Ditanya Wartawan Soal NU Garis Lurus, Ketum PBNU Lecehkan Pesantren

Shortlink:

image

NUGarisLurus.Com – Portal berita detik.com melakukan wawancara dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj dalam pembukaan acara istigasah menyambut Ramadan dan pembukaan munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, 14 Juni lalu.

Dalam cuplikan akhir wawancara Said Agil Siradj yang berjudul “Islam Indonesia Bukan Islam Arab” itu dia diminta tanggapannya tentang Gerakan NU Garis Lurus. Namun jawaban dari pertanyaan wartawan tersebut justru mengungkap kesombongan sang ketum PBNU dengan melecehkan para kyai pesantren. Berikut kutipannya.

Anda akan maju lagi?

Ya… ya… insya Allah siap kalau dipercaya.

Agenda ke depan kalau terpilih?

Baru kali ini kita membangun 24 universitas. Dulu universitas banyak, tapi milik pesantren. Kalau yang kita bangun milik NU, milik organisasi. SMK ada 62. Saya berfokus pada pendidikan. Saya kirim anak ke luar negeri. Ke Australia 10, Amerika 5, Maroko 45, Sudan 100-an, Turki 15. Kita konsolidasikan madrasah- madrasah di bawah NU, namanya Maarif, ternyata ada 13 ribu madrasah. Baru kali ini kita data.

Tidak dibawa mendekat ke kekuatan politik tertentu?

Enggak… enggak…. Adapun pribadi pengurus pasti semua berpolitik. Saya pribadi PKB. Bukan berarti NU saya ajak ke PKB. Ada yang Golkar, seperti Pak Slamet Effendi, ada yang PPP, ada yang PDIP (Bendahara NU).

Ada kabar Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid) juga akan maju?

Ya, Gus Sholah maju. Pak (Muhammad) Adnan, mantan Ketua PWNU Jawa Tengah, dan Ketua Lembaga Zakat Masyuri Malik juga akan maju. Tidak apa- apa. Semua terserah muktamirin. Coba kalau ada muktamar terus enggak ada yang mau maju, kan kacau itu.

Kalau pemilihan Ketua Umum  pakai AHWA juga?

AHWA buat rois ‘aam. Ketua umum tetap voting. Tidak layaklah kalau antar-kiai sepuh diadu. Hiruk-pikuk, gaduh. Seperti di (Muktamar) Makassar itu keras sekali. Kalau ketua umum tidak apa-apa, masih koboi.

Oh, ya, apa pendapat Anda soal gerakan NU Garis Lurus?

Itu cara berpikir orang yang masih
sempit, belum paham tantangan ke depan sebesar apa. Kalau nyusun pengurus hanya kiai semua dari pesantren ya enggak jalan. Kalau dituduh ada yang liberal, ada yang genit dalam berpikir seperti Pak Masdar (F. Mas’udi), ada yang dituduh PKI karena melakukan rekonsiliasi, itu pekerjaan kita semua. Bagi kiai yang ndeso itu, enggak bisa paham hal seperti itu. Garis lurus, jadi katanya NU yang sekarang itu bengkok gitu?
***

Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 191, 27 Juli 2015).

Sungguh penghinaan terhadap institusi pesantren.


Artikel Terkait