PENGKHIANATAN YAHUDI BANI ISRAEL KEPADA ALLAH & UMAT ISLAM

Shortlink:

dan-menanglah-gaza

Penulis KH. Luthfi Bashori

Sifat PENGKHIANAT adalah sifat asli Yahudi Bani Israel yang murni. Hal ini dapat dipastikan sebagaimana yang telah diabadikan oleh Allah dalam Alquran, bahwa Bani Israel pernah mendapat hidangan roti dan daging dari langit dengan syarat tertentu, tapi mereka justru mengkhianati syarat yang ditentukan oleh Allah.

Sy. Ammar bin Yasir RA memberitakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hidangan (makanan) yang diturunkan dari langit untuk Bani Israel itu berupa roti dan daging. Lalu mereka  diperintahkan agar jangan berkhianat dan jangan menyimpan hidangan tersebut sampai besok. Namun, mereka berbuat khianat dan menyimpan hidangan itu hingga esok harinya. Karena itu, mereka dikutuk menjadi kera-kera dan babi-babi.” (HR. Tirmidzi),

Kalau terhadap Allah saja Bani Israel berani berkhianat mengingkari janji, padahal mereka yakin dengan ketuhanan Allah, lantas bagaimana sikap Bani Israel terhadap sesama manusia?

Contoh: Pasca Intifadhah 2000, dunia telah menyaksikan bagaimana rejim Zionis telah mengalami kejutan demi kejutan, antara lain mereka terpaksa mengundurkan diri dari Gaza, mereka beberapa kali kalah dalam peperangan, hingga menyetujui diadakan gencatan senjata. Namun setiap kali pihak Palestina menerima perjanjian gencatan senjata, setiap kali pula Bani Israel berkhianat menyerang muslim Palestina terlebih dahulu. Bahkan semenjak tahun 2005 sehingga kini pun, rejim Zionis tidak pernah mengenal cara menghormati pihak muslim Palestina sedikitpun.

Gara-gara sifat PENGKHIANAT yang menjadi watak murni Bani Israel inilah hingga Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seandainya tidak ada Bani Israel, niscaya makanan tidak akan basi dan daging tidak akan membusuk. Dan andaikata tidak ada St. Hawwa, maka wanita tidak akan berbuat khianat terhadap suaminya selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Contoh lain, pada hari Rabu (21/11/2012), Hamas berhasil membuat ‘takluk’ Zionis-Israel dengan sebuah perjanjian gencatan senjata di Kairo, sesudah perang selama 8 hari yang diawali dengan pembunuhan pemimpin mujahidin Hamas Ahmad al-Ja’bari.

Di antara teks kesepakatan gencatan senjata tersebut adalah:

Pertama: Israel akan menghentikan semua tindakan permusuhan (hostilities) di daratan, laut dan udara Jalur Gaza, termasuk invasi-invasi dan penargetan individu-individunya.

Kedua: semua faksi Palestina akan menghentikan semua tindakan permusuhan dari Jalur Gaza terhadap Israel, termasuk serangan roket dan semua serangan di sepanjang perbatasan.

Ketiga, adanya pembukaan perbatasan-perbatasan dan difasilitasinya perpindahan atau pergerakan orang dan barang dan dihentikannya pembatasan-pembatasan terhadap warga serta pentargetan warga di kawasan perbatasan. Prosedur pelaksanaan (kesepakatan ini) akan dilaksanakan dalam 24 jam sesudah dimulainya gencatan senjata.

Namun, beberapa jam setelah diadakan perjanjian gencatan senjata antara Hamas dengan Zionis-Israel, ternyata tentara Israel masih melanggar kesepakatan dengan menembak petani Palestina.

Pengkhianatan Bani Israel terhadap umat Islam sejatinya sudah sering terjadi di masa Rasulullah SAW masih hidup.

Misalnya,  Yahudi Bani Qainuqa` adalah keturunan Bani Israel yang lebih dulu menunjukkan aksi pengkhianatan kolektif terhadap kesepakatan Piagam Madinah yang ditandatangani bersama, antara lain berisi:

1. Yahudi Bani `Auf merupakan satu komunitas bersama masyarakat Mu’min. Orang-orang Yahudi berhak menjalankan agama mereka dan orang-orang muslim berhak menjalankan agama mereka, begitu juga klan-¬klan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf.
2. Masyarakat Yahudi harus menanggung biaya hidupnya sendiri dan orang-¬orang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri.
3. Masyarakat Yahudi dan Muslim harus saling bahu membahu melawan musuh yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini.
4.  Mereka juga harus saling memberi saran dan nasihat dalam kebaikan, tapi tidak demikian dalam kejahatan.
5.  Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong.
6.  Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh.
7.  Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihak¬pihak yang menyepakati Piagam ini, sehingga khawatir akan merusak hubungan, maka  keputusannya harus dikembalikan kepada hukum Allah azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah.
8. Siapa pun tidak boleh memberi suaka (perlindungan) kepada Quraisy dan pendukungnya.

Dengan kemenangan umat Islam dalam perang Badar, sebenarnya telah membuka mata kaum Yahudi, bahwa kekuatan dan dominasi kaum muslimin di Madinah menjadi kenyataan.

Menurut riwayat Imam Abu Dawud, beberapa saat setelah kembali dari Badar, Rasulullah mengumpulkan Yahudi Bani Qainuqa` di pasar mereka untuk  memberi peringatan. Namun juru bicara Bani Qainuqa` malah menjawab, “Hai Muhammad.., jangan pernah merasa bangga hanya karena berhasil membunuh segelintir orang-¬orang Quraisy yang tidak pandai berperang itu. Seandainya kami yang menjadi lawanmu, engkau baru akan tahu, kamilah tandinganmu yang sebenarnya, dan engkau tidak akan banyak berkutik melawan kami”.

Dalam Perang Ahzab (perang Khandaq) yang terjadi pada tahun ke-5 Hijrah, Rasulullah SAW menghukum mati laki-laki dewasa dari kaum Yahudi, sedangkan anak-anak dan perempuan diusir keluar dari kota Madinah, karena pengkhianatan mereka kepada umat Islam.

Nabi Muhammad SAW menceritakan tentang watak asli Bani Israel dalam sabda beliau SAW: Bahwa dikatakan kepada Bani Israel, “Masuklah kalian dari pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah ‘Hiththah’ (Bebaskanlah kami dari dosa), lalu mereka memasukinya dengan merangkak dengan pantat-pantat mereka dan mereka mengganti ucapan itu dengan ‘Hinthah habbah fii sya’rab’ (Runtuhkanlah biji-biji gandum dari tangkainya).” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi).

Umat Islam yang baik dan benar, tentu tidak akan berkhianat kepada ajaran syariat agama yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW, untuk untuk diamalkan oleh umat Islam secara sempurna dan menyeluruh.

Tentunya, siapapun yang berkhianat terhadap ajaran syariat Islam maupun terhadap kepentingan umat Islam, maka tidak ubahnya seperti watak Pengkhianat Yahudi Bani Israel yang dimurkai oleh Allah selama-lamanya.

Sumber: PejuangIslam.Com


Artikel Terkait