Berikut Contoh Tulisan Mengerikan Dari Sekte Gusdurian

Shortlink:

image

Kami menemukan gaya tulisan pengikut Gusdurian yang dari sisi tauhid sangat mengerikan, Silahkan disimak sebagai berikut;




Asy’arian, Hasyimian, atau Gusdurian?



Gara-gara ulah sekelompok orang yang mengatasnamakan Gusdurian- pengikut setia Gus Dur, Gus Dur yang lagi asyik tidur di kursi favoritnya, tiba-tiba dibangunkan malaikat Izrail.

“Bangun Dur,” kata Izrail sambil menepuk pelan-pelan pipi Gus Dur.



“Ya, ada apa Iz?” jawab Gus Dur tergepoh-gepoh.



“Iz-iz raimu, ora sopan blas. Saya kira kamu tidur, ternyata tidak.”



“Hehehe… masak dari dulu kamu nggak tahu saya aja. Tumben nih nyamperin gue. Ada urusan apa?”



Izrail kemudian menunjukan surat dari Tuhan yang secara khusus ditunjukkan kepada dirinya.



“Ada perihal apa nih, kok Tuhan manggil saya?”



“ Ora usah kakean bacot (nggak usah banyak omong), silahkan dibaca.”



Sesaat kemudian setelah membuka dan membaca surat tersebut, Gus Dur tiba-tiba tertawa cekikian.





“Kenapa tertawa?” hardik Izrail.



“Nggak tertawa bagaimana, anak-anak (maksudnya para Gusdurian) sikapnya kok aneh-aneh aja. Pakai demo –demoan segala.”



“Emang demo soal apa?”



“Lho Tuhan nggak ngasih tahu kamu?”



“Nggak. Saya cuman disuruh nganterin surat aja.”



“Baguslah kalau begitu. Nanti juga kamu tahu sendiri.”



Akhirnya Gus Dur bergagas menemui Tuhan dengan berpakain apa adanya, yaitu memakai kaos oblong dan celana pendek persis seperti yang ia pakai di istana negara saat detik-detik kelengseran dirinya.



Tanpa minta petunjuk Izrail, Gus Dur langsung nyelonong masuk tanpa salam dan permisi menemui Tuhan.



“Hais, main nyelonong dan nyerobot aja,” kata Tuhan.



“Hehehe…” meringis Gus Dur.



“ Mrene-mreneo (kesin-kesini),” Tuhan menyeruh Gus Dur mendekat. “Sudah tahu maksud saya memanggil kamu?”



“ Sampun (sudah).”



“Sudah apa?”



“Sudah tahu maksudnya.”



“Apa?”



“Soal Sutan Bathoegana kan! Saya sendiri juga heran dengan ulah mereka. Padahal saya sama sekali nggak tersinggung. Lah kok mereka pada tersinggung, gimana ceritanya itu? Saya yang dihujat mereka marah, padahal saya nggak marah dan nggak merasa dihujat. Giliran utusane jenengan kanjeng nabi Muhammad dilecehkan, mereka nggak marah, pripun?”



“Saya ini mau minta konfirmasi kamu kok sekarang balik nanya ke saya. Piye to Dur-Dur.”



“Hehehe…  saya sendiri bingung nggak bisa mikir.”



“Karena itu saya manggil kamu untuk menjelaskan perihah itu. Gimana ceritanya kamu kok sampek disanjung-sanjung dan dikultus-kultuskan melebihi Muhammad. Apalagi saya dapat laporan bahwa kamu didaulat menjadi wali ke-10 ya?”



“Yang soal sanjung-kultus saya belum bisa konfirmasi ke jenengan, saya sendiri aja bingung, kenapa mereka bisa begitu. Tapi yang soal wali ke-10 itu yo ndak papa. Mau wali ke-1000 juga sah-sah saja. Grup band Wali yang terkenal itu jenengan nggak mempermasalahkannya, giliran saya, jenengan protes.”



“Ow kamu sekarang sudah berani bantah ya! Mestinya kamu ngaca Dur! Kamu nggak ngaca sama bapak dan kakekmu (Hasyim Asy’ari dan Wahid Hasyim)?”



“Hehehe… saya tadi cuman bercanda, nggak usah diambil pusing.”



“Ow dapurmu! Benar kalau kamu penerus Durasim, pinter ndagel.”



“Hehehe… kan sama-sama dari Jombang. Jombang punya!” Gus Dur tertawa terkekeh-kekeh. “Yang soal Gusdurian itu, saya ini merasa malu kepada ayah dan kakek saya. Termasuk kepada kanjeng nabi Muhammad. Kalau jenengan berkenan memberikan izin, mereka berdualah yang layak disanjung oleh orang-orang Nahdiyin, bukan saya. Selain itu, ada satu lagi yang layak disanjung, yaitu Kiai Khalil Madura. Baliaulah kawan sekaligus guru kakek saya dan Kiai Ahmad Dahlan.”



“Betul sekali. Dur…”



“ Enggeh.”



“Kalau keadaannya sudah terlanjur begini, menurutmu apa yang seharusnya dilakukan?”



“Hehehe… terserah jenengan. Gitu aja kok repot.”





