Mencoba Memahami Dan Mendoakan NU Garis Lurus

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Redaksi mendapatkan tulisan sangat bijaksana yang belum diketahui sumber aslinya. Catatan tentang mencoba memahami dan mendoakan saja NU Garis Lurus jika belum berani melakukan hal yang sama. Tulisan ini terakhir kami terima dari KH. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) Pengasuh Pondok Pesantren Leler Banyumas dari pengirim yang tidak menyebut nama.

Mereka kaum NU Garis Lurus, semuanya menginginkan dakwah dengan cara yang halus dan hal itu sudah sering terlaksana, sbb mereka semua punya lahan pendidikan, majelis ilmu, cuma dakwah yang indah itu tidak terus menerus bisa berjalan mulus seperti yang diinginkan, terutama bila yang dihadapi adalah seorang yang memiliki watak binal yang selalu ingin melawan Syariah.

Rasulullah berdakwah selalu dengan cara yang damai nan menyejukkan, tapi juga beliau  memakai cara tegas, menghukum, merajam, memotong tangan, juga mengkisos.

Beliau mubassyir, tapi juga nadzir…. Sekali lagi Bukan hanya mubassyir tapi juga nadzir.

Penerapan cara yang yang halus pasti diinginkan, agar dakwah bisa diterima dengan lapang dada. Tapi Dalam sebuah kondisi.
Penerapan cara yang tegas juga pada satu kondisi harus diterapkan bila yang dihadapi adalah manusia yang selalu mencari keanehan. Sudzzaz.

Sayidina Abu Bakar Ash Shiddik berperangai halus, dan halus sekali, tapi beliau nampak tegas dan tega saat memerangi penolak zakat dan mengirimkan bala tentara yang besar, yang sekaligus memerangi orang yang murtadddin. Pada Saat itu Oleh Sayyidana Umar beliau dicegah atau dianggap salah, mengingat penolak zakat masih berstatus muslim tidak boleh diperangi , tapi sayidina Abu Bakar tetap bersikeras untuk memakai cara “perang”. Dan setelah difikir ternyata kebenaran ada ditangan sang Khalifah.

Berarti cara itu adalah metode yang sifatnya ijtihadi.

Sayyidana Umar bin khottob pernah memukul kepala sofwan bin rasal dengan pentungnya sampai kepalanya berdarah darah, dikarenakan dia selalu menanyakan/ berkomentar tentang ayat mutasyabihat.

Sayyidana Ali pernah membakar kaum syiah yang memuja mujanya lebih dari batas, kaum yang menuhankan dia. Ketika mereka akan dibakar, mereka berkata : Kami tambah yakin bahwa engkau adalah tuhan, karena tidak ada yang menyiksa dengan api kecuali tuhan.

Ini yang terjadi Di zaman keemasan Kholifah.

Contoh yang mirip,, yaitu yang terjadi setelah zaman “emas tersebut”. Yaitu Syeh Ibnu taymiyyah , beliau terkenal keras dalam membawakan pendapat yang dianutnya, kita bisa dapati dari karya karya tulis beliau, seperti
السيف المسلول في الذب عن السول
sampai dari kerasnya, beliau dimusuhi oleh ulama yang sezaman. Bahkan diturunkan paksa dari mimbar dan dipenjarakan. Mengapa… Karena demi mempertahankan keyakinannya, beliau rela mengalami semua itu. ( Beda dengan uslub dakwah ibnul qoyyim, sang murid, kalimat nya begitu halus dan penuh dengan kearifan) .

Kenapa berbeda… Karena zaman Ibnu taymiyah beda dengan zaman Ibnul Qoyyim. Ibnu Taymiyah adalah penggagas, pendobrak pertama kali dari pendapatnya, pastilah beliau akan menuai kontroversi dari para mukholifnya, sedangkan ibnu qoyyim hanya meneruskannya.

Imam malik dalam takdhim nya pada Rasulullah, punya kriteria yang sangat tajam, yang mungkin lebih tajam dari yang lain , sehingga bila mana terlihat ada seseorang yang menyalahi aturan beliau, pasti beliau akan menegur dengan tegas, siapapun orangnya. Anda bisa baca dimanakib beliau “Malik Bin Anas”  tulisan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Almaliki, bagaimana beliau menegur Harun Arrasyid ketika mengangkat suara diarea masjid NABAWI, padahal yang ditegur adalah Kholifah .
Juga bagaimana beliau menolak untuk mendatangi rumah Kholifah untuk mengajar 2 putranya, Amin dan Makmun.

Kita semua juga bisa membaca Rosail Rudud Khilafiyah antara Imam Suyuthi dan Imam Sakhowi dalam Addiya’ul laamik Fi Tarjamati Ulama Qornit Tasik, betapa kalimat mereka  pedas. Saling menjatuhkan.
Juga Antara Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqollani dan Badriddin Al Aini.

