Seri IV: Ustadz Idrus Romli Ungkap Pembusukan NU Dari Dalam Lewat Said Agil

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Berikut tulisan ilmiah Ustadz Muhammad Idrus Ramli seri 4 tentang pembusukan NU dari dalam lewat Ketua PBNU Said Agil Siraj.

PEMBUSUKAN NU DARI DALAM (iv)
Bedah Pemikiran Liberal Said Aqil Siroj (SAS)

Catatan ini mengomentari buku Said Aqil Siroj (SAS), yang berjudul TASAWUF SEBAGAI KRITIK SOSIAL; MENGEDEPANKAN ISLAM SEBAGAI INSPIRASI, BUKAN ASPIRASI (TSKS MISIBA), terbitan resmi Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU) pada tahuan 2012, dengan editor Ahmad Baso, halaman 310.

SAS: Oleh karena itu, patut dipertanyakan seandainya ada sebagian umat Islam saat ini yang mengembangkan visi eksklusif ukhuwwah Islamiyah ini, sehingga bisa mengganggu semangat kerukunan dan interaksi harmonis di antara umat beragama. (TSKS MISIBA, halaman 310).

NU: Dalam edisi sebelumnya telah dijelaskan bahwa al-Qur’an dan Hadits menganjurkan pengembangan visi ukhuwwah Islamiyah. Tetapi SAS menafikan eksistensi anjuran ukhuwwah Islamiyah dalam al-Qur’an dan hadits. Sekarang SAS meremehkan pengembangan ukhuwwah Islamiyah dengan alasan eksklusif dan bisa mengganggu semangat kerukunan dan interaksi harmonis di antara umat beragama. Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah ukhuwwah Islamiyah bisa mengganggu semangat kerukunan dan interaksi harmonis di antara umat beragama? Jelas tidak bisa mengganggu bagi orang yang memahami ajaran agama tentang kerukunan dan interaksi antar umat beragama. Al-Imam al-Ghazali berkata dalam Ihya’ ‘Ulumiddin:

حُقُوْقُ الْجِوَارِ اِعْلَمْ أَنَّ الْجِوَارَ يَقْتَضِيْ حَقًّا وَرَاءَ مَا تَقْتَضِيْهِ أُخُوَّةُ اْلإِسْلاَمِ فَيَسْتَحِقُّ الْجَارُ الْمُسْلِمُ مَا يَسْتَحِقُّهُ كُلُّ مُسْلِمٍ وَزِيَادَةً إِذْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْجِيْرَانُ ثَلاَثَةٌ جَارٌ لَهُ حَقٌّ وَاحِدٌ وَجَارٌ لَهُ حَقَّانِ وَجَارٌ لَهُ ثَلاَثَةُ حُقُوْقٍ فَالْجَارُ الَّذِيْ لَهُ ثَلاَثَةُ حُقُوْقٍ الْجَارُ الْمُسْلِمُ ذُو الرَّحِمِ فَلَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ اْلإِسْلاَمِ وَحَقُّ الرَّحِمِ وَأَمَّا الَّذِيْ لَهُ حَقَّانِ فَالْجَارُ الْمُسْلِمُ لَهُ حَقُّ الْجِوَارِ وَحَقُّ اْلإِسْلاَمِ وَأَمَّا الَّذِيْ لَهُ حَقٌّ وَاحِدٌ فَالْجَارُ الْمُشْرِكُ فَانْظُرْ كَيْفَ أَثْبَتَ لِلْمُشْرِكِ حَقًّا بِمُجَرَّدِ الْجِوَارِ

Hak-hak tetangga. Ketahuilah, sesungguhnya bertetangga menuntuk adanya hak (kewajiban) selain kewajiban yang menjadi tuntutan persaudaraan Islam. Oleh karena itu seorang tetangga yang muslimin berhak menerima apa saja yang berhak diterima oleh setiap muslim dan bahkan melebihi (yang bukan tetangga). Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tetangga itu ada tiga macam. Tetangga yang memiliki satu hak. Tetangga yang memiliki dua hak. Dan tetangga yang memiliki tiga hak. Tetangga yang memiliki tiga hak adalah hak tetangga Muslim yang memiliki hubungan kekerabatan. Ia memiliki hak tetangga, hak Islam dan hak kekerabatan. Sedangkan tetangga yang memiliki dua hak, adalah tetangga Muslim. Ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Adapun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga Musyrik (non Muslim).” Perhatikan, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan hak bagi seorang musyrik hanya karena bertetangga. (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2 hlm 231).

