Rais ‘Amm NU: Jangan Mengkafirkan Sesama Muslim, Toleransi Perbedaan Amputasi Penyimpangan

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Rais ‘Amm NU terpilih hasil muktamar Jombang hadir dalam dalam acara Halal Bihalal Tokoh Islam di Menara 165, Jakarta, Kamis (12/8).

Menurut Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin, ummat Islam sudah harus meninggalkan egoisme dan fanatik kelompok demi kejayaan dan kemajuan bangsa. Di balik kemerosotan bangsa saat ini, kata dia, terjadi karena kepemimpinan ummat yang belum sepenuhnya kuat. Namun hal itu bukan alasan karena pada dasarnya tokoh- tokoh Islam sudah sepakat dalam satu wacana persatuan ummat. Itulah yang harus diupayakan secara terus menerus hingga ummat ini benar-benar bersatu.

“Penyatuaan ummat ini bagaimana? Pemimpinnya siapa? Kalau belum ada yang bisa dijadikan pemimpin ummat, ya sudah. Kita tidak usah mencari pemimpin syakhsiyyah (perseorangan) tapi pemimpin (secara) institusional saja dulu,” kata KH Ma’ruf Amin.

Dengan bersandar pada kepemimpinan institusional di masing-masing kelompok dan ormas Islam, maka upaya untuk mencari pemimpin syakhsiyyah akan terwujud seiring dengan perkembangan ummat ke depan. Syaratnya, harus ada penyamaan persepsi di kalangan ummat dan memperkuat sistem koordinasi dan sinergitas antar tokoh.

“Perbedaan harus ditoleransi, yang tidak boleh adalah egoisme kelompok apalagi mengkafirkan sesama muslim. Tinggalkan fanatik kelompok. Perbedaan harus ditoleransi, tetapi penyimpangan harus diamputasi,” katanya.

Ketua Komisi Fatwa MUI ini ini menjelaskan bahwa mementingkan rasa ego individu atau kelompok seperti mengafirkan orang lain hanya akan menimbulkan kefanatikan dalam diri. Hal ini justru akan membuat suasana kebersamaan mudah hancur.

Beliau sempat menyinggung kondisi bangsa saat ini di mana perekonomian sebagai pilar pembangunan sudah jauh meninggalkan perekonomian ummat. Contoh konkretnya, kini perkotaan dan pantai-pantai berubah dan hanya dikuasai oleh kelompok bisnis tertentu. Tidak ada lagi pemberdayaan ekonomi ummat. Yang terjadi justru mundur.

Namun, kondisi ini tidak bisa membuat ummat dan tokoh-tokoh Islam berputus asa. Saatnya semua elemen ummat saling berkoordinasi dan bersinergi untuk membangun kesamaan di atas berbagai perbedaan. Memang, lanjut dia, semuanya sudah sama di tataran ide tetapi belum masuk dalam tataran implementasi. “Siapa yang bisa menyatukan ummat, itu yang belum ada. Bismillah, kita lakukan saja penyatuan agar ummat Islam berperan besar. Kita harus mulai dengan wacana yang berkelanjutan,” tegasnya.

Terlebih lagi, kata dia, Islam di dunia saat ini sisa menunggu imam yang muncul dari Indonesia. Dia mengibaratkan Islam Indonesia seperti macan tidur sehingga pada momentum ini mereka harus dibangunkan demi persatuan ummat Islam di dunia. “Kita harus cari kemenangan yang dekat. Kita bergerak saja, nanti Allah yang akan memberikan jalan keluar,” katanya.

Hadir juga dalam acara silaturahim ini Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan Hamdan Zoelva, tokoh Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas Lc serta berbagai tokoh dan cendekiawan muslim.

Soal Parade Tauhid

Sementara itu nama KH. Makruf Amin juga disebut dalam rencana acara Parade Tauhid. Beliau mendoakan agar tersebut lancar dan sesuai dengan apa yang diinginkan.

KH Ma’ruf Amin berharap Parade Tauhid benar-benar menggambarkan pancaran cahaya tauhid. Sehingga dari kegiatan tersebut bisa menggambarkan kebaikan-kebaikan.

“Kita berharap agar dalam pelaksanaan parade Tauhid ini berjalan dengan lancar,” tutupnya.


Artikel Terkait