uang banyak.


Artikel Terkait