Tulisan Sorotan Untuk Ide “ISLAM NUSANTARA”

Shortlink:

islam-nusantara

Oleh Muhammad Lutfi Rochman

*Penulis Khuwaidim Al Ma’had Al Anshory


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mempersiapkan Muktamar ke-33 yang akan digelar di Jombang, Jawa Timur. Tema Muktamar NU ke-33 itu pun sudah disetujui oleh para pimpinan PBNU yaitu “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia“.

Istilah “ISLAM NUSANTARA” menurut sepengetahuan penulis pernah menjadi program di salah satu TV Swasta KOMPAS TV. Sebuah nama media yang sering bermasalah dengan kaum muslimin dengan istilah yang sudah menjadi rahasia umum “KOMando PAStur”. Wallahu Alam tentang kebenaran istilah tersebut.

Dalam jejaring sosial “ISLAM NUSANTARA” Ala kompas TV pernah tayang dan menjadi program #KilauRamadhan persembahan @KompasTV yang tayang selama bulan Ramadhan pkl.04.00WIB & pkl.20.00WIB dimulai pada tahun 2012 lalu.

Di tahun yang sama, Pada acara pembukaan Muktamar Jam’iyah Ahlit Thariqah An-Nahdhiyah di Ponpes al- Munawariyah, Kabupaten Malang pada hari Rabu, 10 Januari 2012, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj mengeluarkan beberapa keterangan yang berbau istilah “ISLAM NUSANTARA” di hadapan ratusan ulama.

Di dalam sambutannya sebagai Ketua PBNU, Said Aqil Siradj menerangkan bahwa sebelum ajaran Hindu-Budha masuk ke bumi Nusantara, sebenarnya orang Jawa sudah mengenal tauhid, hanya saja belum bernama Islam. Ajaran tauhid mereka pada saat itu bernama KAPITAYAN. Said Aqil Siradj mengatakan KAPITAYAN itu sudah mengenal satu tuhan.

Dan tuhan mereka yang satu ini dibantu oleh Sembilan (9) penjaga penjuru. Said menyebut beberapa nama penjaga itu diantaranya SANG HYANG BAYU dan SANG HYANG SIWA. Demikian ini adalah pra peradaban Hindu- Budha.

Pernyataan Said Agil kala itu mendapat sorotan keras dari Mustasyar PWNU Jatim KHM. Bashori Alwi. Menurut ayahanda tokoh NU Garis Lurus KH. Alwi Bashori ini, Said Agil telah membumbui dengan opininya yang harus diteliti kembali kebenarannya. Dia  mengatakan ada kesamaan jumlah antara para penjaga KAPITAYAN dengan bintang sejumlah sembilan yang ada di logo NU. Dia mengatakan itu seraya mengindikasikan jumlah sembilan penjaga KAPITAYAN itu merupakan sebab atau alasan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari memilih jumlah bintang di logo NU yang juga berjumlah sembilan. Mungkin inilah pernyataan yang nyeleneh dan bisa jadi mengaburkan pemahaman ke NU-an dan ke-Aswaja-an umat, apabila umat NU mengambil mentah lantas salah dalam menafsirkannya, khususnya bagi yang masih awam tentang ke-NU annya Mbah Hasyim Asy’ari. Hal tersebut karena Said menyatakannya dalam kapasitasnya sebagai ketua PBNU dan menukil nama Mbah Hasyim Asy’ari di dalam pernyataan itu. Mungkin inilah yang perlu dilihat kembali, apakah benar dan bijakkah pernyataan Said itu sebagai ketua PBNU, atau mungkin memang ada motif dan tujuan dibalik penyampaian itu?

Disamping itu Said Agil mendefinisikan Aswaja dengan penegertian : Pengikut sunnah Nabi dan peduli Jama’ah (masyarakat seluruhnya). Ini penyimpangan dari definisi yang diberikan oleh para ulama’ sejak zaman sahabat hingga zaman kita ini yang telah diijma’i, yaitu Ahlissunnah wal Jama’ah adalah pengikut sunnah Nabi dan sunnah Jama’ah (para sahabat Nabi) berdasarkan sabda Nabi s.a.w : (‘Alaikum bi sunnati wa sunnati al-Khulafai ar-Rasyidin al-Mahdhiyyin) Artinya : “Peganglah teguh sunnahku dan sunnah para penggantiku yang memberi petunjuk dan mendapat hidayat, yakni sahabat-sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali r.a.”

