Seruan Untuk Para Calon Peserta Muktamar NU: Dukunglah Calon Yang Ikhlas!

Shortlink:

Oleh Muhammad Lutfi Rochman
Khuwaidim Ma’had Al Anshory

Gonjang ganjing menuju muktamar NU di Jombang Agustus nanti semakin terasa. Aroma partai politik ikut campur mewarnai bahkan siap menyokong dana dan ‘sangu’ buat yang mendukung calonnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Muktamar Makassar penuh dengan intrik politik dan suap yang semakin menjauhkan NU dari Qonun Asasi. Hasil dari Muktamar Makassar adalah kepengurusan Pengurus Besar seperti yang kita lihat hari ini. Dan yang lebih menghebohkan dari semua calon yang mulai muncul dalam bursa kandidat Ketua Umum Tanfidziyyah NU adalah KH. Muhammad Idrus Ramli, pendekar ASWAJA yang sudah malang melintang di jagad kaderisasi penguatan ASWAJA.
Beliau menyatakan siap maju karena di dorong melakukan kesetiaan terhadap Qonun Asasi dan tanpa dukungan dana maupun sokongan Partai Politik seperti calon yang lain. Semoga Allah memudahkan jalan beliau. Aamiin.

Setelah Muktamar Mukassar, Guru kami KH. Muhammad Najih Maimun membuat surat terbuka dan ditembuskan ke seluruh pelosok pesantren di tanah air untuk tidak mengakui kepengurusan kotor yang di hasilkan dari hasil suap. Masih segar ingatan kala Gus Sholah hingga menangis di depan para alumni santri Tebuireng Jombang dan berharap agar muktamar yang akan dilaksanakan di dekat makam para pendiri NU tidak dikotori dengan suap dan cara kotor. Gus Sholah mengingatkan agar para peserta muktamar malu di saksikan langsung para leluhur dan pendiri NU yang masih kakek beliau.

Nasehat yang diberikan oleh Tokoh NU Garis Lurus KH. Luthfi Bashori hendaknya di jadikan bahan renungan para peserta muktamar NU yang notabenenya semuanya adalah para Ulama dari ASWAJA.

Setiap muslim, tentu ingin memiliki amal kebajikan yang diterima oleh Allah, sebagai bekal untuk menghadap kepada Rabb-nya. Setiap muslim juga tahu bahwa yang diterima itu, adalah amalan yang didasari keikhlasan hanya karena Allah SWT.

Sy. Abu Umamah Albahili RA menceritakan, ada seseorang bertanya kepada Nabi untuk mencari pahala dan popularitas, apakah yang ia peroleh?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “Tidak mendapat apa-apa baginya.” Lalu laki-laki itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Rasulullah SAW tidak menerima amal itu kecual dari seorang yang ikhlas, yang hanya mengharapkan keridla-an dari Allah SWT.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Amalan yang diterima oleh Allah itu tidak harus diketahui orang banyak, bahkan tidak jarang seseorang beramal yang menurut pandangan umum adalah amal baik, namun hakikatnya justru tidak diterima oleh Allah.

Sy. Sahal bin Sa’ad Assa’idi RA mengatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang beramal dengan amalan ahli surga menurut pandangan orang banyak, tetapi sebenarnya ia adalah ahli neraka. Ada pula orang yang beramal dengan amalan ahli neraka dalam pandangan orang banyak, namun sebenarnya ia ahli surga.” (HR. Muslim).

Namun, hal ini bukan berarti setiap amal baik yang diketahui oleh orang banyak itu pasti ditolak oleh Allah, karena ukuran diterima-tidaknya amal baik seseorang itu tergantung niatnya masing-masing. Jika ada seorang muslim yang beramal baik di depan khalayak dengan niat ikhlas karena Allah, lantas ia berusaha memberi contoh atau mengajak orang lain agar ikut berbuat baik seperti dirinya, maka amal baik yang demikian itu akan mendapat pahala dari Allah, dan jika ada orang lain yang mencontoh beramal baik, maka dirinya akan mendapat pahala berlipat.

St. Aisyah RA menuturkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Beramallah kamu sesuai dengan kemampuanmu. Sesungguhnya Allah tidak pernah bosan (memberi pahala) sehingga kamu sendiri yang bosan beramal. Sedangkan amal yang paling disukai Allah adalah amal yang dilakukan secara istiqamah (terus-menerus walaupun sedikit).” (HR. Muslim). Adakalanya seseorang itu ikhlas beramal kebaikan secara sporadis, sekalipun hal ini tetap baik dan mendapat pahala dari Allah SWT, namun jika dibandingkan dengan seseorang yang secara istiqamah mengamalkan suatu kebaikan, maka yang secara istiqamah itulah yang paling dicintai oleh Allah.
(AMAL YANG DITERIMA ALLAH, Luthfi Bashori , link sumber)

Kalau bukan ulama kami yang juga para peserta muktamar NU, Siapa lagi yang harus kami contoh dan dengar terutama bagi para warga Nahdliyin? Dukunglah calon yang tidak sepeserpun melakukan suap bahkan kalau perlu para peserta yang harus menyokong calon yang berani mencalonkan diri tanpa biaya. Dan kalau perlu jadikanlah pemimpin itu orang -orang yang tidak pernah meminta namun di minta. Cukup kiranya karena para peserta muktamar, para ulama yang biasa di sebut “Kyai” “Gus” “Ajengan” “Tuan Guru” dst tentu lebih tahu dari kami yang bodoh ini. Wallahu Alam


Artikel Terkait