Ratusan Tokoh Dan Syuriah NU Berkumpul di Malang Kritik Dan Prihatin Materi Muktamar

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com, MALANG – Materi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 mendapat sorotan tajam dalam
pertemuan para kiai dan habib di Malang Jawa Timur. Salah satu yang mendapat sorotan tajam adalah materi bahtsul masail mudluiyah terutama yang membahas khashaish Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

KH Idrus Ramli, tokoh Aswaja Center PWNU Jawa Timur mengungkapkan bahwa dalam materi khashais Aswaja itu justru banyak mengakomodasi paham di luar Aswaja. Sebaliknya paham Aswaja Nahdliyah tak terakomodasi.

“Wahabi, Syiah, Islam Liberal (Islib), terakomodasi, tapi Aswaja (NU) malah tak terakomodasi dalam materi Muktamar ini,” kata Kiai Idrus Ramli yang juga calon ketum PBNU disambut keprihatinan para kiai yang hadir dalam acara Silaturahim para Kiai dan Habaib, Kamis (9/7/2015). Hadir dalam acara itu Habib Taufiq dari Rabithah Alawiyah.

Kiai Idrus menyebut contoh tentang khashaish Ahlussunnah Wal Jamaah pada poin ke-7. Yaitu menghormati perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiiyah, dan tidak mengklaim bahwa hanya pendapatnya yang benar, sedangkan pendapat lain dianggap salah.

”Kalau soal aqidah kan kita harus meyakini hanya pendapat kita yang benar. Kalau kita meyakini agama lain benar, itu sesat. Masuk neraka,” kata Kiai Idrus Ramli.

Menurut dia, kepengurusan PBNU yang sekarang memang terdiri tiga kelompok kepentingan. Yaitu terdiri dari pengurus
PBNU yang berlatarbelakang dan membela Syiah, Wahabi dan Islam Liberal. ”Ada seorang pengurus PBNU yang baru-baru ini menulis kitab yang materinya menegaskan bahwa antara NU dan Wahabi tidak ada perbedaan. Kalau toh ada perbedaan hanyalah bersifat furu”iyah (cabang),” ungkap Kiai Idrus.

Padahal Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendirikan NU justru karena menolak Wahabi. Begitu juga soal Syiah. Dalam
Muqaddimah Qonun Asasi, Mbah Hasyim –panggilan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari– secara tegas menyatakan bahwa Syiah itu sesat.

Kiai Idrus juga mengkritisi beberapa kitab yang jadi rujukan materi Muktamar NU. Menurut dia, beberapa kitab itu bukanlah standar Aswaja karena isinya banyak yang sudah diubah oleh Wahabi.

Selain Kiai Idrus, acara silaturahim dan buka bersama para kiai se-Jawa Timur itu juga menampilkan Ustadz Hilmy Asshiddiqy, santri ajengan KH Ilyas Rukhiyat, tokoh besar dalam sejarah NU yang pernah menjadi Rais Am Syuriah PBNU. Ia juga mengungkap beberapa kejanggalan materi Muktamar yang menurut dia sudah keluar dari rel Aswaja.

Mendengar paparan para pengkaji itu para kiai terenyuh. Mereka bahkan berdoa agar NU masih diselamatkan oleh Allah SWT. “Ini sudah parah. Saya mengikuti Muktamar NU sejak 1969. Saya ini jadi Rais Syuriah sudah tiga periode. Tapi baru kali ini mengalami Muktamar NU seperti sekarang,” kata KH Hisyam Syafaat, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blok Agung Banyuwangi Jawa Timur.

Ratusan kiai dan para Syuriah NU yang berasal dari seluruh Jawa Timur itu prihatin terhadap upaya panitia Muktamar yang mereka anggap sudah di luar rel. Mereka terus membahas berbagai kejanggalan yang dinilai merongrong NU dari dalam.


Artikel Terkait