Silakan pembaca amati cuplikan pidato Said Agil ini agar mengerti lebih mendalam siapa sesungguhnya Said Agil itu, silahkan membaca karangan KH. Muhammad Najih Maimun yaitu buku “Membuka kedok tokoh-tokoh liberal di dalam tubuh NU”. Salah satunya Said Agil adalah agen Syi’ah dari Iran di Indonesia.

Dalam buku tersebut berkaitan dengan Kristen, Said Agil mengatakan : “ Tauhid Islam dan Kristen adalah sama”. Perlu diingatkan kembali bahwa logo NU yang bergambar bumi di kitari oleh 9 bintang itu adalah isyarat bahwa bintang lima yang di atas tulisan Nahdhatul Ulama’ adalah berarti NU mengikuti sunnah Nabi Muhammad s.a.w. dan jejak para sahabat empat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali r.a. Sedang bintang empat yang di bawah adalah Imam-Imam madzhab yang empat : Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali dimana NU mengikuti salah satu dari empat madzhab tersebut.

Penyidikan Tentang Istilah Islam Nusantara

Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di dalam kitab -kitabnya tidak pernah menyebutkan istilah ini. Bahkan dalam kitab beliau “Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” beliau menyebut landasan ASWAJA penduduk Jawa di zaman beliau;

ﻓﺼﻞ : ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺗﻤﺴﻚ ﺃﻫﻞ ﺟﺎﻭﻯ ﺑﻤﺬﻫﺐ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ، ﻭﺑﻴﺎﻥ ﺍﺑﺘﺪﺍﺀ ﻇﻬﻮﺭ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻭﺍﻧﺘﺸﺎﺭﻫﺎ ﻓﻲ ﺃﺭﺽ ﺟﺎﻭﻯ، ﻭﺑﻴﺎﻥ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﻴﻦ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ

Pasal : Menjelaskan Penduduk Jawa Berpegang kepada Madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah dan Awal Kemunculan Bid’ah dan Meluasnya di Jawa serta Macam macam Ahli Bid’ah di Zaman ini.

ﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻣﺴﻠﻤﻮﺍ ﺍﻷﻗﻄﺎﺭ ﺍﻟﺠﺎﻭﻳﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺯﻣﺎﻥ ﺍﻟﺴﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﺨﺎﻟﻴﺔ ﻣﺘﻔﻘﻲ ﺍﻵﺭﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻣﺘﺤﺪﻱ ﺍﻟﻤﺄﺧﺬ ﻭﺍﻟﻤﺸﺮﺏ، ﻓﻜﻠﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻔﻴﺲ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ، ﻭﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻷﺷﻌﺮﻱ، ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻋﻠﻰ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ

Umat Islam yang mendiami wilayah Jawa sejak zaman dahulu telah bersepakat dan menyatu dalam pandangan keagamaannya. Di bidang fiqh, mereka berpegang kepada madzhab Imam Syafi’i, di bidang ushuluddin berpegang kepada madzhab Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan di bidang tasawwuf berpegang kepada madzhab Abu Hamid al-Ghazali dan Abu al-Hasan asy-Syadzili, semoga Allah meridhai mereka semua.
(Kitab رسالة اهل السنة والجماعة)

Dari penjelasan di atas di akui ataupun tidak 4 mazhab mu’tabar dalam fiqh, 2 mu’tabar dalam tauhid dan 2 mazhab dalam ilmu tasawuf di atas tidak ada satupun yang berasal dari “NUSANTARA”. Lalu bagaimanakah yang di kehendaki oleh para pemimpin PBNU?

KH Said Aqil Siradj dalam pidato sambutan tentang tema  “ISLAM NUSANTARA” mengatakan, NU bertanggung jawab menyebarluaskan paham Islam Nusantara sebagai bentuk penegasan Islam yang memberi kesejahteraan dan kedamaian
bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kekerasan dan pertumpahan darah bukan ajaran Islam. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak pernah menghancurkan berhala-berhala ketika di Mekkah. Umat di Mekkah sendiri yang menghancurkannya karena kesadaran iman mereka , bukan karena perintah atau doktrin Nabi,” kisahnya. (Web RMI)

Dalam kampanyenya ini Ketum sudah berusaha menipu sejarah demi kampanya “ISLAM NUSANTARA”. Sebagaimana di ketahui bahwa saat peristiwa fathu Makkah Nabi sendirilah yang memimpin penghancuran berhala kaum musyrikin di sekitar Ka’bah. Bahkan saat beliau masih hidup di Makkah sebelum hijrah nabi sudah berusaha menyingkirkan berhala di sekitar ka’bah.


