Kiai Khosh dan Kiai Cash

Shortlink:

wpid-img-20150806-wa0108.jpgannahl_16Tafsir pada media ini bersifat tahlily dan kini sedang mengkaji ayat ke 16 surah al-Nahl. “wa ‘alamat, wa bi al-najm hum yahtadun”. Bahwa Allah SWT menciptakan berbagai tanda agar umat manusia mudah mencapai tujuan via tanda itu. Kemudian ditunjuk fungsi bintang pada waktu malam, yaitu sebagai petunjuk arah bagi para musafir dalam perjalanan malam.

Begitu makna dasar ayat studi ini terkait dengan munasabah dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu tentang servis Tuhan kepada manusia, baik di lautan maupun di daratan. Lautan sebagai transportasi, ikan-ikan segar sebagai konsumsi (li ta’kulu minh lahma thariyya) dan mutiara sebagai aset dan perhiasan (wa tastakhriju minh hilyah talbasunaha).

Di darat, Tuhan mencipta gunung-gunung sebagai pasak agar bumi stabil dan nyaman dihuni (rawasy an tamid bikum). Sungai mengalir (wa anhara) dan jalan-jalan membentang (wa subula). Dengan servis ini diharap agar manusia bersyukur dan bisa memetik hidayah.

Ketepatan hari ini jam’iyah Nahdlatul Ulama yang bersimbol sembilan bintang itu mengadakan Muktamar ke 33, sehingga cukup beralasan bila momen ini dimanfaatkan untuk bertafsir aktual. Tafsir ini yang tidak sekedar menyorot makna asasi saja, melainkan membias pula pada aktualilasi terkait kehidupan masa kini.

Bintang (al-najm), dunia sepakat tidak saja bermakna hakiki, yaitu bodi planet bintang yang bersinar di malam hari, melainkan pula bermakna majazi. Dalam bahasa metaforik, kata yang sama bisa bermakna beda, karena perbedaan tradisi.

Seperti al-kalb (anjing). Di negeri ini, orang digelari sebagai anjing (al-Kalby) tentu merasa dihina dan direndahkan, barang kali karena ekses makna najis mughalladhah. Sedangkan di Arab justru itu pujian. Bagi Arab, anjing adalah binatang paling cerdas, paling patuh kepada majikan dan betah tidak tidur semalaman. Ada sahabat Nabi bernama Dihyah al-Kalby, al-Kalby juga nama seorang mufassir besar dan salah satu kakek Rasulullah SAW ada bernama Kilab.

Khusus al-najm (bintang) dunia sepakat, bahwa makna kiasannya berkonotasikan positif: top prestasi, pencerah, pelopor, maskot, idola, panutan dan sebangsanya. Bintang yang dimaksud tentu bintang yang bersinar dan bukan bintang yang redup menggelap.

Sembilan bintang yang bertabur pada simbol NU adalah lambang top panutan, yakni Nabi Muhammad SAW, empat al-khulafa’ al-rasyidun dan empat imam madzhab fiqhy. Sesuai perkembangan, lalu diaktualkan pada jumlah kiai yang diamanati sebagai anggota ahlul halli wa al-‘aqdi (AHWA).

Apapun pemaknaannya, yang prinsip adalah bahwa jam’iyah ini menempatkan “ulama” sebagai pengampu utama dan top leader. Makanya, diberi nama Nahdlatul Ulama, pergerakan ulama’, bukan pergerakan pedagang, pangacara, petani, politikus dll. Artinya, ulama punya kewenangan mutlak dalam kebijakan NU, punya otorita dan hak veto. Itulah Syuriah yang ketuanya berjuluk Rais ‘Am.

Jadi, muktamar NU sejatinya muktamar para pewaris Nabi, muktamar para bintang agama, bintang ketaqwaan, bintang akhlaq mulia, bintang ilmu pengetahuan dan bintang segala kebajikan untuk memilih pewaris nabi yang terbaik.

Tradisi NU dulu (sekali lagi: dulu), para kiai berebut lari dan menolak ditunjuk menjadi ketua. Ya, karena mereka sadar bahwa memimpin itu amanat, makanya mereka bersinar meski telah tiada. Persoalannya, apakah para muktamirin kini hadir sebagai bintang Tuhan?. Mudah-mudahan semua kiai yang hadir adalah kiai Khosh yang bersih dan bukan kiai Cash yang money politic.


Artikel Terkait