وَقَدْ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسِنْ مُجَاوَرَةَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berbuat baiklah berdampingan dengan orang yang bertetangga denganmu, maka kamu akan menjadi Muslim.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2 hlm 231).

وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ …

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menyangka ia akan mewariskannya.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2 hlm 231).

قَالَ مُجَاهِدٌ كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَغُلاَمٌ لَهُ يَسْلَخُ شَاةً فَقَالَ يَا غُلاَمُ إِذَا سَلَخْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُوْدِيِّ حَتىَّ قَالَ ذَلِكَ مِرَارًا فَقَالَ لَهُ كَمْ تَقُوْلُ هَذَا فَقَالَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يُوْصِيْنَا بِالْجَارِ حَتَّى خَشِيْنَا أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Mujahid berkata: “Aku berada disamping Abdullah bin Umar, sedangkan seorang budaknya menguliti kambing miliknya. Lalu ia berkata: “Wahai budak, apabila kamu telah selesai menguliti, dahulukan tetangga kita yang Yahudi”, sehingga ia berkata begitu berulang-ulang. Lalu budak itu berkata: “Berapa kali tuan berkata begitu pada saya?” Lalu ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berwasiat kepada kami tentang tetangga sehingga kami khawatir ia akan mewariskannya.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2 hlm 233).

وَقَالَ هِشَامٌ كَانَ الْحَسَنُ لاَ يَرَى بَأْسًا أَنْ تُطْعِمَ الْجَارَ الْيَهُوْدِيَّ وَالنَّصْرَانِيَّ مِنْ أُضْحِيَتِكَ

Hisyam berkata: “Al-Hasan al-Bashri tidak menganggap dilarang, kamu memberi makan tetangga yang Yahudi dan Nasrani dari hewan kurbanmu.” (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumiddin, juz 2 hlm 233).

Perhatikan, paparan dari al-Imam al-Ghazali di atas dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, memberikan kesimpulan bahwa dengan mengembangkan ukhuwwah Islamiyyah, umat Islam tetap bisa berkewajiban berbuat baik kepada tetangga yang beragama lain. Ukhuwwah Islamiyah tidak menjadi penghalang seorang Muslim untuk membangun semangat kerukunan dan interaksi harmonis di antara umat beragama, seperti dengan memberikan hadiah dan sedekah kepada mereka ketika kita mempunyai kenikmatan dari Allah.

SAS: Dengan kata lain, jika seseorang memahami betul substansi dan esensi ajaran agama, maka tentu tidak ada kamu “benturan teologi” antar umat beragama. Jika diciptakan seolah-olah ada benturan, sebenarnya itu hanyalah soal perut, politik atau kepentingan sektarian masing-masing pemeluk agama. (TSKS MISIBA, halaman 310).

NU: Pernyataan SAS di atas memberikan beberapa kesimpulan:

Pertama, benturan teologi (perbedaan akidah) antar umat beragama itu tidak ada bagi orang yang memahami betul substansi dan esensi ajaran agama.

Kedua, adanya benturan teologi antar umat beragama, itu bagi orang yang tidak memahami betul substansi dan esensi ajaran agama.

Ketiga, kalau terjadi benturan antar umat beragama, itu pasti hanyalah soal perut, politik atau kepentingan sektarian masing-masing pemeluk agama.

