WALI SYARIAT & WALI PLURALISME

Shortlink:

image

Penulis: KH. Luthfi Bashori

Di Indonesia, saat ini semakin marak istilah aneh-aneh, yang sengaja oleh pihak tertentu dihembuskan ke tengah masyarakat, hanya untuk membuat opini dengan tujuan tertentu, yang jika diteliti dengan seksama, ternyata penciptaan opini itu, hanyalah untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu pula.

Misalnya, ada istilah Bapak Pluralisme Indonesia. Ini jelas istilah yang sengaja dibuat-buat oleh kelompok tertentu, dengan tujuan untuk kepentingan golongan tertentu pula.

Membahas dunia Islam di tanah air, khususnya tentang masalah maqam kewalian sebagaimana judul di atas, sangat banyak ragam dan metode pembahasannya. Maka sah-sah saja jika penulis mengangkat tema Wali Syariat dan Wali Pluralisme.

Untuk mengawali pembahasan, maka dalil Alquran, Hadits,  serta pendapat para ulama yang dirangkum dari berbagai sumber, menjadi sangat penting untuk dicantumkan, sebagaimana ayat berikut yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus : 62-63). Wali-wali Allah dalam ayat ini adalah para kekasih Allah.

Dari Amru Ibnul Jamuh berkata:
“Ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, wali-wali-Ku adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingati-Ku dan Aku-pun selalu mengingat mereka.”

Imam Ghazali menyebutkan:
“Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hamba-Ku yang mencintai-Ku dan selalu merindukan-K dan Aku-pun demikian. Mereka senang mengingati-Ku dan memandang-Ku dan Aku-pun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu, sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu.”

Bertanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?”
Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba, ranjang-ranjang telah diisi oleh orang-orang yang tidur lelap, dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka (para wali itu) berdiri tegak dalam shalatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menangis, mengadu dan memohon kepada-Ku. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untuk-Ku. Mereka rindu dengan kasih sayang-Ku. Mereka Aku beri tiga karunia: Pertama, mereka Aku beri cahaya-Ku dalam hati mereka, sehingga dapat menyampaikan ajaran syariat-Ku kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajah-Ku kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?” (Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358)

Hadlratus Syeikh, KH. Hasyim Al Asy’ari. (Pendiri NU) berkata: “Barangsiapa yang mengaku sebagai Wali kekasih Allah, tanpa mengikuti sunnah (syariat ajaran) Rasulullah SAW, maka pengakuannya itu adalah kebohongan.” (Ad Durar Al Muntasirah, hal 4).

Dalam keyakinan kalangan Aswaja, derajat kewalian ini memang ada. Tetapi kewalian ini pun tidak terjadi kecuali pada hamba Allah yang muslim, mukmin, selalu mengesakan Allah dan tidak berbuat syirik dan tidak banyak maksiat, serta taat menjalankan syariat yang diturunkan oleh Allah.

Membicarakan dunia kewalian, ada pula pembahasan ‘karamah’ (keajaiban yang dilakukan) para wali, namun tentang kepemilikan karamah ini tidak menjadi syarat bagi seseorang yang disebut sebagai wali, sebab syarat adanya karamah ini tidak diberitakan dalam Alquran.

Apa yang tampak pada sebagian awwam seperti memukul-mukulkan besi ke perut, memakan api dan sebagainya dengan tidak menimbulakn cedera apapun, maka itu bukanlah identik dengan karamah para wali, bahkan ada kemungkinan juga dari bantuan setan. Maka yang demikian bukanlah karamah tetapi istidraaj agar mereka semakin jauh tenggelam dalam kesesatan (lihat kitab Firqah an Najihah, bab 31).

Sebagian orang juga ada yang beranggapan salah, hingga menyangka bahwa setiap makam wali itu pasti ramai dikunjungan penziarah, sebagaimana yang umumnya memang terjadi pada makam-makam para wali. Namun yang benar bahwa sebagian makam para wali tidak dikenal sama sekali oleh orang-orang yang hidup setelahnya.

