[HEBOH] Rais Syuriah PBNU Ungkap Kejanggalan Dan Kecewa Dengan Istilah ‘Islam Nusantara’

Shortlink:

image

*Foto Rais Syuriah PBNU KH. Saifuddin Amsir

NUGarisLurus.Com, Malang – Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Saifuddin Amsir merasakan banyak kejanggalan dalam Muktamar NU ke-33 yang bakal digelar di alun-alun Jombang pada 1-5 Agustus 2015. Menurut dia, materi muktamar NU terutama masail diniyah (masalah- masalah keagamaan) tidak pernah dibicarakan dengan Syuriah PBNU.

“Panitia tidak serius rapat dengan Syuriah, termasuk tentang materi Muktamar,” kata Kiai Saifuddin Amsir kepada BANGSAONLINE.com di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang, Jawa Timur, Selasa (14/7/2015).

 

 

Materi Muktamar terutama tentang khashais Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) kini memang banyak mendapat sorotan para kiai karena ada indikasi terkontaminasi paham di luar Aswaja terutama Syiah dan Islam Liberal.

 

 

Informasi yang diterima BANGSAONLINE.com , ada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) yang terlibat meramu materi Muktamar NU sehingga para kiai kini aktif mengkaji materi tersebut. Di antaranya yang mengkaji materi tersebut saat ini adalah KH Cholil Nafis, wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Menurut Kiai Cholil Nafis, ada beberapa poin dalam materi khashais Aswaja yang sudah jelas terkontaminasi JIL dan Syiah.

“Tampaknya banyak pengurus NU yang tak baca kitab Risalah Ahslussunnah Waljamaah karangan Kiai Hasyim Asy’ari,” katanya.

Padahal, menurut Kiai Cholil Nafis, dalam kitab tersebut sudah jelas bahwa Kiai Hasyim Asyari menganggap sesat paham Syiah.

Kiai Saifuddin Amsir juga mengaku kecewa dengan ulah beberapa elit PBNU yang membuat istilah-istilah yang akhirnya justru merusak khasanah NU. Termasuk Ahlussunnah Wal Jamaah yang disingkat Aswaja.

“Ada orang yang iseng bahwa Aswaja itu katanya singkatan dari ‘Asli Warisan Jawa’,” katanya sembari menegaskan bahwa ini juga akibat PBNU mempopulerkan Islam Nusantara.

Begitu juga tentang Ahlul Halli Wal Aqdi yang kemudian disingkat AHWA. “Apa susahnya sih menyebut Ahlul Halli Wal Aqdi. Kan pendek. Kalau AHWA kan (artinya,red) hawa nafsu,” katanya.

Ia mengaku tak sepakat ketika acara Pra Muktamar NU di Nusa Tenggara Barat (NTB) membahas AHWA. “Ini bisa menjadi ahlul hawa,” katanya.

Menurut dia, sejatinya AHWA itu bagus, tapi AHWA yang asli, yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan. Kini AHWA justru terkotori oleh rekayasa dan kepentingan kelompok tertentu sehingga tak asli lagi. “Ini berakibat NU kehilangan makna,” katanya.

Untuk itu ia minta agar para kiai melakukan gebrakan meneliti dan mencermati semua peristiwa di NU, termasuk materi Muktamar NU, demi keselamatan NU. (NUGarisLurus.Com/BangsaOnline.Com)


Artikel Terkait