NU Garis Lurus: Bukan Islam Nusantara Tapi Islamisasi Nusantara

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Berikut ini sikap tokoh NU Garis Lurus atas polemik Islam Nusantara. Bahwa yang benar adalah ‘Islamisasi Nusantara’ bukan Islam Nusantara. Tulisan ini kami kutip dari pejuangIslam.Com dan kelihatannya untuk menanggapi pendapat Rektor Al Ahgaf Yaman Habib Muhammad Baharun.

ISLAM NUSANTARA, NO..!!

ISLAMISASI NUSANTARA, YES..!!

(Luthfi Bashori)

Bismillahir rahmanir rahim.

Menyikapi pendapat pribadi Rektor AL-AHGHAF HB. Abdullah Baharun, yg dimuliakan oleh Allah, mengenai ISLAM NUSANTARA, sebagaimana yg ditulis dan sebarkan oleh Sdr. Abdul Aziz Jazuli, Lc.

Rasanya perlu juga saya infokan, bahwa para aktifis muslim NKRI, lebih tenteram mendapatkan FATWA dari para Ulama Lokal Indonesia, jika yang dibahas itu murni tentang gonjang-ganjing umat Islam di NKRI. (Hal ikhwal keindonesiaan dan bukan tentang masalah hukum Islam secara global).

Karena para aktifis muslim NKRI itu, telah melihat kenyataan di lapangan dengan mata kepala mereka sendiri, bukan berdasarkan info-info dari pihak ke tiga.

Saya infokan juga, bahwa yang bermain di belakang nama ISLAM NUSANTARA adalah KAUM LIBERAL, karena itu umat Islam NKRI HARUS menolaknya.

Lebih jelas lagi saya infokan, saat ini ada kelompok-kelompok yang berseberangan dalam menanggapi penggunaan nama ISLAM NUSANTARA, yaitu:

1. Kelompok PENOLAK ISLAM NUSANTARA (secara TEGAS), mereka adalah para aktifis muslim yang selalu istiqamah dalam memperjuangkan KEMURNIAN ajaran Islam, sesuai ajaran para ulama Salaf Ahlus sunnah wal jamaah dengan madzhab fiqih Syafi’i, beraqidah Asy’ari-Maturidi, dan bertasawwuf ala Imam Junaid Albaghdadi, Imam Ghazali, Hb. Abdullah Alhaddad dan para ulama yg searah.

2. Kelompok PENGGIAT ISLAM NUSANTARA, istilah yang baru-baru ini dihembuskan oleh kalangan JIN (Jema’at Islam Nusantara), mereka adalah murni dari kalangan KAUM LIBERAL. Lebih jelas lagi bahwa JIN itu lahirnya dari rahimnya JIL (Jaringan Islam Liberal). Bahkan dalam penggunaan bahasa Indonesia, bahwa kata JEMA’AT itu umumnya digunakan oleh kaum Nasrani, sedangkan umat Islam menggunakan kata JAMA’AH.

Karena kelompok Liberal ini lebih dekat dengan kaum Nasrani, maka mereka menggunakan kata JEMA’AT untuk perkumpulan mereka.

Tokoh-tokoh dari kalangan JIN ini sengaja menggunakan event MUKTAMAR NU 2015 untuk memasarkan ide-ide liberal mereka lewat tema “ISLAM NUSANTARA”

Dengan demikian, maka sudah jelaslah, bahwa nama ISLAM NUSANTARA bukan produk orang-orang yang shalih, dan ini harus ditolak, karena terbukti juga ISLAM NUSANTARA telah memecah belah persatuan warga NU sendiri dan umumnya UMAT ISLAM INDONESIA.

3. Setelah terjadi PERANG PEMIKIRAN antara para PENOLAK dengan para PENGGIAT, lantas muncullah kelompok baru, yaitu kelompok PENGAMBIL JALAN TENGAH.

Mereka dapat menerima nama ISLAM NUSANTARA ini dengan beberapa catatan, semisal, “Jika yang dimaksud ISLAM NUSANTARA itu adalah Islam yang dibawa oleh para Walisongo, maka kami dapat menerimanya, dan jika sebaliknya, alias sengaja mengadakan DIKOTOMI ISLAM PERWILAYAH, maka kami menolaknya”.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika saya pribadi tetap berada pada barisan kelompok PENOLAK nama ISLAM NUSANTARA, karena yang memberi nama itu BUKAN WALISONGO juga BUKAN PARA PENDIRI NU, bahkan bukan dari para SESEPUH NU yang selalu Lurus dan Istiqamah dalam beraqidah.

Tapi nama ISLAM NUSANTARA itu ‘dilahirkan’ dan meretas dari kalangan kaum Liberal yang anti “ARAB”.

Hal ini sudah banyak bukti, seperti mereka sengaja membeda-bedakan antara BUDAYA ARAB dengan BUDAYA ISLAM, misalnya perkataan mereka, bahwa “Jubah & Jilbab” itu adalah BUDAYA ARAB bukan BUDAYA ISLAM, (dll).

Padahal dalam riwayat Imam Hakim, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Benci terhadap ARAB itu pertanda MUNAFIQ”.

Untuk itu, sebagai salah satu AKTIFIS MUSLIM (NU GARIS LURUS), saya tetap merindukan SUASANA UMAT ISLAM INDONESIA itu tanpa tambahan nama “ISLAM NUSANTARA”.

Saya juga merindukan aqidah dan pemahaman WARGA NU ini kembali seperti keadaan NU TEMPO DOELOE, yang mana para Ulamanya selalu TEGAS (tidak ragu-ragu, atau bersikap abu-abu, atau mencari situasi aman) dalam mengeluarkan FATWA terhadap KEMUNGKARAN AQIDAH DAN PEMIKIRAN SESAT.

Harapan saya, agar tokoh-tokoh NU saat ini meniru ketegasan yg diajarkan oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana yang tertera dalam QANUN ASASI JAM’IYYAH NAHDLATUL ULAMA, maupun ketegasan yang dicontohkan oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari dalam karangan beliau “RISALAH AHLIS SUNNAH WAL JAMAAH”.

Ilustrasinya, KH. Hasyim Asy’ari secara TEGAS dan tidak ragu-ragu mengeluarkan fatwa, bahwa SYI’AH ZAIDIYAH itu SESAT dan tidak boleh diikuti oleh warga NU.

CATATAN:
Paham Syiah Zaidiyah itu hanya mengatakan bahwa Sy. Ali bin Abi Thalib lebih afdhal daripada Sy. Abu Bakar dan Sy. Umar. Selebihnya ajaran Syiah Zaidiyah itu sama dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Namun dengan TEGAS, KH. Hasyim Asy’ari menfatwakan: “Syiah Zaidiyah itu SESAT (Ahlul Bid’ah)”. Apalagi SYIAH IMAMIYAH yang mengkafirkan para shahabat Nabi Muhammad SAW.

Sekali lagi saya mohon maaf, jika saya tetap menolak nama ISLAM NUSANTARA, yang terbukti sudah memecah belah warga NU dan Umat Islam.

(Sabtu, 22 Agust 2015, waktu dini hari 03.45, suara hati aktifis muslim, NU GARIS LURUS).


Artikel Terkait