KH. Muhammad Idrus Ramli Dan Penguatan Tradisi Ilmiah ASWAJA

Shortlink:

image

Gus Idrus dan Penguatan Tradisi Ilmiah Aswaja

Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah Nahdhatul Ulama’ (NU), pernah menceritakan tentang munculnya aliran-aliran yang berkembang di tanah Jawa. Cerita itu kemudian ditulis dalam salah satu kitabnya, Risalah Ahl al-Sunnah wal Jamaah.

Ia menyeru kepada umat Islam untuk bersungguh-sungguh berjuang mengoreksi pemikiran-pemikiran yang keluar dari jalur ajaran Aswaja. Untuk itu, ia mewanti-wanti agar menjaga keutuhan umat Islam Aswaja di Nusantara.

Rois Akbar NU tersebut dikenal tegas memperjuangkan Aswaja. Dalam Muqaddimah Qonun Asasi beliau menulis:

“Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat dan semua orang.”

Bid’ah-bid’ah agama yang beliau maksud itu adalah Syiah, Kebatinan,Salafi-Wahabi,Aliran Manunggaling Kawulo, Ibahiyah dan lain-lain. Semuanya tertuang dalam kitab Risalah Ahlissunnah wal Jama’ah.

Pada Pada Muktamar ke-XI pada 9 Juni 1936 beliau menyampaikan pidato bersejarah, membekas ke dalama para mu’tamirin dan para kiai-kai NU. Beliau mengatakan: “Dukunglah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan bid’ah-bid’ah akidah yang sesat”.

Hari ini, barangkali tantangan NU lebih besar daripada saat zaman Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Pada zaman kebebasan informasi yang tak terbatas, setiap orang sangat mudah dan bebas menyebarkan pendapat, opini dan beragam alirannya. Mulai dari ekstrim kanan hingga ekstrim kiri.

Karena itu, warga NU hari ini sangat membutuhkan tradisi ilmiah Aswaja yang bebas dari kepentingan uang, politik dan jabatan. Tradisi ilmu Aswaja diyakini mempu membangun akar-akar yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan aktual Aswaja. Kekuatan uang, jabatan dan politik diyakini tidak bisa menjaga benteng aswaja dari tantangan zaman. Bahkan bisa merusak orisinalitas aswaja.

KH. Idrus Romli, atau akrab dipanggil Gus Idrus, kiai asal Jember, selama sepuluh tahun terakhir malang-melintang mengadakan pembentengan aswaja secara ilmiah di kota-kota di Indonesia. Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim ini juga kerap maju dalam forum-forum debat ilmiah dengan wakil-wakil Islam Liberal, Syiah, dan Salafi-Wahabi.

Kiai alumnus pesantren Sidogiri pun tidak hanya dikenal sangat piawai berdebat, tapi juga ‘lincah’ dalam menulis. Logika-logika aliran non-Aswaja ia patahkan dengan cermat, dalam dan ilmiah. Puluhan buku telah ia tulis, dengan tema-tema yang khas, yaitu seputar pembentengan Aswaja dan hujjah ilmiah seputar tradisi Aswaja.

Beberapa kiai menaruh harapan, Gus Idrus menjadi pejuang murni ide-ide Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Di zaman Hadratus Syaikh, NU memiliki izzah dan kekuatan.

Beberapa waktu lalu, KH. Muhammad Najih Maimoen Pengasuh Ribath Darus Sohihain dan Dewan pembimbing pondok pesantren Al Anwar Sarang, menyatakan mendukung Gus Idrus maju sebagai calon ketua umum PBNU pada mu’tamar NU Agustus mendatang.

Putra KH. Maimoen  ini memuji kegigihan Gus Idrus dalam mengetengahkan hujjah Aswaja. Dalam surat dukungannya beliau menulis:

“Ia salah satu tokoh ulama yang gigih membentengi Mazhab ASWAJA untuk melawan mazhab wahabi dan syiah yang keduanya merupakan mazhab/aliran sesat sesuai dengan nash-nash keterangan dari pendiri Jam’iyyah Syaikh Hasyim ‘Asy’ari Rahimahullah.

Surat dukungan KH. Najih pun disambut dengan baik beberapa kia dengan menyatakan dukungan. PCNU Bangka Tengah dan PCNU Bangka Selatan diberitakan menyatakan dukungannya.

Warga NU pada saat ini  membutuhkan ‘kehadiran’ Hadratus Syaikh. Gus Idrus, kiai santun tapi tegas, ini diharap-harap beberapa kiai membawa ‘angin segar’ mengembalikan NU kepada pemikiran Hadratus Syaikh, seperti yang telah tertuang dalam Qonun Asasi.

Maka, tradisi ilmiah Aswaja di jam’iyyah NU inilah yang akan diperkuat Gus Idrus jika dia dipercaya menjadi ketua umum PBNU untuk mengembalikan NU ke pemikiran Hadratus Syaikh. [“akh”/NUGarisLurus.Com]


Artikel Terkait