KH. Luthfi Bashori: NU Garis Lurus Dan Dakwah Sunan Giri

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Dikutip dari tulisan KH. Luthfi Bashori tentang istilah NU Garis Lurus dan metode dakwah dan perjuangan Sunan Giri.

NU GARIS LURUS,
WADAH ESTAFET PEMIKIRAN DAKWAH SUNAN GIRI

Luthfi Bashori

Sebagai warga NU, salah satu panutan hidup bagi penulis, adalah kehidupan para Walisongo. Sebagai warga Jawa Timur, penulis merasa cocok memilih figur Sunan Giri sebagai rujukan dalam metode pengamalan ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan tata cara bermasyarakat. Karena itulah, dalam situs pribadi yang beralamatkan www.pejuangislam.com, penulis sertakan kata-kata: ESTAFET PEMIKIRAN DAKWAH SUNAN GIRI.

Jika menengok banyaknya versi sejarah tentang keberadaan Walisongo sebagai penyebar ajaran Islam pertama kali di Indonesia, khususnya membaca sejarah hidup dan perjuangan Sunan Giri. Maka sah-sah saja jika penulis mengambil suatu kesimpulan berdasarkan beberapa sumber yang berbeda tentang figur dan metode dakwah Sunan Giri, lantas penulis jadikan sebagai motifator dalam melanjutkan dakwah islamiyah versi Sunan Giri, dengan tujuan untuk diperbarui serta disesuaikan dengan kehidupan masyarakat di `era digital` seperti saat ini.

Sunan Giri diberi julukan Pimpinan Golongan Putihan (Kaum Putih) yang dalam istilah trendinya dewasa ini, adalah PIMPINAN KAUM GARIS LURUS. Karena dalam dakwah-dakwahnya, Sunan Giri selalu berpegang teguh dengan dalil Alquran, Hadits serta ajaran para ulama Salaf, maka beliau terkenal juga dengan julukan Sultan Abdul Faqih, ini karena kedalaman dan luasnya ilmu fiqih yang beliau kuasai, dan beliau juga yang ditunjuk sebagai Mufti Tanah Jawa dan Ketua Persidangan, saat menvonis mati Ksiti/Siti/Sidi Jenar.

Ksiti/Siti/Sidi Jenar sendiri dijuluki Pimpinan Golongan Abangan (Kaum Merah). Tentunya banyak pula versi tentang siapa jati diri Sidi Jenar yang sebenarnya? Maka sah-sah saja jika penulis mengambil satu kesimpulan dari sekian banyak literatur yang ada, bahwa Sidi Jenar yang memiliki nama asli Abdul Jalil, adalah seorang tokoh penganut aliran Wihdatul Wujud (Menyatu dengan Allah, atau aliran Manunggaling Kawulo Gusti), yang mengajarkan kepada para pengikutnya, bahwa  ‘TIDAK WAJIB MENGAMALKAN SYARIAT SHALAT LIMA WAKTU, KARENA DIA DAN PARA PENGIKUTNYA SUDAH MENGAMALKAN ILMU HAKIKAT ALIAS MA’RIFAT KEPADA ALLAH’, bahkan Sidi Jenar juga pernah ‘MENGAKU SEBAGAI TUHAN’. Pemahaman Sidi Jenar ini divonis SESAT oleh Para Walisongo, hingga Sunan Giri mengeluarkan FATWA MATI untuk Sidi Jenar.

Sebagai warga NU, penulis meyakini, bahwa selama ini yang menjadi acuan seluruh warga NU dalam beramal ibadah dan beraqidah adalah sesuai dengan ajaran Para Walisongo, bukan ajaran Sidi Jenar.

Berikutnya, bahwa warga NU dimanapun berada, selagi masih berada di wilayah NKRI, jika mengadakan wisata religi, maka yang menjadi tujuan utama mereka adalah ziarah ke makam para Walisongo, bukan ke makam Sidi Jenar. Ini juga termasuk salah satu bukti ilmiah yang sesuai realita di tengah masyarakat.

Dari riwayat inilah penulis terinspirasi menggunakan istilah ESTAFET PEMIKIRAN DAKWAH SUNAN GIRI, untuk disematkan dalam situs pribadi. Karena penulis bercita-cita menjadi muslim seperti figur Sunan Giri yang selalu merujuk kepada syariat Islam secara baik dan benar dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan bermasyarakat, serta ikut berusaha menjaga aqidah umat dari serangan aliran-aliran sesat yang semakin marak disusupkan ke dalam kalangan warga NU.

Sebagai contoh kecil tentang ketegasan Sunan Giri dalam berdakwah, beliau secara tegas mengharamkan dan menolak penampilan Wayang Bergambar Manusia secara utuh, karena beliau menghukumi haram, dengan menggunakan dalil hadits tentang larangan melukis makhluk hidup dengan 3 dimensi, khawatir menyerupai bentuk patung, yaitu sekira lukisan itu mempunyai bayangan utuh.

Namun, saat bentuk wayang dirobah menjadi Wayang Kulit dengan 2 dimensi, alias tidak berbentuk semi patung dan tidak mempunyai bayangan utuh, yang mana dalam hukum melukis makhluk hidup yang tidak utuh dan tidak memiliki bayangan ini, masih terjadi khilafiyah di antara para ulama, yaitu ada yang mengharamkan dan ada yang memperbolehkan. Maka Sunan Giri dapat mentolelir penampilan Wayang Kulit, sebagai langkah kompromi dakwah dengan budaya masyarakat Indonesia saat itu, dan selagi masih ada pendapat yang memperbolehkan.

Jadi, figur Sunan Giri ini dikenal sebagai anggota Walisongo yang tegas dalam menerapkan hukum syariat, namun di saat tertentu beliau menjadi da’i yang kompromis, jika mendapati adanya kemaslahatan dalam menerapkan metode dakwah, dan selagi tidak melanggar hukum syariat yang sudah jelas dan transparan.  

Sumber: PejuangIslam.Com


Artikel Terkait