KUBURAN AMBLAS, PERTANDA ALLAH MURKA

Shortlink:

 Foto Sumber: VIVAnews/Martudji

Foto Sumber: VIVAnews/Martudji

Penulis KH. Luthfi Bashori

Seringkali masyarakat Indonesia salah kaprah dalam memahami istilah `wali`.


 

Dalam definisi syariat: Wali adalah kekasih Allah. Seorang wali tidak akan bermaksiat kepada Allah.
Seorang wali tidak akan melanggar perintah Allah. Jika ada orang ahli bermaksiat serta gemar melanggar perintah dan larangan Allah, niscaya tidak akan menjadi kekasih Allah. Karena Allah itu, laa yakmurukum bis suu-i wal fakhsyaa-i wal munkari wal baghi (Allah tidak memerintahkan kalian berbuat kejahatan, kekejian, kemunkaran dan kemaksiatan).

Namun, sebagian masyarakat terkadang memaknai `wali` itu sebagai orang sakti yang dapat melakukan apa saja, hingga tampak berperilaku nyeleneh, atau tidak lumrah dilakukan oleh umat Islam pada umumnya.

Bahkan terkadang umat salah bersikap, seperti terhadap orang yang melawan syariat Islam pun tiba-tiba dianggap wali dan diyakini kebenaran sepak terjangnya, karena terlanjur mendapat julukan `wali`.

Contohnya, jika ada orang yang berpenampilan agamis, seperti senang menggunakan pakaian islami, dengan aksesoris yang tidak umum dipakai masyarakat, lantas ia melakukan hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan pada umumnya, hingga yang tampak pada dirinya adalah sifat nyeleneh atau tampak aneh, maka dengan serta merta masyarakat akan menyebutnya sebagai `wali`, sekalipun orang itu tidak jelas aqidahnya, asal usulnya, apalagi bagaimana keabsahan ibadahnya.

Konon ada seorang yang terlanjur dikenal sebagai tokoh Islam dan diyakini sebagai seorang `wali`, sekalipun ia tidak pernah shalat fardlu lima waktu, kecuali hanya kadang-kadang saja jika ia anggap penting, demi kelanggengan kedudukannya di mata masyarakat, bahkan banyak perilakunya yang bertentangan dengan syariat Islam.

Antara lain, ia melanggar ayat Alquran secara terang-terangan, pada firman Allah yang artinya:

Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir saat mereka mengadakan ritual menyembah tuhan mereka), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka (dalam kemusyrikan). Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik (yang duduk dalam acara ritual orang kafir) dan orang-orang kafir, di dalam Jahannam. (QS. Annisa, 40).

Sang tokoh, justru ikut hadir dalam natalan yang digelar di gereja oleh kaum Nasrani musuh-musuh Allah. Bahkan dalam satu acara, sang tokoh yang diwalikan ini ikut dibaptis oleh pendeta wanita yang datang dari luar negeri. Videonya pun sudah beredar di internet.

Yang lebih runyam, tatkala ia melanggar aqidah tauhid, yaitu melecehkan ayat-ayat Alquran dengan menyebutnya sebagai kitab suci paling porno se dunia, namun masyarakat masih saja mengagung-agungkannya dan meyakininya sebagai `wali`.

Jika diteliti, ternyata konon, berita kewaliannya itu sengaja dihembuskan oleh media massa sekuler, demi keuntungan kenaikan oplah secara bisnis dengan mengangkat topik itu.

Adanya peristiwa semacam ini adakalanya karena `wali` imitasi yang bersangkutan, memiliki `keramat gandul`, yaitu lantaran kebesaran nama orang tua atau kakek moyang atau marganya, lantas dimanfaatkan media massa demi kepentingan bisnisnya.

Misalnya, media kerap kali membuat istilah-istilah baru yang terkesan dibuat-buat, seperti Fulan anak mantan menteri agama, atau Fulan cucu pendiri NU, atau Fulan dari keluarga darah biru, dan seterusnya.

Demikianlah salah satu modus media sekuler dalam memoles seseorang yang banyak bermaksiat kepada Allah berproses menjadi `wali` imitasi di hadapan publik.

Sayangnya, kebanyakan bangsa Indonesia ini masih percaya 100 % terhadap pemberitaan media massa dengan tanpa diteliti ulang atau disaring lagi, maka berita-berita itupun langsung ditelan mentah-mentah, apalagi jika berbau infotaiment.

Termasuk juga berita kewalian seseorang yang dalam kesehariannya tidak bersyariat secara baik dan benar, namun tetap dielu-elukan sebagai seorang wali. Bahkan saat meninggalpun ia tetap diagung-agungkan hingga terkesan dikultuskan.

Keanehan semacam ini benar-benar terjadi di Indonesia.

Jika konon di jaman Nabi terdahulu terdapat seorang kaya bernama Qarun yang kekayaannya sangat melimpah ruah, namun ia sangat dhalim terhadap orang lain, serta berani ingkar tehadap agama Allah karena mengikuti ajakan setan. Maka Allah pun murka terhadapnya hingga Allah memerintahkan bumi untuk menelannya.

Maka bumi pun atas ijin Allah, menarik Qarun hingga dirinya amblas terkubur ditelan bumi.

Kondisi kuburan Qarun yang amblas itu pertanda dahsyatnya kemurkaan Allah kepadanya, lantaran Qarun sudah menjadi kekasih setan (walinya setan) dan melawan perintah Allah.

Nah, di jaman edan ini, jika ada kuburan seorang tokoh yang amblas, maka oleh keterbalikan logika masyarakat, maupun kesalahkaprahan umat Islam kalangan awam dalam memaknai arti wali, maka justru kuburan amblas macam begitu itu yang dianggap sebagai kuburan wali keramat, hingga perlu ramai-ramai untuk diziarahinya.

Padahal, kemurkaan Allah terhadap kemungkaran Qarun yang ditampakkan dengan amblasnya kuburan Qarun itu, adalah sebagai peringatan dari Allah kepada umat manusia.

Artinya, jika mereka melanggar perintah dan larangan Allah, maka Allah tidak akan segan-segan mengamblaskan kuburannya saat sudah meninggal.

Nah, peristiwa kuburan amblas di muka bumi semcam ini, bisa terjadi karena Allah murka terhadap penghuninya, dan kemungkinan besar karena konon penghuninya tidak mengikuti perintah Allah dan tidak menjauhi larangan-larangan-Nya.

Semoga kuburan kita dan anak cucu kita tidak ada yang amblas, sekalipun hanya sejengkal.

Sumber: PejuangIslam.Com


Artikel Terkait