Dengan beberapa kesimpulan tersebut, berarti SAS mempunyai beberapa pendapat sebagai berikut:

Pertama, SAS tidak mengakui adanya perbedaan akidah -yang ia sebut dengan istilah benturan teologi-, antara agama Islam dan agama-agama lain. Hal ini yang dikenal dengan paham pluralisme agama di kalangan orang-orang liberal. Pendapat tersebut jelas tidak benar, karena perbedaan akidah antar agama-agama merupakan sesuatu yang aksioma dalam pandangan agama.

Di sisi lain, persepsi SAS tersebut memberikan pengakuan terhadap kebenaran semua agama. Pengakuan terhadap kebenaran semua agama jelas tidak benar. Kekufuran agama-agama di luar Islam seperti Yahudi, Nasrani dan kepercayaan-kepercayaan syirik lainnya telah banyak ditegaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Sedangkan kekufuran dan kemurtadan orang-orang yang membenarkan semua agama telah ditegaskan oleh para ulama. Al-Imam al-Qadhi ‘Iyadh berkata:

نُكَفِّرُ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْ مَنْ دَانَ بِغَيْرِ مِلَّةِ الْمُسْلِمِيْنِ مِنَ الْمِلَلِ أَوْ وَقَفَ فِيْهِمْ أَوْ شَكَّ أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُمْ وَإِنْ أَظْهَرَ مَعَ ذَلِكَ اْلإِسْلاَمَ وَاعْتَقَدَهُ وَاعْتَقَدَ إِبْطَالَ كُلِّ مَذْهَبٍ سِوَاهُ فَهُوَ كَافِرٌ بِإِظْهَارِهِ مَا أَظْهَرَ مِنْ خِلاَفِ ذَلِكَ

Kami mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menganut selain agama kaum Muslimin dari agama-agama apapun, atau vakum (tidak berpendapat kekafiran mereka), atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan aliran mereka, meskipun ia menampakkan keislaman dan meyakininya dan meyakini kebatilan setiap aliran selain Islam. Maka dia adalah orang kafir sebab menampakkan apa yang ia tampakkan sesuatu yang menyalahi hal tersebut. (Al-Syihab al-Khafaji, Nasim al-Riyadh juz 6 hlm 359).

Al-Imam al-Nawawi juga berkata:

وَأَنَّ مَنْ لَمْ يُكَفِّرْ مَنْ دَانَ بِغَيْرِ اْلإِسْلاَمِ كَالنَّصَارَى أَوْ شَكَّ فِيْ تَكْفِيْرِهِمْ أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبَهُمْ فَهُوَ كَافِرٌ وَإِنْ أَظْهَرَ مَعَ ذَلِكَ اْلإِسْلاَمَ وَاعْتَقَدَهُ.

Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menganut agama selain Islam seperti agama Nasrani, atau ragu-ragu dalam mengkafirkan mereka, atau membenarkan aliran mereka, maka dia adalah kafir, meskipun ia menampakkan Islam dan meyakininya. (Al-Imam al-Nawawi, Raudhat al-Thalibin 7 hlm 290, Ibnu Hajar al-Haitami, al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam, hlm 237).

Pernyataan para ulama di atas memberikan kesimpulan, bahwa orang yang tidak mengkafirkan orang-orang yang menganut agama selain Islam, atau vakum tentang kekafiran mereka, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan aliran mereka seperti paham pluralism agama, maka ia adalah orang kafir meskipun masih menampakkan dan meyakini kebenaran Islam. Dalam pernyataan SAS di atas jelas sekali pembenarannya terhadap semua ajaran agama dan kepercayaan dengan menafikan adanya perbedaan akidah atau benturan teologi antar agama-agama.