Semua contoh diatas dibawakan demi untuk menggambarkan bahwa metode dakwah tidak harus dengan melunak seperti yang diinginkan, semua orang. Dan semua memiliki cara sendiri sendiri dan mereka adalah ulama, sangat mengerti tentang hadis yang berkaitan dengan amar makruf.

Bahkan dalam Qaedah jarh wat takdil dikatakan

الفاسق يهتك عرضه.

Mereka yang di Cibir telah terjun di dunia seperti kita , namun kita belum pernah mengalami alam yang mereka jajaki saat ini.
Bandingannya adalah seperti Manakala ada santri yang melanggar hukum pesantren, selaku pengurus, dialah yang sanggup untuk menyelesaikannya, mereka lah yang tahu cara menyelesaikannya.

Demikian pula disaat para mukholif dari hukum Syariah yang telah menyelewengkan ilmu yang dititipkan Allah, maka yang sanggup menyelesaikan adalah yang kompeten untuk itu, dengan caranya dan tidak dengan cara kita , sebab buktinya kita tidak peduli atau tidak mampu menangani nya.

Pesepak bola yang kemasukan gol sudah berusaha untuk mempertahankan gawang, tapi apakah kita akan membodohkan bodoh kan pemainnya…??? dan mungkin bila kita yang berganti kostum, kita akan kebobolan lebih banyak.

Tentang dugaan tingkah NU Garis Lurus adalah melebihi dari porsi nya,,, Saya kira itu faham perlu dibenahi, sebab mereka tidak memukul, tidak memenjarakan, tidak aniaya, sama sekali tidak, mereka malah berani mengangkat suara ulama salaf, suara anda, berani mengambil risiko akan dimusuhi.

قال الشيخ أسعد الصاغرجي : والحق انه لا يمنع أحد من القيام بالمعروف لأن النصوص عامة توجب على كل فرد، الأمر بالمعروف وتجعل كل فرد يسكت على المنكر عاصيا مادام قادرا على أن ينهى عنه

Pendapat yang benar adalah bahwa dipersilakan melakukan amar makruf bagi setiap orang, sbb dalil tentang hal itu sifatnya umum, maka sasarannya pun umum, jadi kewajiban tersebut akan mengena pada setiap orang, bahkan bila ada diantara kita yang membiarkan dan dia sanggup untuk menyelesaikannya, maka dia dianggap maksiat.

Yang jadi pertanyaan, mengapa kita yang telah melihat kemungkaran tersebut, dan kita tidak memiliki keinginan untuk menyangkalnya. Dan ketika ada diantara kita yang menyuarakan suara kita dengan tegas, dengan cara yang dimilikinya dan cara itu tidak sesuai dengan kriteria kita , maka lantas keluar kata yang tidak layak.

Menurut saya dakwah itu wajib bagi mereka yang mempunyai kemampuan, dan cara dakwah yang terbagus adalah dengan cara yang lunak tapi itu dalam suatu kondisi, sedangkan kondisi dilapangan terkadang beda dengan teori.

Asyyeh As’ad Soghorji berkata tentang salah satu dari yang boleh dilakukan dalam amar makruf nahi-munkar.

التعتيف : ويكون عند العجز عن المنع باللطف ويظهر على المنهي الإصرار على المنكر والاستهزاء. فانظر إلى قوله تعالى : ما هذه التماثيل التي انتم لها عاكفون……. لقد كنتم انتم واباءكم في ضلال مبين.
وقال تعالى : اف لكم ولما تعبدون من دون الله أفلا تعقلون.
Mencela orang diperbolehkan ketika pelaku amar makruf tidak mampu lagi merubah dengan cara yang halus. Bila objek terus menerus menampakkan maksiyatnya, mengejek. Firman Allah yang menceritakan pencelaan nabi Ibrahim pada penyembah berhala :

” Kalian dan bapak kalian selalu dalam kesesatan”.
“celakalah untuk kalian dan sesembahan kalian selain Allah “.

Seorang penyair ( Almutanabbi) berkata :

لا خير في حلم اذا لم تكن له
بوادر تحمي صفحه أن يكدر
Tidak ada gunanya dalam sifat kelembutan, bila dia tidak bisa menjaga dirinya dari hal yang merusak dirinya.

Terakhir tulisan ini bukanlah untuk mengajak untuk meniru pada sesuatu yang telah dilakukan oleh mereka, tapi demi untuk mengintrospeksi kita, sudahkah anda kita melakukan amar makruf dengan kondisi saat ini. Bukankah lebih baik mendoakannya…

Wallahu Alam


Artikel Terkait