Nasaruddin Umar Menurut Buku Membongkar Kedok Liberal Dalam Tubuh NU: Agen Feminis!

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com, – Salah satu tokoh yang ikut campur dalam penyusunan AHWA PBNU adalah Nasaruddin Umar. Bagaimana keliberalan seorang Nasaruddin Umar menurut buku membongkar kedok liberal dalam tubuh NU?

NASARUDDIN UMAR

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA. Lahir di Ujung-Bone, 23 Juni 1959, menyelesaikan S1 di IAIN Alauddin Makassar dan melanjutkan pendidikan pasca sarjana hingga memperoleh gelar doktor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. dia tercatat sebagai salah satu senior Islam Liberal di Indonesia yang mengusung ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme agama.

Selain sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin pasca sarjana IAIN

Jakarta dan pembantu Rektor III IAIN Jakarta juga sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia dan
Universitas Paramadina. Jabatan formal terakhir sebagai Dirjen

Bimas Islam Departemen Agama RI.
Berbagai pekerjaan dan jabatan telah ia geluti, antara lain:

Sebagai sekjen Lembaga Study Ilmu-ilmu Kemasyarakatan (LSIK), Staf pengajar program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 1997 sampai sekarang, Anggota Majlis Ulama Indonesia (MUI), 2000-2004, Katib Aam PBNU 2003-
2008, Anggota The UKA Indonesia Advisory Team, yang didirikan PM Tony Blair dan presoden SBY, 2005-2008, guru besar Tafsir al-Quran fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, Januari 2002, dan lain-lainnya. [wildanhasan.blogspot.com.]

Dalam menyelesaikan program doktoralnya, ia telah melakukan

Vissiting Student for Ph.D program, di McGill University, Montreal,
Canada (1993-1994), Vissting Student for Ph.D program di Leiden University Nedherlands (1994-1995), setelah selesai ia mendapat
undangan sebagai Vissiting Scholar di Shopia University Tokyo (2001), Vissiting Scholar di SAOS, University Of London (2001-2002), Vissiting Scholar di Georgetown University, Washington DC (2003-
2004).

Beberapa karya tulis dan buku tentang Islam dan feminisme sudah banyak diterbitkan diantaranya: Paradigma Baru Teologi
Perempuan (Fikahati Aneska, Jakarta, 2002), Bias Gender dalam Penafsiran Kitab Suci (Fikahati, 2000), Argumen Kesetaraan Gender:
Perspektif Al-Qur’an (Paramadina, 1999), Agama dan Seksualitas dan beberapa karya lain tersebar di beberapa media masa dan jurnal ilmiah hingga sekarang dikenal sangat konsisten sebagai pakar feminisme dalam Islam.

Gelar akademik tertinggi sebagai guru besar dalam bidang ilmu tafsir Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah diperoleh pada
tanggal 12 Januari 2002 dengan judul pidato ilmiah “Bias Gender dalam Penafsiran Al-Qur’an”. Nasaruddin Umar adalah ilmuwan yang rajin melakukan riset tentang perempuan di dalam teks-teks suci agama. Bahkan ia pernah
melakukan riset pustaka selama satu tahun lebih di perpustakaan universitas di Inggris dan Amerika.

Seperti diwawancarai oleh Jaringan Islam Liberal (JIL) dan dimuat di situsnya, menurut Pak Nas, demikian panggilan akrabnya,

“Semua kitab suci bias gender!”.
Pengakuannya tentang aktivitas kajian perempuan dalam kitab suci tersebut dia katakan, ”Kajian saya mungkin juga tidak terlalu serius, hanya saja tetap konsisten . Artinya apa yang saya katakan tentang kitab suci, dari dulu sampai sekarang tetap pada pendirian semula. Tapi saya akan terus meneliti dan meneliti lagi untuk mengetahui apakah temuan saya -yang akan diperkenalkan kepada masyarakat- mengandung kelemahan, perlu direvisi, dan sebagainya.

Di Inggris kemarin, saya mencoba meneliti kitab Talmud, dan kitab- kitab sumber Yahudi lainnya. Di SOAS Univercity of London,
literatur-literatur, khususnya tentang Yahudi sangat bagus. Menurut saya kajian literatur Yahudi ini penting untuk menunjang kajian saya
tentang perempuan.”

Pembelaan Pak Nas terhadap perempuan terlihat dalam kasus
poligami. Bahkan ketika ramai-ramai kasus Aa’ Gym melakukan
poligami, Nasaruddin yang setelah menjadi Dirjen Bimas Islam
Depag jarang berkomentar akhirnya mengeluarkan pernyataannya juga. Ia pengulang kata-kata yang pernah di muat dalam wawancara
di atas, “Jadi ada masa transisi yang digagas Islam sebagaimana juga persoalan poligami tadi. Yaitu transisi bagaimana Islam membebaskan umatnya dari masyarakat poligami. Dulu ada orang
Arab yang punya istri sepuluh, lalu Nabi mensyaratkan untuk
memilih empat diantara mereka kalau mau masuk Islam. Kalau Nabi
mengatakan untuk memilih satu saja, tentu terlalu drastis.”

Selain tentang perempuan, ada beberapa pendapat Nasaruddin Umar yang perlu dicatat, salah satu tentang pengertian Nabi yang “ummi”. Pendapat tersebut dapat dijumpai pada sebuah artikel yang ditulis pada edisi September 2005 majalah az-Zikra tentang definisi

“ummi” bagi Nabi Muhammad SAW. Menurut Nasaruddin Umar,
“ummi” bukanlah berarti “tidak dapat membaca dan menulis, “sebagaimana yang dipahami para ulama Islam selama ini. Tapi, tulisnya, makna “ummi” yang benar ialah yang disebutkan dalam bahasa Ibrani, yakni “pribumi” (native).

Kata Nasaruddin Umar, Profesor ilmu Tafsir di Universitas Islam Negeri Jakarta yang pernah mengatakan perlunya rekontruksi tafsir ayat soal poligami itu berkata, “Saya cenderung memahami kata ummi dalam arti pribumi, mengingat suku dan keluarga Nabi Muhammad tidak termasuk golongan pembaca kitab. Yang masyhur
sebagai pembaca kitab (Qori’) pada waktu itu ialah komunitas
Yahudi dan Nashrani. Mereka bukan warga native di dunia Arab.

Jika pemahaman kita seperti ini, Nabi Muhammad tentu bukan sosok
yang belum menganut paham salah satu kitab suci. Karenanya ia dipilih tuhan untuk menjadi Nabi dan Rasul. Orang secerdas Nabi sulit dipahami sebagai orang yang buta huruf atau orang yang tidak diperkenankan untuk membaca dan menulis. [Budi Hadrianto, 50 Tokoh Islam Liberal di Indonesia]


Dari biografi diatas, tidak salah lagi, bahwa Nasaruddin umar adalah agen Liberalisme Islam di Indonesia. Untuk ukuran Indonesia, Bisa dikatakan Nasaruddin umar adalah “Mbah-nya” kalangan feminis yang berhasil menyusup atau disusupkan ke Departemen Agama untuk mengegolkan berbagai agenda Liberalisme, satu diantaranya adalah penghapusan syari’at poligami.

Kesimpulan: Pantas saja AHWA tercium aroma liberal dengan memasukkan perempuan sebagai rumusan anggota karena unsur kesetaraan gender karena tokoh agen feminis ikut campur merumuskannya. Wallahu Alam


Artikel Terkait