Sebaliknya, ada pula kuburan yang ramai dikunjungi penziarah, justru dalamnya adalah orang kafir atau fasik, seperti kuburan Elvis Presley penyanyi rock-‘n’-roll salah satu legendaris dunia yang mati akibat over dosis obat terlarang. Tempo online memuat, Jumat 16 agustus 2011, sekitar 35 ribu orang menghadiri pembacaan doa dan nyanyian di kuburan Elvis Presley. Belum lagi jasad Fir’aun di musium Mesir yang setiap hari tidak pernah sepi dari para pengunjung.

KH. HASYIM ASY’ARI, SANGAT PATUT DIAKUI SEBAGAI ‘WALI ALLAH’  SESUAI  AMALAN BAIKNYA.

Dalam biografi KH. Hasyim Asy’ari disebutkan, tepat pada tanggal 21-22 Oktober 1945, KH Hasyim Asyari mengumpulkan wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura di Surabaya. Dalam pertemuan tersebut, diputuskan bahwa melawan penjajah sebagai perang suci dan hukumnya fardu ain. Saat ini populer dengan istilah resolusi jihad.

Setelah resolusi jihad dicetuskan, ribuan kyai dan santri bergerak ke Surabaya. Pada 10 November 1945 atau tepatnya dua minggu setelah resolusi jihad dikumandangkan, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan tentara pribumi dan juga warga sipil yang cuma bersenjatakan bambu runcing. Konon, ini adalah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. (sumber: merdeka.com)

Menurut KH. Wahab Hasbullah, prinsip hidup KH. Hasyim Asyari yaitu: “Berjuang terus dengan tiada mengenal surut, lelah dan istirahat”.

Salah satu prinsip semangat juang KH. Hasyim Asy’ari didasari  hadits Rasulullah SWA, yaitu: “Demi Allah, jika mereka (non muslim) mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa taruhannya”.

Wasiat dan Warisan KH. Hasyim Asy’ari untuk umat Islam Tanah Air

1. Meneladani Rasulullah sebagai idola utama manusia, itu yang senantisa beliau wasiatkan bukan hanya kepada santri-santrinya tetapi juga kepada seluruh kaum muslimin.
2. Semangat Jihad melawan kemungkaran, karena beliau adalah ulama yang mujahid (ahli jihad) dan negarawan yang memiliki patriotisme luar biasa dalam melawan penjajah kafir.
3. Menjaga SHALAT LIMA WAKTU dengan berjamaah sebagai inti syariat Islam.
4. Beliau memiliki pribadi yang Ihklas dalam bertindak, termasuk ihlas melayani umat, masyarakat dan bangsa Indonesia ini
5. Pribadi yang santun, rendah hati (tawadlu), tidak suka menonjolkan diri, menampakkan diri.
6. Saling menghormati, suka bermusyawarah, tidak fanatik yang berlebihan.
7. Membersihkan hati dan mensucikan niat dalam mengerjakan dan melakukan sesuatu (nasehat beliau seperti dalam kitab adabut ta’lim wa mutaallim).
8. Beliau adalah pribadi yang pekerja keras, memiliki semangat juang tinggi tanpa mengenal lelah dalam melakukan sesuatu (berjuang, belajar, bekerja, membantu/melayani Umat dll) termasuk dalam melayani umat dan bangsa Indonesia.

Tampaknya, itulah karamah besar Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asyari yang telah Allah anugrahkan kepadanya, juga sekaligus menjadi ijazah kepada para santri dan seluruh kaum muslimin di tanah air, agar bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari di dalam beragama, berkeluarga, bermsyarakat dan berbangsa.

APA ITU PLURALISME?

Menurut  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas: Pluralisme agama adalah sebuah konsep yang mempunyai makna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlain-lainan pula. Juga sebagai penerimaan atas konsep bahwa dua atau lebih agama yang sama-sama memiliki klaim-klaim kebenaran yang eksklusif sama-sama sahih. Pendapat ini seringkali menekankan aspek-aspek kebersamaan yang terdapat dalam agama-agama yang berbeda.

Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleran kepada pemeluk agama lain adalah boleh diamalkan, dan ini sebagai bagian dari keberagaman (Pluralitas). Namun anggapan bahwa semua agama adalah sama atau sama-sama benar (Pluralisme) tidak diperkenankan, dengan kata lain tidak menganggap bahwa Tuhan yang `kami` (Islam) sembah adalah Tuhan yang `kalian` (non-Islam) sembah.

Pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa LARANGAN paham Pluralisme dalam agama Islam. Dalam fatwa tersebut, pluralisme didefiniskan sebagai “Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”.

Salah satu kelompok yang mendukung Pluralisme agama adalah kaum liberal (Jaringan Islam Liberal), yasng di halaman utama situsnya terulis: “Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan segala agama.”

WALI PLURALISME

Penulis mengangkat istilah Wali Pluralisme, untuk mengidentifikasi kecenderungan sebagian masyarakat yang kerap mengagung-agungkan plurasisme dalam kehidupannya. Pengaruh pluralisme ini sudah cukup menyeruak di semua kalangan masyarakat awwam, bahkan termasuk di kalangan terpelajar, kaum santri, cendekiawan, hingga tokoh-tokoh Islam. Yang lebih ironis Pluralisme juga melanda pada tingkat tokoh yang telah ‘Dibaptis Sebagai Wali’ oleh kalangan awwam, namun, tentu saja namanya Wali Pluralisme. 

Beberapa ciri Wali Pluralisme yang mudah dikenali oleh orang, antara lain:

1. Kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial yang bertentangan dengan ajaran syariat, seperti ucapan: Alquran sebagai kitab suci paling porno se dunia.
2. Menganggap semua agama sama, padahal Allah mengatakan ’Innaddina `indallahil Islam’ (satu-satunya agama yang diakui (kebenaran syariatnya) oleh Allah hanyalah Islam.
3. Bangga jika berani di depan publik, mengucapkan ‘Selamat Natal’ atau ‘Selamat Waisak’ atau ‘Selamat Nyepi’ atau ‘Selamat Imlek’ dan sebagainya kepada non muslim.
4. Lebih senang membela kepentingan non muslim dari pada membela Allah. Seperti perkataan seseorang: “Kekerasan itu memang mengklaim diri sedang membela Islam, membela Tuhan. Bagi saya, Tuhan itu tidak perlu dibela…!”
5. Berani merubah perintah Nabi Muhammad SAW agar membiasakan ucapan assalamu`alaikum, dirubah menjadi ucapan selamat siang, selamat malam, selamat pagi.
6. Memperbolehkan makanan yang haram atau syubhat, seperti kasus menghalalkan bumbu penyedap Ajinomoto, di saat Ajinomoto tersandung masalah kandungan enzim babi, sesuai penelitian ahli dan pengakuan produsennya.
7. Gemar bekerjasama dengan pihak non muslim, seperti membuka hubungan diplomatik dengan Israel serta membuka hubungan dagang langsung Indonesia-Israel.
8. Gemar membela kemaksiatan, semisal sengajan melawan pendapat mayoritas para ulama, yang mengecam Goyang Ngebor Inul sebagai goyang yang porno.
9. Secara terang-terangan membela alirah sesat seperti  membela Ahmadiyah, dan mengabadikan pernyataannya dalam rekaman youtube.
10. Menolak  Undang-undang  Anti Porno Grafi dan Porno Aksi, bahkan bahu membahu dengan kaum Nasrani yang menghendaki pembatalan undang-undang tersebut.
11. Melegalitas kesenian Barongsai sejak tahun 2000 dengan bebas, gagah-berani unjuk kebolehan, di mana pun tanpa harus dikejar-kejar rasa takut. Caranya dengan membuka jalan bagi kaum minoritas untuk bebas berekspresi.
12. Senang hadir  dalam kegiatan Misa di stadion Utama Senayan yang dihadiri 10.000 umat kristen, dan terlibat langsung di dalam kegiatan ritual yang dilakukan oleh umat Kristen  tersebut, bahkan menyatakan mendukung tuntutan gereja tentang penolakan terhadap:
a). Penerapan Undang-undang Sisdiknas yang mewajibkan bagi semua siswa mendapatkan pelajaran agama sesuai dengan agamanya, yang mana gereja menentang pemberian pelajaran agama islam di sekolah kristen.
b). Penerapan Piagam Jakarta, yang pada intinya menerapkan syariah islam di indonesia.
c). Menolak campur tangan negera dalam kegiatan keagamaan di indonesia khususnya dalam  gereja yang sejak dahulu menentang campur tangan negara dalam mengatur kegiatan keagamaan


Artikel Terkait