Catatan Lama Sidang Para Ulama NU Terhadap GD Karena Pro Syiah

Shortlink:

image

Catatan Tentang Gus Dur Yang di adili Para kiyai NU Tahun 1995. Ada Tentang Syiah dan Khomeini.
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/11/23/0022.html

Sumber : Majalah Berita Mingguan
GATRA
Edisi : 25 November 1995 ( No.2/II )
Rubrik : Nasional
NU

Bertemu Gus Dur di Zainul Hasan Gus Dur diadili kiai. Sepakat bentuk
lembaga untuk mempertemukan
perbedaan pendapat. SEBUAH pertemuan antara kubu Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdurrahman Wahid dan kubu penentangnya berubah menjadi pengadilan terbuka di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu pekan lalu.

Upaya mempertemukan para tokoh NU yang berseberangan jalan ini
dilakukan bersamaan dengan acara
tingkeban — selamatan hamil
tujuh bulan — istri KH Hasan Mutawakkil Alallah, pengasuh Pesantren Zainul Hasan. Yang hadir sekitar 20 orang, tiga di antaranya dari kelompok penentang.
“Dalam pertemuan ini kami
memang sengaja mengundang tokoh yang sering berbeda pandangan dengan Gus Dur dan PBNU,” kata Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur, pemrakarsa pertemuan.

Tampak hadir Gus Dur (panggilan
Abdurrahman Wahid), Wahid Zaini,
Wakil Ketua PBNU Jawa Timur, KH Imron Hamzah, Ketua Syuriah PWNU
Jawa Timur, Choirul Anam, Ketua GP
Anshor Jawa Timur, dan H. Mahid Asa, Ketua Forum Komunikasi
Generasi Muda NU. Sedangkan
dari pihak yang berseberangan hadir
Muhammad Tohir, Wakil Ketua
PWNU Jawa Timur dan anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, KH Badri
Masduki, pengasuh Pesantren
Badridduja, Kraksaan, Probolinggo,
serta KH Bashori Alwi, pimpinan
Pesantren Ilmu Al-Quran, Malang,
yang anggota Mustasyar PWNU Jawa Timur. Ada pun Pak Ud, panggilan akrab KH Yusuf Hasjim, Hasyib Wahab, dan At-Tabik Ali, yang direncanakan hadir, ternyata berhalangan.

Acara dibuka pertama oleh KH Imron Hamzah dengan doa bersama
untuk kesembuhan KH Sochib Bisri — paman kandung dan penentang
Gus Dur — yang kini tengah sakit.
Kemudian KH Hasyim Muzadi
selaku moderator mempersilakan
Muhammad Tohir, Kiai Badri, dan
Kiai Bashori untuk berbicara. Di tengah suasana hujan deras, pertemuan dua setengah jam itu ternyata berlangsung panas.

Menurut Hasyim Muzadi, pertemuan berhasil merumuskan beberapa kesepakatan dan saling pengertian. Para pihak sepakat untuk mengadakan pertemuan serupa di tingkat PBNU tiga bulan sekali.
“Setidaknya untuk mengakomodasikan
berbagai macam pikiran dan
meluruskan beberapa hal yang tak
benar,” katanya. Melalui pertemuan semacam itu, mereka mengharapkan muncul langkah antisipatif. Mereka sepakat agar PBNU membuat tuntunan tentang ajaran ahlusunah waljamaah secara utuh. Baik tentang masalah akidah, peribadatan, maupun urusan sosial dan kenegaraan. “Tapi saya tak mengatakan bahwa persoalan sudah dianggap selesai. Yang penting, kini sudah ada cara penyelesaian dengan mengadakan pertemuan-pertemuan,” ujar Hasyim
Muzadi.

Tapi keterangan itu justru membuat
gerah Kiai Badri dan kawan-kawannya yang “menghajar” Gus Dur. Menurut Kiai Badri, pertemuan tak menghasilkan keputusan tentang materi yang didiskusikan. Kiai Badri menyatakan bahwa masalah akidah sudah dikemukakan secara blak-blakan, tapi tak selesai.

Misalnya, menurut Kiai Badri, ia mempertanyakan ucapan Gus Dur bahwa menyembelih binatang cukup dengan menyebut nama Tuhan, bukan Bismillah. “Saya pernah dengar pernyataan Gus Dur bahwa menyembelih binatang itu tak harus membaca nama Allah, yang penting sudah menyebut nama Tuhan,” kata Kiai Badri. Padahal, menurut Kiai itu, di dalam Quran jelas disebutkan bahwa untuk menyembelih hewan, harus menyebut nama Allah.

Menjawab persoalan itu, menurut
Effendy Choiri dari Litbang PWNU
Jawa Timur, yang ikut dalam pertemuan, Gus Dur mengatakan bahwa itu adalah problem UUD 1945. Bahwa di dalam UUD 1945, semua warga negara punya hak yang sama, termasuk untuk menyembelih binatang.

Problemnya, apabila yang menyembelih itu orang nonmuslim, lalu kita menyerang mereka karena dianggap tak sesuai dengan hukum Islam. Di mata UUD 1945, tindakan seperti itu, menurut Gus Dur, tak dibenarkan. Maka problem itu dilemparkan Gus Dur, agar menjadi bahan pemikiran.

Di dalam pertemuan itu, Kiai Bashori
mengatakan pernah mendengar
pidato Gus Dur di Bangil, Jawa Timur, menyebut Ayatullah Khomeini
sebagai waliyullah atau wali terbesar
abad ini. Padahal, menurut
pendapat ahlusunah waljamaah, jelas bahwa Syiah itu menyimpang
dari Islam. Maka Kiai Bashori bertanya,
“Bagaimana sih sebenarnya
akidah sampeyan tentang Syiah ini?”
Menurut Effendy Choiri, yang dikenal sebagai pendukung Gus Dur,
jawaban Gus Dur sebagai berikut: dari segi akidah, memang beda
antara Syiah dan Sunni. Saya melihat Khomeini itu waliyullah bukan dalam konteks akidah, melainkan dalam konteks sosial.Khomeini adalah satu-satunya tokoh Islam yang berhasil menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan lain-lain. Jadi soal akidah kita tetap beda dengan Syiah.

Tapi, seperti dikatakan Kiai Badri,
akhirnya pertemuan selesai
begitu saja. Yang jelas, dalam
pertemuan itu ternyata tak ada
upaya untuk melakukan muktamar luar biasa, yang semula ramai
sebagai tuntutan para kiai.
(Saiful Anam dan AB)/GIS.-

Ucapan Gus Dur yang menyebut Khomeini sebagai tokoh yang berhasil menegakkan keadilan dan menghapus kezaliman, kalau benar yang disebutkan oleh info di atas, menunjukkan dia ignorant terhadap fenomena Iran pasca revolusi. Banyak kasus penyiksaan di penjara, penangkapan dan eksekusi tanpa proses pengadilan di era khomeini. Ini bisa dibaca di laporan -laporan kemanusiaan Iran atau buku- buku seperti Tortured Confession yang ditulis oleh Abrahamian. Wallahu Alam


Artikel Terkait