Nasehat Ust. Ibnu Abdillah Al Katiby Untuk NU Garis Lurus Dan Kontaminasi Liberal Dalam Tubuh NU

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Tokoh Rukyah Aswaja Ust. Imron Rosyidi atau yang populer dengan nama pena “Ust. Ibnu Abdillah Al Katibiy” penulis buku “Rekam Jejak Radikalisme Wahhabi” sudah sejak lama mengamati sepak terjang NU Garis Lurus. Berikut ini nasehat beliau yang dituliskan untuk NUGarisLurus.Com dan mengungkap kontaminasi liberal dalam tubuh NU.

Bismillah, saya berlindung kepada Allah Ta’ala dari keburukan hawa nafsu ini dan dari bisikan syaithan untuk menjerumuskan manusia ke lembah kehinaan abadi.

Saudaraku yang kucintai karena Allah, perjuangan Ahlus sunnah wal Jama’ah tidak akan pernah berjalan mulus, selalu akan ada rintangan dan hambatan dari luar maupun dari dalam tubuh Ahlus sunnah sendiri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari sudah memberikan wanti-wanti sekaligus peyemangat :

لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق لايضرهم من خذلهم حتى يأتي امر الله وهم كذالك

“ Akan ada sekelompok dari umatku yang senantiasa menampakkan dan memperjuangkan kebenaran. Tidak akan berpengaruh orang yang menentang mereka hingga tiba urusan Allah, sedangkan mereka tetap dalam keadaan seperti itu “.

Sekelompok ini, meskipun mereka berlainan dan berjauhan tempat dan daerah, akan senantiasa satu misi dan visi di dalam menegakkan paham Ahlus sunnah wal jama’ah. Meskipun akan selalu ada juga orang-orang yang menentang dan menghambat perjuangan mereka. Namun mereka tetap istiqamah dan teguh dalam semangat menegakkan kebenaran. Fenomena ini akan selalu terus berlanjut hingga ketibaan imam sang pemelurus dan penyatu umat yakni imam Mahdi. Menjelang kemunculannya, keadaan umat benar-benar dalam keadaan kacau dan membingungkan,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

المهدي مني، أجلى الجبهة  أقنى الأنف  يملأ الأرض قسطا وعدلا، كما ملئت جورا وظلما، ويملك سبع سنين

“ Mahdi dari keturunanku,  berdahi lebar dan hidung mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan ketegasan dan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi dengan ketidak adilan dan kedzaliman. Dan ia akan berkuasa selama tujuh tahun “.

Maka saya pribadi tidak kaget dengan fenomena aliran-aliran sempalan yang semakin eksis dan semakin banyak yang baru. Dan pula tidak kaget dengan kemunculan virus-virus menyedihkan seperti liberalisasi, fanatic buta dan semisalnya. Mereka akan selalu ada di setiap organisasi apapun.

Ya Rabbi, saya cukup prihatin virus liberalisasi yang tidak sedikit menjangkiti kaum Aswaja saat ini, tidak tokohnya dan tidak awamnya, sadar ataupun tidak sadar, betul-betul membuat sedih hati.

Otak yang terkontaminasi virus liberal, maka akan berpendapat, “ Semua aliran sempalan itu masih Islam dan wajar, kecuali satu yaitu wahabi “.

Kenapa saya katakan demikian, sebab paham liberal ini paham yang berusaha menggiring penganutnya menjauhi ajaran-ajaran syare’at Islam secara perlahan-lahan dan mengarahkannya kepada peham kebebasan hingga puncaknya melepaskan diri dari terikat aturan al-Quran dan Hadits Nabi. Nah, mereka semua lantas alergi dengan orang-orang yang berseru untuk kembali kepada ajaran al-Quran dan Hadits, mereka tidak akan mampu membedakan kebenaran. Seolah kaum yang menyeruh untuk kembali pada al-Quran dan Hadits itu sudah pasti wahabi. Padahal Ahlus sunnah sejak dulu hingga sekarang selalu menyeru kembali pada al-Quran dan Hadits dengan mainstream-mainstrem lurus yang sudah ditetapkan yang berbeda dengan wahabi. Maka jangan heran, jika tokoh-tokoh liberal tidak pernah menyinggung syi’ah, ahmadiah, mu’tazilah dan lainya.

Jika antum bertanya pendapat saya tentang NU Garis Lurus yang anggotanya juga dari kalangan santri alumni pondok pesantren, maka saya katakan, di awal-awal saya mengamati pergerakannya penuh dengan nasehat terhadap warga-warga NU yang sudah mulai menjauh atau berbeda dengan paham pendiri NU sendiri KH. Hasyim As’ari Rahimahullah…dan belakangan saya amati semakin eksis menulis artikel-artikel pelurusan di dalam membantah atau meluruskan artikel-artikel yang dianggapnya tidak lurus dari kalangan NU sendiri. Namun, saya pribadi menyarankan agar bahasa dan cara penyampaiannya lebih dilembutkan lagi, seolah sedang menasehati saudara tercinta kita.

Demikian dari saya, semoga kita semua selalu dalam bimbingan dan taufiq Allah Ta’ala…Aaamiin…

Wallahu Alam.


Artikel Terkait