Tafsir Al-Hijr 47: Surga Enggan Disinggahi Politikus

Shortlink:

alhijr ayat 47

Ayat sebelumnya bertutur tentang penghuni surga yang santun dan bersenang-senang di taman indah, “fi jannat wa uyun”. Penuturan lebih pada kondisi surga yang indah tak terbayangkan. Sedangkan pada ayat studi ini, penuturan lebih ditekankan pada pribadi penghuninya. Ada tiga sifat mereka, yakni: pertama, mereka adalah orang-orang yang hatinya sudah disterilkan oleh Tuhan dari sifat dengki dan sejenisnya, sehingga bersih dan tidak ada setitikpun sifat tercela terbersit di jiwa mereka, “wa naza’na ma fi shudurihim min ghill”.

Artinya, bahwa jika kita ingin menjadi penghuni surga, maka jauhkan diri dari iri dan dengki. Kedengkian membuat seseorang bersikap negatif terus-menerus kepada orang lain, sehingga tidak bisa melihat kebaikan di luar dirinya. Semakin tebal sifat dengki, semakin kuat sifat ingin menang dan menguasai, maka semakin jauh dari kriteria penghuni surga. Dari sini, silakan anda berpolitik, tapi tetalah legowo dan menghargai orang lain. Jangan sampai tradisi politik yang kental kedengkian menghalangi kita dari servis surga.

Hari itu, nabi berpidato: “siapa ingin tahu penghuni surga, silahkan tunggu!. Sebentar lagi dia lewat sini”.

Benar, seorang lelaki bersahaja lewat dan para sahabat memperhatikan. Besoknya, nabi berpidato lagi kayak kemarin dan orang itu lagi yang datang. Besoknya begitu lagi dan lelaki itu-itu lagi yang nongol. Para sahabat penasaran dan membatin, “apa yang istimewa dari lelaki itu”.

Usut punya usut, Ali ibn Abi Thalib berhasil mengungkap amalan andalan lelaki itu. Bahwa si lelaki itu, setiap kali menjelang tidur malam pasti beristighfar, memohon ampunan dulu untuk diri sendiri, untuk kedua orang tua dan seluruh kawan-kawannya. Barang kali seharian di antara mereka ada yang punya salah kepadanya, dia memaafkan sebelum mereka minta maaf. Sehingga lelaki itu tidur dalam keadaan hati yang bersih dan legowo.

Begitulah, surga sama sekali tidak mau dimasuki oleh orang yang di hatinya masih ada kedengkian, iri, hasut sesama teman, meski dia mengaku beriman.

Yang disukai adalah mereka yang hatinya rela, legowo dan senang terhadap apa yang dicapai temannya. Al-Hadis membolehkan seseorang iri dan hasut dalam kebajikan.

Pertama, iri kepada orang kaya yang dermawan, suka berinfaq dan berbagi. Kedua, iri kepada orang berilmu tinggi yang istiqamah mengajar dan menyebar ilmunya di masyarakat. Tapi kalau iri politik, mau menang sendiri dengan segala cara, rasanya surga enggan disinggahi politikus yang hatinya penuh kedengkian.


Artikel Terkait