Liberal, Syiah, Wahabi: Babi Penjual Agama

Shortlink:

imagePenulis KH. Luthfi Bashori

BABI PENJUAL AGAMA
Babi kok menjual agama?

Maksudnya, saat ini banyak di kalangan umat Islam yang sengaja menjual agama demi kepentingan pribadinya semata. Misalnya saat ada seorang yang hidupnya miskin, tiba-tiba pindah agama, hanya gara-gara tiap bulan mendapat santunan 1 kwintal beras dari pihak missionaris Kristen. Atau karena mendapat iming-iming sejumlah fasilitas lainnya. Agar si miskin itu bersedia murtad dari agama Islam.

Sungguh kasihan mereka yang imannya lemah hingga berani menjual agamanya hanya karena iming-iming perkara duniawiyah yang disediakan oleh para missionaris kafir. Betapa nistanya orang-orang yang semacam ini, ibarat kenistaan seekor babi di antara banyaknya jenis hewan yang hidup di dunia dalam pandangan umat Islam.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seringkali kemiskinan itu menjadi penyebab kekafiran”

Apakah predikat Babi Penjual Agama itu hanya disematkan kepada mereka yang sengaja murtad alias keluar dari agama Islam, karena agamanya sudah dijual kepada orang-orang kafir seperti ilustrasi di atas?

Tentunya masih banyak pula macam Babi Penjual Agama yang saat ini bergentayangan di sekeliling umat Islam. Di antara mereka ada yang sengaja menjual agamanya kepada para cukong aliran sesat, hingga aqidah Aswaja yang semula dimilikinya itu laku dijual demi mendapatkan dana maupun fasilitas yang disediakan oleh cukong-cukong penganut aliran sesat.

Rata-rata Babi Penjual Agama model ini, mereka mempunyai misi untuk memasarkan ajaran aliran sesat yang menyediakan dana besar bagi dirinya agar diterima oleh masyarakat yang dijadikan saaran tembak.

Contohnya, saat ini banyak tokoh berbaju Aswaja NU yang sengaja menggadaikan aqidahnya kepada kalangan sekte sesat Syiah Imamiyah Iraniyah (Khomeiniyah), hingga tanpa segan dan tanpa rasa malu, para Babi Penjual Agama ini mengadakan gerakan syiahisasi dalam tubuh NU secara besar-besaran, misalnya dengan cara menjual para pelajar NU ke negeri para Mullah, yaitu Iran.

Dengan mengirim generasi muda NU belajar ke kota Qum Iran untuk di-Syiah-kan, maka para tokoh itu mendapatkan imbalan sejumlah dana untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Ada pula tokoh-tokoh NU yang sengaja menjual warganya kepada dakwah kaum mujassimah sesat yaitu sekte Wahhabi Saudi Arabiah. Hal ini dilakukan demi mendapatkan kucuran dana Real yang jumlahnya sangat menggiurkan.

Modusnya, mereka mengadakan gerakan penyelarasan NU-Wahhabi dalam satu wadah pemikiran, seperti menerbitkan buku-buku yang sekira warga NU dapat menerima kehadiran tokoh-tokoh Wahhabi di kalangan mereka.

Terkadang ada juga kesengajaan beberapa tokoh NU yang mengundang tokoh-tokoh Wahhabi untuk ditampilkan dalam majelis-majelis ta’limnya, sehingga masyarakat dapat menerimanya tanpa mempertimbangakan bahaya apa yang bakal mereka dapatkan.

Orang seperti Syeikh Ali Jabir yang dalam cuplikan videonya mengatakan, bahwa termasuk perbuatan syirik, umat Islam yang berdoa dengan perantara para wali. Namun saat ini Syeikh Ali Jabir yang termasuk Wahhabi ‘kelas halus’ ini menjadi laris manis diundang oleh komunitas NU, sekalipun secara tidak langsung ia telah menuduh syirik terhadap warga NU yang berdoa tawassul dengan perantara para Walisongo.

Lebih parah, adalah maraknya tokoh NU yang berselingkuh dengan kaum orientalis kafir dari dunia Barat, yang sengaja menyediakan dana besar agar dapat menjajakah pemikiran sekularisme, pluralisme dan liberalisme (SEPILIS) di kalangan warga NU.

Contoh dedengkot JIL, Ulil Abshar Abdalah secara terang-terangan mengakui, jika proyek liberalisasi dalam tubuh NU yang ia mainkan itu, benar-benar mendapat sokongan dana besar dari Yayasan Asian Fondation, milik kaum kafir, saat ia berdoalog terbuka di Surabaya dengan penulis beberapa tahun silam.

Tentunya sudah banyak proyek jual-beli tender SEPILIS dengan kaum orientalis kafir ini, yang telah dimainkan oleh para Babi Penjual Agama, khususnya dalam tubuh NU, hingga saat ini penyakit SEPILIS sudah sangat marak merambah dunia warga NU.

Apa panggilan Babi Penjual Agama itu tidak terlalu keras jika disematkan kepada mereka yang sengaja menjual agama dan aqidahnya kepada kalangan non muslim maupun aliran sesat?

Sebenarnya istilah Babi Penjual Agama ini, di ambil dari sebuah riwayat, bahwa jaman dulu kala ada seorang lelaki yang selalu menemani Nabi Musa AS dan selalu menyertai beliau di mana saja berada. Bahkan lelaki itu dapat belajar ilmu agama secara langsung dari Nabi Musa AS.

Suatu saat Allah menjadikan lelaki itu berkehidupan makmur dan rezekinya lancar hingga menjadi kaya dan banyak hartanya.

Kemudian karena suatu kondisi, Nabi Musa AS harus terpisahkan dengannya, bahkan beliau AS merasa kehilangan teman setianya itu. Maka beliau AS selalu menanyakan tentang sang teman tersebut kepada orang-orang yang ditemuinya, namun agak lama beliau tidak mendengar kabar beritanya.

Suatu saat datanglah seseorang kepada beliau AS dengan menuntun seekor babi yang lehernya diikat dengan tali hitam.

Karena ada orang yang baru datang, maka Nabi Musa bertanya tentang teman akrabnya, “Apakah engkau pernah melihatnya?”

Orang itu menjawab, “Ya, babi ini adalah temanmu itu.”

Lantas orang itu menceritakan panjang lebar tentang bagaimana teman setia Nabi Musa AS itu bisa berobah menjadi seekor babi.

Maka Nabi Musa AS memohon kepada Tuhannya agar menjadikan teman setianya itu kepada bentuk semula, agar beliau dapat menanyainya secara langsung tentang apa yang menimpa temannya itu.

Namun Allah mewahyukan kepada beliau AS, “Hai Musa, seandainya engkau memohon kepada-Ku seperti yang diminta oleh Adam, Aku tetap tidak akan mengembalikan temanmu ini kepada bentuknya semula. Akan tetapi Aku beritahukan kepadamu tentang temanmu ini, mengapa Aku melakukan seperti itu terhadapnya? Sebab, ia sengaja mencari dunia dengan menjual (mengorbankan)  agamanya.”

Sumber: PejuangIslam.Com


Artikel Terkait