Hadist Dimana Nabi Menghancurkan Berhala Saat Di Mekkah


Abdullah berkata; Bapakku bercerita kepadaku, dia berkata; Al Asbath bin Muhammad telah bercerita kepada kami, dia dari Abu Maryam, Abu Maryam dari Ali (ra), dia berkata: Saya pergi bersama Nabi SAW menuju ka’bah. Beliau bersabda kepadaku: “Duduklah!” Lalu beliau naik ke atas pundakku, lalu aku berusaha untuk berdiri. Ketika beliau melihat aku tidak kuat, beliau turun dan duduk untukku. Beliau bersabda: “Naiklah ke atas pundakku!” Maka aku naik ke pundaknya.

Beliau mengangkatku. Beliau seolah-olah memberi isyarat agar aku menggapai atas ka’bah yang di atasnya terdapat patung- patung terbuat dari kuningan atau tembaga. Aku menggoyangnya ke kanan dan ke kiri. Hingga saya berhasil menggoyangnya, beliau bersabda: “Lemparkan dia!!!” Maka saya lempar berhala itu sehingga pecah seperti gelas. Kemudian saya turun. Maka saya dan Nabi lekas pergi dan sembunyi karena khawatir ada yang memergoki kami. (Musnad Imam Ahmad, 1/184, hadist hasan)

Abu Nu’aim Al Hafizh Imla bercerita kepada kami, dia mengatakan Abu Bakar Ahmad bin Yunus telah bercerita kepada kami, dia berkata; Muhammad bin Yunus bercerita kepada kami, dia berkata; Abdullah bin Daud Al Khuraiyi bercerita kepada kami, dia dari Nua’im bin Hakim Al Madaini, dia berkata; Abu Maryam bercerita kepadaku, dia dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata; Nabi SAW pergi bersamaku menuju berhala. Beliau bersabda; “Duduklah!” Maka saya duduk di samping ka’bah. Beliau naik ke pundakku. Beliau berkata: “Angkat aku ke berhala!” Aku mengangkatnya, tapi beliau melihat aku tidak kuat. Beliau berkata: “Duduklah!” Saya duduk dan saya turunkan beliau. Beliau duduk untuk mengangkatku lalu berkata: “Hai, Ali. Naiklah ke pundakku!” Beliau mengangkatku. Setelah mengangkatku beliau mengisyaratkan aku menggapai kabah. Saya lemparkan berhala mereka yang paling besar. Berhala tersebut terbuat dari pasak besi yang ditancapkan ke bumi. Nabi bersabda: “Ih.. ih.. ih…” Saya berusaha menggoyangnya hingga berhasil.

Lalu beliau bersabda: “Hancurkan dia!!!” Maka berhala itu saya hancurkan dan pecahkan. Kemudian saya turun. (Tarikh Baghdad 13/302-303)

Abdullah bin Ahmad bin Hambal berkata, Nashr bin Ali menceritakan kepadaku, dia berkata; Abdullah bin Daud bercerita kepadaku, dia dari Nu’aim bin Hakim, dia dari Ali (ra.) dia berkata; “Dulu di atas berhala ada beberapa berhala. Lalu saya berusaha mengangkat Nabi SAW, tapi saya tidak kuat. Maka beliau mengangkatku, saya pecahkan berhala-berhala itu, dan kalau saya mau, saya akan menggapai langit.” (Musnad Ahmad, 1/151)

Saat peristiwa Fathu Makkah Rasulullah memasuki Ka’bah, dilihatnya dinding-dinding Ka’bah sudah penuh dengan lukisan dan gambar. Beliau memerintahkan supaya gambar dan lukisan itu dihancurkan. Demikian pula dengan berhala- berhala di sekeliling Ka’bah yang disembah oleh Quraisy.

Dengan tongkat di tangannya, Rasulullah menunjuk berhala-berhala itu seraya berkata: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS Al- Israa’: 81)

Dan sekali lagi klaim Said Agil terbukti merupakan penipuan sejarah Nabi. Belum lama ini pemerintah melalui Menag sudah mulai promosi “ISLAM NUSANTARA” dengan cara melagukan pembacaan Al Qur’an di istana negara dengan nada Jawa ala pewayangan. Langkah yang masih kalah jauh berani dengan tokoh sejarah sekuler dari Turki Kamal Attaturk yang berani mencoba mengganti bacaan Azan yang berbahasa Arab dengan bahasa Turki demi mengenalkan “ISLAM NUSANTARA” ala Turki. Lalu setelah lagu nada Jawa pewayangan dalam pembacaan Al Qur’an, Apalagi yang akan menghebohkan kaum muslimin di Republik ini? Wallahu Alam


Artikel Terkait