Inilah ASWAJA: Bukan Liberal, Wahabi Atau Syiah

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Siapapun yang membawa paham liberal, syiah maupun wahabi tidak bisa menggunakan nama atau mengklaim dirinya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (ASWAJA). Karena ASWAJA itu bukan liberal, wahabi apalagi syiah.

ASWAJA ITU BUKAN LIBERAL, BUKAN WAHHABI & BUKAN SYIAH

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, bahwa Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi (keyakinan), pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

Pengertian di atas menunjukkan, bahwa liberalisme sebagai penganut kebebasan itu bukanlah berasal dari ajaran Islam, apa lagi lebih spesifik Ahlus Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA). Karena ajaran Aswaja itu bukan ajaran kebebasan, namun ajaran yang penuh dengan aturan.

Baik yang bersifat aturan gelobal seperti batasan-batasan yang terdapat dalam Kitab Suci Alquran maupun Hadits Nabawi, atau aturan yang lebih terinci, yaitu hasil ijtihad para ulama dalam menerjemahkan isi yang terkandung dalam Alquran dan Hadits, lantas dicetuskan dalam bentuk batasan ilmu Fiqih, ilmu Tasawwuf, ilmu falaq, ilmu Faraid, dan sebagainya.

Dari sini jelaslan, bahwa hanyalah sebuah kebohongan dan penipuan saja jika kaum Liberal mengaku-ngaku sebagai penganut Aswaja. Sekalipun banyak di antara penganut liberalisme yang sengaja mendompleng kepada ormas-ormas Islam yang berasas ASWAJA. Hal ini mereka lakukan dengan tujuan untuk melancarkan upaya liberalisasi ormas yang mereka masuki tersebut.

Sayangnya, banyak aktifis ormas Islam yang tidak sadar dan kurang peduli terhadap bahaya Liberalisme yang merusak eksistensi ormas Islam yang disusupinya, khususnya dalam bidang keselamatan aqidah para anggota ormas terkait. 

Di sisi lain, ada pula pengikut aliran Wahhabi, yang kerap kali mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah, padahal mereka itu hakikatnya berpegang teguh kepada ajaran Muhammad bin Abdul Wahhab Annajdi (Saudi), sang Pencetus sekte Wahhabi yang tidak mengakui keimanan dan keislaman para ulama Salaf yang hidup sebelum jamannya.

Demikian juga kaum Wahhabi ini adalah pengagung Nashiruddin Al-Albani, tokoh Wahhabi yang baru lahir tahun 1914 M, namun sudah berani menolak dan menyalahkan Imam Bukhari, yang wafat tahun 870 M, bahkan tidak segan-segan meragukan keislaman dan keimanan Imam Bukhari.

Imam Bukhari adalah  ulama  ahli hadits paling handal di dunia, dan kitab karangannya, Shahih Bukhari, diakui oleh para ulama sebagai kitab yang paling shahih (benar) setelah Alquran. Beliau  termasuk ulama yang memperbolahkan pentakwilan terhadap ayat mutasyabihat, maka dengan serampangan Al-albani mengatakan terhadap Imam Bukhari: ” Ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang muslim yang beriman “ (Lihatlah kitab Fatawa Al-Albany, m/s 523).

Selain dua golongan sesat di atas, masih ada lagi golongan sesat yang sering memperdayai umat Islam ASWAJA khususnya kalangan awwam, untuk ditarik mengikuti pamam sesatnya, yaitu golongan Syiah pengikut Khomeini Iran.

Golongan ini sangat membenci para shahabat Nabi Muhammad dan para istri beliau SAW, serta mengingkari kemurnian Alquran sebagai Kitab Suci umat Islam. Pernyataan semacam demikian ini dapat dilihat pada kitab-kitab rujukan utama sekte Syiah.

Penulis: KH. Luthfi Bashori
Sumber: PejuangIslam.Com

Wallahu Alam


Artikel Terkait