Antara Bintang Said dan Bintang Solah

Shortlink:

Gus-Solah-kang-said-Muktamar-NU

annahl_16“Wa bi al-Najm hum yahtadun”. Kita masih ngaji ayat ini, ayat bintang yang oleh al-Qur’an dinyatakan sebagai bisa memberi pencerahan, petunjuk bagi para musafir agar tidak sesat jalan. Kini ada tiga bintang besar menggemerlap di Muktamar dan digadang bisa memimpin NU ke depan lebih bagus, lebih berbarakah, lebih manfaat dan lebih mashlahah fi al-din wa al-dun-ya wa al-akhirah. Yakni, Bintang Said, Bintang As’ad dan Bintang Solah.

Bintang Said disinyalir sebagai doktor tasawwuf yang paling cepat kaya di negeri ini (mungkin di dunia).

Bintang Said sangat cerdas melihat peluang bisnis. Pak Qasim Malang punya tanah luas dan ditawar Gereja dengan harga tinggi, tidak diberikan. Bintang Said datang membelinya dengan alasan untuk Islamic Center. Dengan senang hati pak Qasim menyerahkan dengan harga murah, itung-itung amal jariah demi izzul islam wal muslimin. Kini pak Qasim setres berat dan sakit-sakitan hingga seluruh keluarga berbalik mengutuk Bintang Said. Pasalnya, ternyata tanah itu kini menjadi milik Gereja dan telah dibangun gedung pendidikan megah sekali.

Sementara Bintang Solah pernah diberi uang satu milyar rupiah oleh temannya yang di luar negeri. Selang bebrapa waktu ketemu lagi dan melapor, bahwa uang kemarin sudah habis untuk pembangunan gedung di pesantren. Teman itu terbelalak: “Gimana sampean ini Gus?!. Uang itu untuk pribadi sampean, bukan untuk pesantren. Nih, saya kasih lagi dan ini untuk Gus pribadi”. Dan, semua “amplop” yang diterima setelah ceramah disedekahkan, tak sepeser pun dimakan.

Tulisan ini hanya menyorot bintang pertama dan ketiga saja, yakni: Bintang Said dan Bintang Solah dengan menyajikan spesifikasi masing-masing. Semoga menjadi referensi bagi para muktamirin dalam menentukan pilihan. Berikut varian cahaya yang mereka miliki:

Pertama, Bintang Said adalah seorang ilmuwan bergelar Doktor dari Ummul Qura Makkah Arab Saudi dan bergelar Profesor dari UIN Sunan Ampel Surabaya dalam bidang ilmu Tasawwuf. Sedangkan Bintang Solah seorang ilmuwan bergelar Doktor (HC) dari UIN Malang dalam bidang managemen Pesantren, terbaik.

Kedua, Bintang Said berlevel Kiai dan benar-benar alim. Jangankan baca kitab kuning, ngarang kitab saja bisa. Sedangkan Bintang Solah populer berjuluk Gus, tidak bisa membaca kitab kuning. Bisanya membaca kitab managemen dan kearsitekan, karena dia seorang insinyur ahli.

Ketiga, Bintang Said lahir dari tarah Bintang Siraj yang cemerlang dan Bintang Solah lahir dari Bintang Abdul Wahid bin Hadlratus Syekh KHM. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Keempat, Bintang Said disinyalir sebagai doktor tasawwuf yang paling cepat kaya di negeri ini (mungkin di dunia). Sejak era Gus Dur menjadi presiden, kekayaannya melimpah fantastis. Sedangkan Bintang Solah, meskipun kakaknya menjadi presiden, kekayaannya biasa-bisa saja.

Kelima, Bintang Said sangat cerdas melihat peluang bisnis. Pak Qasim Malang punya tanah luas dan ditawar Gereja dengan harga tinggi, tidak diberikan. Bintang Said datang membelinya dengan alasan untuk Islamic Center. Dengan senang hati pak Qasim menyerahkan dengan harga murah, itung-itung amal jariah demi izzul islam wal muslimin. Kini pak Qasim setres berat dan sakit-sakitan hingga seluruh keluarga berbalik mengutuk Bintang Said. Pasalnya, ternyata tanah itu kini menjadi milik Gereja dan telah dibangun gedung pendidikan megah sekali.

Senada dengan pengurus NU cabang Batam yang mensomasi Bintang Said karena enam hektar tanah pemberian otorita Batam untuk NU raib dan telah menjadi milik orang lain. Sementara cabang NU Batam tidak merasa menjual. Media ini memberitakan beberapa waktu lalu.

Sementara Bintang Solah pernah diberi uang satu milyar rupiah oleh temannya yang di luar negeri. Selang bebrapa waktu ketemu lagi dan melapor, bahwa uang kemarin sudah habis untuk pembangunan gedung di pesantren. Teman itu terbelalak: “Gimana sampean ini Gus?!. Uang itu untuk pribadi sampean, bukan untuk pesantren. Nih, saya kasih lagi dan ini untuk Gus pribadi”. Dan, semua “amplop” yang diterima setelah ceramah disedekahkan, tak sepeser pun dimakan.

Keenam, itu semua sebatas informasi, bisa dipertanyakan dan bisa dibuktikan. Apakah Bintang Said yang bergelar Doktor tasawwuf dan profesor tasawwuf itu berprilaku tasawwuf, berjiwa bersih, beramaliah zuhud sesuai disiplin ilmunya?. Biarkan hati anda bekerja dan menilai sendiri. Kini juga, apakah Bintang Solah yang doktor managemen itu sudah mengamalkan sesuai ilmunya?. Silakan anda lihat di pesantren yang dia asuh dan biarkan nurani anda menilai sendiri.

Ketujuh, sesuai fatwa ketua PBNU, al-mukarram kiai Said Aqil Siraj, bahwa kita wajib berakhlaq karimah dalam Muktamar ini. Maka silakan pilih Bintang mana yang paling berakhlaq karimah, Bintang mana yang amanah, yang bisa membawa mashlahah sesuai syariah agama. Pilhan anda itu amanah yang pasti dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan.


Artikel Terkait