MENJAUHKAN DIRI DARI ORANG KAFIR

Shortlink:

image

*Kultwit Kedekatan Habib Luthfi Bin Yahya Dengan Orang Kafir.

Dikutip Dari Tulisan KH. Luthfi Bashori

 

 

Menurut wikipedia bahasa Indonesia, kata kafir memiliki akar kata K-F-R yang berasal dari kata kufur yang berarti menutup. Pada zaman sebelum datangnya agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, kemudian menutup (mengubur) dengan tanah. Sehingga kalimat kafir bisa dimplikasikan menjadi “seseorang yang bersembunyi atau menutup diri”. Dengan demikian kata kafir menyiratkan arti seseorang yang bersembunyi atau menutup diri.

Sedangkan menurut syariat Islam, manusia kafir yaitu: seorang yang mengingkari Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, serta mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.

attaubah-ayat-28
Allah berfirman yang artinya:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram sesudah tahun ini (9 Hijriyah). Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah akan memberi kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Ataubah, 28).

Ayat ini sekalipun mayoritas ulama mengatakan bahwa kenajisan orang musyrik atau kafir itu bukanlah dipahami secara dhahir ayat sebagai najis fisik, melainkan najisnya secara  maknawi, namun kehinaan orang kafir ini tidak terbantahkan oleh siapapun.

al-mumtahanah-ayat-4
Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada bagi kamu suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, saat mereka berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu ibadati selain Allah, kami ingakari (kekafiran)-mu, dan telah nampak antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Permusushan sejati dengan orang kafir pengingkar ketuhanan Allah dan penyekutu kemahaesaan Allah, serta penentang syariat Allah, telah dibangun oleh para Nabi terdahulu. Maka tidak ada alasan bagi orang mukmin yang hidup di jaman sekarang, untuk hidup bermesra-mesraan dan berkasih sayang dengan orang kafir nan musyrik.

Menjauhi orang-orang kafir adalah perintah syariat, bahkan terhadap barang bekas orang-orang kafir pun diperintahkan untuk tidak langsung menggunakannya, karena orang-orang kafir itu hakikatnya adalah ibarat kotoran dan sampah yang menjijiknya.

Ada sahabat yang mengeluh kepada Rasulullah SAW, “Sungguh, daerah kami adalah daerah ahli kitab. Mereka memakan daging babi dan meminum arak. Lalu bagaimana jika kami akan menggunakan bejana-bejana dan periuk-periuk mereka?” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Jika memang engkau tidak mendapatkan bejana yang lain, maka cucilah (bejana itu lebih dahulu hingga suci) dengan air, setelah itu pakailah memasak dan minum.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Hadits di atas senada dengan yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Nabi SAW ditanya tentang periuk-periuk orang Majusi. Lalu beliau bersabda, “Bersihkanlah dengan mencucinya (lebih dahulu hingga suci), setelah itu masaklah dengannya.”

Agar umat Islam tidak terlalu menjalin hubungan cinta dan kasih sayang dengan orang kafir, maka Allah berwasiat yang artinya:

ali-imran-ayat-28
”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (kawan akrab, penolong, mitra hidup), dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri terhadap sesuatu yang ditakuti dari mereka”. [QS. Ali ’Imran, 28].

Dalam Alquran masih banyak ayat larangan bagi umat Islam agar tidak menjalin hubungan akrab dengan orang-orang yang mengingkari ketuhanan Allah dan memilih menyembah tuhan selain Allah.

annisa-ayat-138

”(Yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”. [QS. An-Nisa’, 139].

Jadi, janganlah umat Islam menjalin hubungan dekat dengan orang kafir, di luar urusan perniagaan atau pekerjaan mencari ma’isyah.

Janganlah umat Islam ikut andil membantu kekafiran oranq-orang kafir, seperti ikut menjaga keamanan gereja di hari natal, atau keamanan ritual orang-orang kafir di klenteng, pagoda, pura dan tempat-tempat ibadah orang-orang kafir lainnya, kecuali jika secara darurat mendapat tugas resmi kenegaraan, bagi umat Islam yang bekerja sebagai aparat keamanan, dan itupun hatinya tetap wajib mengingkari ritual-ritual yang dilakukan oleh orang-orang kafir pengingkar dan penyekutu ketuhanan Allah SWT.

Di negara majemuk yang berpenghuni campuran antara orang Islam dan orang kafir, maka keputusan umat Islam untuk mendiamkan atau membiarkan orang-orang kafir melakukan ritual agama mereka, selagi tidak mengganggu kedamaian umat Islam, maka yang demikian itu sudah sangat cukup toleran sebagai praktek muamalah atau tata cara bermasyarakat umat Islam terhadap orang-orang kafir.

Umat Islam dilarang berifat ‘lebay’ yang sok mejadi pahlawan pembela bagi kepentingan ritual non muslim.

[PejuangIslam.Com]


Artikel Terkait