Kedua, SAS menganggap orang-orang yang meyakini atau berpendapat adanya perbedaan akidah atau benturan teologi antar agama sebagai orang yang tidak memahami betul substansi atau esensi ajaran agama. Dengan pandangan ini, berarti SAS menganggap seluruh umat Islam dan para ulamanya yang meyakini ada perbedaan akidah antara agama Islam dengan agama-agama lain sebagai orang-orang yang tidak memahami betul substansi dan esensi ajaran agama, atau dalam bahasa yang lebih jelas, sebagai orang-orang yang salah, gagal faham dan tersesat dalam memahami agama. Para ulama telah berijma’ tentang kekafiran orang yang mengatakan suatu pendapat yang berimplikasi pada penilaian sesat terhadap seluruh umat Islam. Al-Imam al-Qadhi Iyadh berkata:

وَكَذَلِكَ نَقْطَعُ بِتَكْفِيْر كُلِّ قَائِلٍ قَالَ قَوْلاً يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى تَضْلِيْلِ اْلأُمَّةِ وَتَكْفِيْرِ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ

Dan demikian pula kami memastikan pengkafiran terhadap setiap orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang mengantarkan pada penyesatan seluruh umat Islam dan mengkafirkan seluruh sahabat. (Al-Syihab al-Khafaji, Nasim al-Riyadh juz 6 hlm 359).

Al-Imam al-Nawawi juga berkata:

وَكَذَا يُقْطَعُ بِتَكْفِيْرِ كُلِّ قَائِلٍ قَوْلاً يُتَوَصَّلُ بِهِ إِلَى تَضْلِيْلِ اْلأُمَّةِ أَوْ تَكْفِيْرِ الصَّحَابَةِ

Demikian pula dipastikan pengkafiran terhadap setiap orang yang berpendapat dengan suatu pendapat yang mengantarkan pada penyesatan umat Islam atau pengkafiran para sahabat. (Al-Imam al-Nawawi, Raudhat al-Thalibin 7 hlm 290, al-Hafizh Ibnu Hajar, Fath al-Bari, juz 12 hlm 300, dan Ibnu Hajar al-Haitami, al-I’lam bi-Qawathi’ al-Islam, hlm 237).

Pernyataan para ulama tersebut mengantarkan pada kesimpulan bahwa orang yang mengeluarkan suatu pendapat yang mengantarkan pada penilaian sesat terhadap seluruh umat Islam adalah dipastikan kekafirannya.

Ketiga, SAS juga berpendapat bahwa kalau terjadi benturan antar umat beragama, itu pasti hanyalah soal perut, politik atau kepentingan sektarian masing-masing pemeluk agama. Pernyataan SAS ini merupakan bentuk penistaan dan penghinaan terhadap agama. Sebagaimana dimaklumi, benturan teologi atau konflik agama telah terjadi sejak masa-masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik menghadapi orang-orang musyrik Quraisy dan Arab, Yahudi di Madinah dan sekitarnya, dan Nasrani di sekitar Syam. Demikian itu sesuai dengan ajaran al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah. Pernyataan SAS yang menganggap bahwa benturan antar umat beragama hanya bermuara pada kepentingan perut, politik dan kepentingan, merupakan bentuk penistaan dan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan terhadap agama yang dibawanya. Al-Imam al-Qadhi Iyadh berkata:

اِعْلَمْ وَفَّقَنَا اللهُ وَإِيَّاكَ أَنَّ جَمِيْعَ مَنْ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَابَهُ أَوْ أَلْحَقَ بِهِ نَقْصًا فِيْ نَفْسِهِ أَوْ نَسَبِهِ أَوْ دِيْنِهِ أَوْ خَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِهِ أَوْ عَرَّضَ بِهِ أَوْ شَبَّهَهُ بِشَيْءٍ عَلىَ طَرِيْقِ السَّبِّ لَهُ أَوْ اْلإِزْرَاءِ عَلَيْهِ أَوِ التَّصْغِيْر لِشَأْنِهِ أَوِ الْغَضِّ مِنْهُ وَالْعَيْبِ لَهُ فَهُوَ سَابٌّ لَهُ وَالْحُكْمُ فِيْهِ حُكْمُ السَّابِّ يُقْتَلُ كَمَا نُبَيِّنُهُ