***



Sesaat setelah diintrogasi Tuhan, Gus Dur kemudian bergagas menyuruh asisten pribadinya memanggil salah satu perwakilan Gusdurian untuk dimintai keterangan.



“Dil, aku tulung celuk’o salah siji bedhes Gusdurian kuwi (tolong saya panggilkan salah satu Gusdurian),” perintah Gusdur kepada Adil, asisten pribadinya di alam kubur.



“Siap Gus.”



Segera Adil menemui salah satu perwakilan Gusdurian yang sedang unjuk rasa di depan kontor Partai Demokrat dan membawanya bertemu dengan Gus Dur.



“Niki Gus larek’e (ini Gus anaknya).”



“Mreneo-mreno (kesini-kesini) Le,” Gus Dur meminta perwakilan salah satu Gusdurian itu mendekat ke kursi favoritnya.



“Enggeh Gus.”



“Piye-piye iki (bagaimana ini).”



“Piye pripun Gus?”



“Kamu dan teman-temanmu kok unjuk rasa segala. Emangnya kalian siapa, berlagak jadi pembela segala.”



“Enggeh Gus, pripun jenengan niku. Jenengan kan dituduh lengser karena korupsi, masak jenengan diam.”



“Saya lho nggak merasa tertuduh. Lah wong yang nuduh saya itu, siapa itu namanya….”



“Sutan Bathoegana.”



“Itu lak yo asu (anjing peliharaan) status quo.”



“Enggeh Gus.”



“Namanya saja asu, tabiatnya itu kan mengabdi kepada tuannya yang ngasih badokan (makanan).”



“Enggeh Gus.”



“Ya sudah kalau begitu, lain kali nggak usah terlalu reaktif dan mudah tersinggung. Perasaan waktu saya masih hidup  kan tak pernah mencontohkan seperti itu kan?”



“Engguh Gus.”



“Kamu masih ingat nggak, saat saya dilengserkan dan dipaksa ke luar dari istana negara?”



“Masih Gus.”



“Kamu tahu sendiri kan, ribuan bahkan ratusan simpatisan, banser, dan kaum Nahdiyin siap mati membela saya. Tapi saya redam. Kenapa saya bersikap demikian? Tahu nggak?”



“Mboten Gus.”



“Tuhan saja lho nggak minta dibela, apalagi saya yang hanya manusia biasa.”



“Enggeh Gus, tapi…”



“Tapi apa?”



“Jenengan itu istimewa.”



“Istimewa apa? Setengah wali gitu?”



“Enggeh Gus.”



“Setengah wali dengkulmu. Ingat! Tidak ada yang tahu siapa itu wali kecuali wali itu sendiri. Itu kamu harus pegang teguh. Kamu nggak boleh gampang-gampang mewali-walikan orang. Termasuk mewali-walikan saya.”



“Enggeh Gus. Tapi …”



“Tapi apa lagi?”



“Jenengan itu istimewa. Di mata kami orang Nahdiyin, jenengan itu pokoknya istimewa. Kami punya pertimbangan sendiri soal itu.”



“Apa pertimbangan kalian?”



“Dilihat dari silsilah keluarga, baik dari pihak keluarga dari ayah atau ibu, jenengan itu keturunan kiai tersohor. Kakek jenengan, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari itu kan pendiri NU. Begitu juga dengan ayah jenengan, Wahid Hasyim. Belum lagi mertua jenengan Bisri Syamsuri, beliau kan kiai tersohor NU yang juga pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang. Mereka semua itu kan kiai-kiai penting NU, wajarlah kalau kami kaum Nahdiyin menempatkan makom jenengan pada level wali.”



Gus Dur geleng-geleng kepala mendegar penjelasan tersebut.



“Kami juga bukan orang bodoh Gus, mudah mewali-walikan orang tanpa pertimbangan.”



“Heh bedhes! Tadi kan saya sudah bilang, tidak ada yang tahu siapa itu wali kecuali wali itu sendiri.”



“Lah menurut jenengan pripun? Jenengan merasa wali nggak? Pokoknya jenengan itu istimewa,” perwakilan Gusdurian itu tetap teguh dengan pendiriannya. “Jenengan sendiri Gus, kan juga orang penting di NU, beberapa kali menjabat sebagai ketua PB NU. Sepak terjang jenengan dalam kancah politik baik di era orba atau reformasi sudah terbukti berjasa tak hanya bagi kaum NU sendiri tapi juga bagi bangsa Indonesia. Di saat kaum cendikiawan islam ramai-ramai masuk ICMI yang notabene adalah akal-akalan Soeharto untuk mengkooptasi kekuatan umat islam, jenengan dengan dkk dengan berani membuat Forum Demokrasi yang sangat kritis terhadap Soeharto. Hingga kemudian di luar dugaan jenengan jadi presiden.”



Gus Dur kembali geleng-geleng kepala.



“Pripun Gus?”



“Yo wes lah, terserah kamu. Mau memposisikan saya sebagai dewa, wali, atau apalah, monggo (silahkan). Tapi ingat pesan saya.”



“Apa Gus?’



“Lain kali nggak usah terlalu reaktif dan fanatik serta jangan mudah tersinggung.”



“Siap Gus. Itu baru wali beneran.”



“Oo.. bedhes!”



“Hehehe… gitu aja kok repot, Gus-Gus.”


Artikel Terkait