Buat Teman -Teman Banser: Mari Cari Teman Yang Lurus!

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Toleransi dibangun dengan Tidak Mengganggu bukan dengan Ikut Menjaga dan Merayakan. Tulisan dari KH. Luthfi Bashori tentang tata cara memilih teman bisa di resapi dan direnungkan.

KAWAN LURUS vs KAWAN SESAT

Luthfi Bashori

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Al-Mar’u ‘ala dini khalilihi, falyandzur ahadukum man yukhalil (Seseorang itu bergantung pada agama shahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bershahabat).” (HR Abu Dawud & Attirmidzi).

Jadi kualitas agama atau aqidah seseorang itu sangat terkait erat dengan hubungan siapa yang menjadi kawan dekatnya. Karena itu termasuk keharusan bagi seseorang itu, adalah memilih kawan dekat dari kalangan orang-orang yang terbaik kualitas agamanya dan lurus aqidahnya.

Jika ada seorang muslim yang senang berkumpul dan berinteraksi dengan para ulama, ahli pendidikan Islam, orang-orang shaleh, ahli ibadah, ahli shadaqah, ahli hadir majelis ta’lim, ahli bersilaturrahim, dan ahli kebaikan lainnya, maka orang tersebut dapat di kategorikan termasuk orang baik dan shalih.

Sebaliknya, jika ada yang mengaku sebagai orang Islam, namun senang berkumpul dengan para penjahat, seperti pencuri, pemabuk, penjudi, dan sebaginya, apalagi senang berkumpul dengan para penjahat aqidah, misalnya bershahabat dengan para penganut aliran sesat Syiah, Wahhabi, Liberalisme, atau senang berkumpul dengan kaum kafir, seperti kaum Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu dan Komunis (PKI), maka orang tersebut dapat dikategorikan sebagai orang fasiq (pelaku dosa besar), bahkan bisa masuk dalam definisi orang munafiq (tidak jelas agamanya).

Memilih kawan muslim yang baik perangainya, jika ditinjau dari segi keduniaan, maka dapat saling menguntungkan, misalnya saling mengambil manfaat dari pekerjaannya, atau kedudukannya atau bisa juga tukar menukar pengalaman positif, bahkan dapat saling menghibur kawannya.

Sekalipun tinjauan kebaikannya itu dari sisi keduniaan, namun untuk perkara yang positif semacam menjalin dan menjaga pergaulan yang baik ini, jika diniati ibadah kepada Allah, akan mendapat pahala amal shalih. Hal ini sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW dalam riwayat Imam Albukhari tentang amalan yang baik itu di antaranya adalah, idkhalus surur ‘ala qalbi mukmin (membahagiakan hati orang mukmin).

[PejuangIslam.Com]

Wallahu Alam


Artikel Terkait