Ketahuilah, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita dan Anda. Sesungguhnya semua orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau mencelanya, atau menyandangkan kekurangan kepadanya dalam dirinya, atau nasabnya, atau agamanya, atau salah satu kepribadiannya, atau menyindirnya, atau menyerupakannya dengan sesuatu dengan jalan menghina kepadanya, atau meremehkannya, atau mengecilkan derajatnya, atau merendahkan dan mencelanya, maka ia adalah orang yang menghinanya. Sedangkan hukum bagi orang tersebut adalah hukum orang yang menghina beliau, yaitu dibunuh, sebagaimana akan kami jelaskan. (Al-Qadhi Iyadh, al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 2 hlm 214; Al-Syihab al-Khafaji, Nasim al-Riyadh, juz 6 hlm 146; Taqiyyuddin as-Subki, as-Saif al-Maslul ‘ala man Sabba al-Rasul, hlm 119).

قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ بْنُ الْمُنْذِرِ أَجْمَعَ عَوَامُّ أَهْلِ الْعِلْمِ عَلىَ أَنَّ مَنْ سَبَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْتَلُ وَمِمَّنْ قَالَ ذَلِكَ مَالِكٌ بْنُ أَنَسٍ وَاللَّيْثُ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ قَالَ الْقَاضِيْ أَبُو الْفَضْلِ وَهُوَ مُقْتَضَى قَوْلِ أَبِى بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رضى الله عنه وَلاَ تُقْبَلُ تَوْبَتُهُ عِنْدَ هَؤُلاَءِ، وَبِمِثْلِهِ قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابُهُ وَالثَّوْرِيُّ وَأَهْلُ الْكُوْفَةِ وَاْلأَوْزَاعِيُّ فِي الْمُسْلِمِيْنَ لَكِنَّهُمْ قَالُوْا: هِيَ رِدَّةٌ، وَرَوَى مِثْلَهُ الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مَالِكٍ وَحَكَى الطَّبَرِيُّ مِثْلَهُ عَنْ أَبِى حَنِيْفَةَ وَأَصْحَابِهِ فِيْمَنْ تَنَقَّصَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بَرِئَ مِنْهُ أَوْ كَذَّبَهُ وَقَالَ سُحْنُوْنُ فِيْمَنْ سَبَّهُ: ذَلِكَ رِدَّةٌ كَالزَّنْدَقَةِ وَعَلىَ هَذَا وَقَعَ الْخِلاَفُ فِيْ اسْتِتَابَتِهِ وَتَكْفِيْرِهِ وَهَلْ قَتْلُهُ حَدٌّ أَوْ كُفْرٌ كَمَا سَنُبَيِّنُهُ فِي الْبَابِ الثَّانِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَلاَ نَعْلَمُ خِلاَفًا فِي اسْتِبَاحَةِ دَمِهِ بَيْنَ عُلَمَاءِ اْلأَمْصَارِ وَسَلَفِ اْلأُمَّةِ وَقَدْ ذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ اْلإِجْمَاعَ عَلىَ قَتْلِهِ وَتَكْفِيْرِهِ

