PWNU Lampung Tolak Premanisme PBNU, PWNU Maluku: PBNU Tidak Bijak

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH. Drs Aliman Marzuqi, MPdI mengaku prihatin terhadap perilaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Panitia Muktamar NU yang dianggap sama sekali tak mencerminkan akhlak mulia.

Karena itu ia secara tegas menolak mengisi formulir Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) yang dipaksakan panitia Muktamar NU.

“Kami menolak cara-cara premanisme,” kata Kiai Aliman Marzuqi kepada wartawan sebagaimana dikutip BangsaOnline.Com

Sementara itu, Pemaksaan sistem ahlul halli wal aqdi (ahwa) hanyalah alat untuk mempertahankan status quo pengurus PBNU saat ini yang dijabat Rois Am KH. Musthofa Bisri dan Ketua Umum KH. Said Aqil Siroj, yang kebetulan mencalonkan kembali dalam Muktamar ke-33 NU. Demikian dikatakan Wakil Ketua PWNU Maluku, H. Karnusa Serang kepada wartawan, Rabu (29/7).

“Jelas sekali pemaksaan ahwa dari pihak tertentu untuk mempertahankan pengurus sekarang. Dan itu sungguh merupakan cara yang tidak bijak dalam NU karena mengandung ambisi orang perorang,” katanya.

Banyak perwakilan NU daerah menolak duet kepemimpinan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai pejabat Rais Am Syuriah dan KH Said Aqil Siraj sebagai ketua umum PBNU dianggap gagal membendung serbuan paham luar Aswaja ke dalam NU. Bahkan duet dua kiai ini diduga menoleransi paham di luar Aswaja masuk ke NU. Apalagi Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdallah adalah menantu Gus Mus sendiri.

Sekedar informasi, Ulil terkenal dengan kredonya bahwa Islam Bukan Agama Paling Benar. “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar,” kata Ulil seperti dikutip Majalah Gatra edisi 21 Desember 2002. Tesis-tesis nyeleneh seperti inilah yang membuat para kiai NU keberatan.

“Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pecinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya,” kata Ulil seperti dikutip Kompas edisi 18 Nopember 2002.

Gus Mus sendiri tak pernah mempersoalkan sikap menantunya itu. A Dardiri Zubairi, penulis di Kompasiana, mengaku pernah menyaksikan pernyataan Gus Mus soal Ulil. ”Saat saya mengikuti dialog Gus Mus,…di sebuah pondok pesantren di Sumenep, ada yang mempertanyakan keterlibatan mas ulil di JIL. Gus Mus (semoga saya tidak salah mendengar) menjawab begini, “Saya tidak merisaukan keterlibatan Ulil di JIL, yang penting Ulil tidak boleh berhenti belajar. Jika berhenti belajar, orang akan jatuh pada kesombongan”.

Semoga muktamar Jombang kali adalah momentum kembalinya pengurus NU ke khittah tanpa di perdaya partai politik dan nafsu keserakahan. (BangsaOnline.Com/Rmol.co)


Artikel Terkait