Tanggapan Mustasyar PWNU Jateng Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf Tentang ‘Islam Nusantara’

Shortlink:

NUGarisLurus.com – Logika bisa menjerumuskan seseorang untuk menentang perintah Allah. Ketika Allah memerintahkan perempuan untuk menutup aurat, logika mencari-cari alasan untuk membantahnya.

Kecintaan kepada Nabi Muhammad dan Islam, dikikis perlahan mulai melalui kampanye anti arab dan mengganggap segala sesuatu yang ada dalam Islam adalah budaya arab, sehingga perintah dari Allah-pun dianggap tradisi Arab. “Ini tradisi Arab, Ini Tradisi Nusantara”, begitu dalam prakteknya.

Demikian disampaikan oleh Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf, Mustasyar PWNU Jawa Tengah dalam sebuah pengajian kajian Ramadlan.

[VIDEO] Mustasyar PWNU Jateng Habib Syekh Bin Abdul Qodir Assegaf: Langgam Jawa Dan Islam Nusantara Mengandung Kebencian Terhadap Arab Nabi Muhammad Orang Arab. Hati -Hati Membenci Arab. Apa Mereka Mau Ikut Fir'aun?Eksklusif NUGarisLurus.ComSEBARKAN!

Posted by NU Garis Lurus on Thursday, 9 July 2015

Habib Syekh menjelaskan, dalih jilbab budaya arab, atau di arab banyak debu hingga harus menggunakan pakaian rapat, beda iklim, jilbab hanya cocok dipakai di negara arab dan tak cocok digunakan di Indonesia, juga tradisi, dan sebagainya itu dijadikan alasan pembenaran untuk menolak perintah menutup aurat.

Padahal, perintahnya Allah Subhanahu Wa Ta`ala itu tidak mengurusi per etnik dan ras, tidak hanya arab, jawa, china, bule, tapi semua perintah Allah harus diikuti oleh semua.

Mulai zaman sekarang, ada orang-orang yang senang memisah-misahkan Islam dengan mengkotak-kotaknya dengan istilah “ini tradisi arab” padahal itu perintah Allah. OrangĀ  yang seperti itu jangan diikuti.

“Baca al-Qur`an pakai Bahasa Indonesia saja tak apa, bahasa Jawa pun tak masalah” adalah salah satu contoh menggerus Islam mulai dari pe-nusantara-an Islam dan anti arab.

Iman seorang muslim dirusak dengan model pengikisan Islam mulai dengan mengkampanyekan anggapan semua yang dari islam dianggap tradisi arab.

“Kalo sekedar sholawatan, dengan langgam-langgam itu untuk sholawatan, ya boleh. Nah kemaren itu ada yang ngaji modelnya kayak gini (langgam) ya lucu,” papar Habib Syekh.

“Kalo yang seperti ini dibiarkan, nanti malah akan muncul, bacaan ayat saat sholat itu pake bahasa jawa saja, wong agamanya ini agamanya nusantara kok, bukan agama Islam,” lanjut Habib.

Habib menambahkan, jika model Islam Nusantara seperti halnya yang dilakukan oleh Wali Songo, ya boleh. Tapi jika seperti yang dilakukan mereka-mereka ini, karena didorong oleh rasa benci kepada Arab. “Benci sama arab, padahal alquran dalam bahasa arab, nabinya kalian orang arab. Ya mau ikut siapa? Ikut model Firaun?,” tegas Habib.

Habib menasehati, bahwa ini bukan masalah bangga-banggaan (arab atau nusantara) sebab Nabi Muhammad adalah “nabi sayyidul aroby wal ‘ajam” (nabi Muhammad itu pemimpin orang arab dan bukan arab). Jadi, jangan sampai nanti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad dirusak dengan perkataan “ini bukan tradisi kita, ini tradisi orang arab.)
Ujung-ujungnya, kalimat rusaknya adalah “jangan kalian percaya nabi muhammad yang dari arab.”

Seperti halnya Bani Israil mereka tak percaya kepada nabi muhammad walaupun mereka tahu Nabi Muhammad itu utusan Allah Subhanahu Wa Ta`ala

Wallahu `alam bis showaab.


Artikel Terkait