Rangkuman Pendapat Kiai Ahmad Dairobi Terkait Berbagai Isu Terkini

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Setelah pesan tentang sikap terbaik seorang Nahdliyyin menyikapi berbagai ormas dan aliran ditengah kaum muslimin dari Guru Pondok Sidogiri Kiai Ahmad Dairobi bergulir secara viral di berbagai jejaring dan media, Kali ini kami akan rangkum pendapat beliau yang di anggap sangat bijaksana ditengah keresahan Nahdliyyin dan kaum muslimin.

Tentang Pertikaian Mazhab

“Asyariah vs Wahabi, Saya bela Asyariah.

Wahabi vs Syiah dan Islam Liberal, saya bela Wahabi.

Syiah vs Yahudi dan Amerika, Saya bela Syiah.

Tapi, di atas semua itu, saya sangat merindukan persatuan antar sesama umat Islam dengan segala macam perbedaan pandangan mereka”.

Tentang Islam Nusantara

“Islam Nusantara, Terlihat sangat anti dengan Wahabi dan Hizbut Tahrir, Tapi tampaknya no problem saja dengan Syiah dan Liberal”.

Oknum NU Melenceng

NU memang rumah besar Ahlusunnah. Tapi, pemikiran orang yang mengaku NU belum tentu sesuai dengan Ahlusunah. Sebagaimana, orang yang berada di luar NU tidak berarti bukan Ahlusunnah.

Tentang FPI

KH. Mustain Syafi’i (Jombang): Kaum Nahdliyin yang umumnya pasif terhadap maksiat dianggap peforma Islam Rahmatan Lil Alamin. Jangan-jangan itu lemah iman (adh’aful iman). Perlu direnungkan, anggaplah FPI salah karena anarkis, tapi benar dalam memberantas kemungkaran. Sedangkan kita benar karena tidak anarkis, Tapi tidak peduli terhadap kemungkaran. (Majalah Tebuireng, Edisi Khusus Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama.)

Aswaja Tapi Anti Jenggot

Menurut saya, salah satu penyebab NU kurang berhasil dalam memasyarakatkan Aswaja karena banyaknya orang NU yang enggan memelihara jenggot, bahkan tidak sedikit yang terkesan sinis dengan syiar jenggot.

Dan Ini Pesan Viral Paling Terkenal

Di tengah perpecahan umat Islam dewasa ini, nasihat guru Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur: Kiai Ahmad Dairobi tiba-tiba menyentak umat Islam Indonesia.

Dalam pekan ini, Nasihat Ukhuwah Kiai Ahmad Dairobi populer secara viral di media sosial. Berikut nasihatnya:

Diam-diam ternyata saya menyukai semangat FPI dalam memberantas kemunkaran. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam aksi mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang takut dan tak peduli dengan kemunkaran yang merajalela.

Diam-diam ternyata saya menyukai semangat dan ketulusan Jamaah Tabligh dalam meramaikan shalat berjemaah di masjid. Saya tahu, kadangkala ada yang salah dalam tindakan sebagian mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku yang tidak melakukan apa- apa saat tetanggaku banyak yang tidak shalat.

Diam-diam ternyata saya menyukai semangat Hizbut Tahrir dalam membangun khilafah. Saya tahu, ada yang salah dalam sebagian konsep khilafah mereka. Namun, kesalahakanku yang tak mau berbuat apa-apa untuk penegakan syariat Islam, jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.

Diam-diam ternyata saya menyukai cara berpolitik orang-orang PKS. Saya tahu, mereka banyak dihuni oleh tokoh-tokoh di luar Nahdlatul Ulama; dan yang namanya partai politik pasti cukup banyak kesalahan oknum mereka. Namun, kesalahan mereka tidaklah seberapa dibanding kesalahanku memilih partai yang cenderung sekuler dan anti penerapan syariat Islam.

Bahkan, diam-diam ternyata saya juga suka dengan keberanian Al-Qaidah dalam melawan kezaliman politik Amerika dan Israel. Aku tahu, mereka melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahanku yang tidak peduli dengan nasib umat Islam jauh lebih besar daripada kesalahan mereka.

Dan, dengan terang-terangan saya menyatakan sangat mengagumi Nahdlatul Ulama.

Yakni, NU yang sesuai dengan pandangan Hadratussyekh Kyai Hasyim Asy’ari.

BUKAN NU yang menjadi kendaraan politik.
BUKAN NU yang dipenuhi kepentingan pragmatis.
BUKAN NU yang menjadi pembela Syiah dan Ahmadiyah.
BUKAN NU yang melindungi liberalisme.
Dan, BUKAN NU yang menjadikan Rahmatan Lil Alamin sebagai justifikasi untuk ketidakpeduliannya terhadap perjuangan penegakan syariat Islam.

Niat saya, agar antar gerakan Islam saling menjaga ukhuwah. Jangan sampai ashobiyyah dan fanatik buta pada organisasi masing-masing menutup pintu kebaikan kelompok lain.

Wallahu Alam


Artikel Terkait