Abu Bakar bin al-Mundzir berkata: “Mayoritas ahli telah bersepakat bawa orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu dibunuh. Di antara orang yang berpendapat demikian adalah Malik bin Anas, Laits, Ahmad, Ishaq dan itu madzhab al-Syafi’i. Al-Qadhi Abu al-Fadhl berkata: Itu adalah tuntutan pendapat Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Taubat orang tersebut tidak diterima menurut mereka. Dengan pendapat yang sama, telah berkata Abu Hanifah dan para sahabatnya, al-Tsauri, para ulama Kufah, al-Auza’i mengenai kaum Muslimin. Akan tetapi mereka berkata: “Itu adakah kemurtadan.” Hal seperti itu juga diriwayatkan oleh al-Walid bin Muslim dari Malik. Al-Thabari menceritakan seperti itu dari Abu Hanifah dan para sahabatnya mengenai orang yang mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau melepaskan diri darinya atau mendustakannya. Suhnun berkata mengenai orang yang menghinanya: “Itu adalah kemurtadan seperti kezindiqan.” Atas dasar inilah terjadi perselisihan mengenai permintaan taubat dan pengkafiran orang tersebut, dan apakah membunuhnya sebagai hukum had atau kekufuran sebagaimana akan kami jelaskan pada bab dua jika Allah menghendaki. Kami tidak menemukan perselisihan mengenai kehalalan darahnya di antara para ulama berbagai kota dan kaum salaf. Lebih dari satu orang menceritakan adanya ijma’ atas hukum membunuhnya dan mengkafirkannya. (Al-Qadhi Iyadh, al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 2 hlm 215; Al-Syihab al-Khafaji, Nasim al-Riyadh, juz 6 hlm 148; Taqiyyuddin as-Subki, as-Saif al-Maslul ‘ala man Sabba al-Rasul, hlm 119).

قَالَ مُحَمَّدٌ بْنُ سُحْنُوْنَ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ أَنَّ شَاتِمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَنَقِّصَ لَهُ كَافِرٌ وَالْوَعِيْدُ جَارٍ عَلَيْهِ بِعَذَابِ اللهِ لَهُ وَحُكْمُهُ عِنْدَ اْلأُمَّةِ قَتْلٌ وَمَنْ شَكَّ فِيْ كُفْرِهِ وَعَذَابِهِ كَفَرَ،

Muhammad bin Suhnun berkata: “Para ulama telah bersepakat bahwa orang yang menghina Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mencelanya adalah kafir. Ancaman siksa Allah berlaku bagi orang tersebut. Hukum orang tersebut menurut para ulama adalah dibunuh. Barangsiapa yang ragu-ragu mengenai kekufuran dan azab bagi orang tersebut adalah kafir.” (Al-Qadhi Iyadh, al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa, juz 2 hlm 215; Al-Syihab al-Khafaji, Nasim al-Riyadh, juz 6 hlm 149; Taqiyyuddin as-Subki, as-Saif al-Maslul ‘ala man Sabba al-Rasul, hlm 120).

Al-Imam Taqiyyuddin al-Subki juga berkata:

وَعَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهُوْيَهْ أَحَدِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَعْلاَمِ قَالَ: أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ أَنَّ مَنْ سَبَّ اللهَ أَوْ سَبَّ رَسُوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ دَفَعَ شَيْئًا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ أَوْ قَتَلَ نَبِيًّا مِنَ أَنْبِيَاءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ كَافِرٌ بِذَلِكَ وَإِنْ كَانَ مُقِرًّا بِكُلِّ مَا أَنْزَلَ اللهُ

Ishaq bin Rahuyah, salah seorang imam terkemuka berkata: “Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa orang yang menghina Allah, atau menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau menentang sesuatu yang diturunkan oleh Allah, atau membunuh salah seorang nabi Allah ‘azza wa jalla, sesungguhnya orang tersebut kafir kepada hal itu, meskipun ia mengakui semua apa yang diturunkan oleh Allah. (Al-Imam Taqiyyuddin al-Subki, al-Saif al-Maslul ‘ala man Sabba al-Rasul, hlm 121).

Paparan dari para ulama di atas memberikan kesimpulan, bahwa orang yang menghina ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti menghina pribadi beliau. Sedangkan orang yang menghina pribadi beliau jelas dihukumi kufur dan murtad menurut ijma’ para ulama. Demikian pula, orang yang menghina ajaran Allah atau menentang sebagian ajaran Allah, berarti menghina Allah. Dan orang yang menghina Allah atau menentang sebagian ajaran Allah adalah kafir kepada Allah dan ajaran tersebut.

Wallahu a’lam.
Muhammad Idrus Ramli
Bersambung…

Wallahu Alam


Artikel Terkait