Tokoh LBM PBNU Kembali Kritik Pimpinan NU Yang Cenderung Syiah

Shortlink:

image

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Wakil
Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU,
KH. Cholil Nafis, PhD menilai bahwa kini
banyak pengurus NU yang mulai jarang
bahkan tak membaca kitab-kitab pendiri
Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyaikh
Hasyim Asy’ari. Akibatnya banyak
diantara mereka yang tak menghargai
dan tak sepaham dengan ajaran NU
sesuai garis Hadratussyaikh Hasyim
Asy’ari. Padahal mereka adalah pimpinan
NU, termasuk pimpinan PBNU.
”Mereka sudah jarang baca Qanun Asasi
(NU), Risalah Ahlussunnah Waljamaah
dan buku-buku Kiai Hasyim Asy’ari,” kata
Kiai Cholil Nafis kepada
BANGSAONLINE.com.
Ia memberi contoh pengurus NU yang
tertarik terhadap Syiah. ”Padahal Kiai
Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah
Ahlussunnah Waljamaah sudah
menyinggung soal Rafidhah (Syiah),”
katanya. Artinya, dalam pandangan Kiai
Hasyim Asy’ari, Rafidhah masuk dalam
kategori 71 sekte yang dianggap sesat.
”Jadi mereka itu NU biologis, bukan NU
idelogis,” tegas dosen Universitas
Indonesia ini. Mereka, menurut dia, secara
paham keagamaan bukan NU, tapi malah
menganut paham lain seperti Syiah,
Wahabi, Islam Liberal, Hizbut Tahrir dan
sebagainya
”Padahal Syiah itu secara ushul (aqidah)
kan berbeda dengan NU,” katanya.
Artinya, perbedaan NU dan Syiah bukan
perbedaan furuiyah (cabang) seperti yang
diyakini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil
Siradj, tapi perbedaan aqidah yang tak
bisa diterima oleh NU.
Sebelumnya, Kiai Cholil Nafis menuturkan
bahwa Ketua Umum PBNU KH Said Aqil
Siradj membuat nota kesepahaman (MoU)
dengan Universitas al-Musthafa
al-’Alamiyah, Qom, Iran. Qom adalah
sebuah kota yang merupakan ibukota
Provinsi Qom di Iran. Qom menjadi
sebuah kota suci bagi penganut Islam
Syi’ah. Kota ini merupakan pusat
pendidikan Syi’ah terbesar di dunia.
Menurut Kiai Cholil Nafis, dokumen
kerjasama di bidang pendidikan, riset dan
kebudayaan itu dilakukan tanpa
sepengetahuan dan persetujuan Rais Am
Syuriah PBNU yang saat itu dijabat KHA
Sahal Mahfudz. Dokumen tertanggal 27
Oktober 2011 itu dibuat dalam dua
bahasa, Persia dan Indonesia.
”Saya kopi yang berbahasa Indonesia
karena saya gak begitu paham bahasa
Persia,” kata Kiai Cholil Nafis yang Ketua
MUI Pusat Bidang Dakwah ini.
BANGSAONLINE.com juga menerima
dokumen MoU tersebut dalam versi
bahasa Indonesia.
Menurut Cholil Nafis, Kiai Said Aqil tak
bisa mengelak karena sudah ada
dokumen resmi yang dia temukan. ”Di
PBNU ada, di Universitas al-Mustafa juga
ada,” tegas dosen Universitas Indonesia
(UI) itu ketika ditanya dapat dari mana
dokumen tersebut. Ia mengaku pernah
sekali berkunjung ke Universitas al-
Mustafa al-‘Alamiyah. ”Saya kesana
mewakili UI dalam urusan akademik,”
katanya.
Menurut dia, kerjasama itu berlaku
selama 4 tahun. “Kalau tak ada
pembatalan, kerjasama itu akan terus dan
diperpanjang dengan sendirinya,” katanya.
MoU PBNU dengan Universitas al-
Musthafa al-Alamiyah ini sempat heboh
karena Rais Am PBNU yang saat itu
dijabat KHA Sahal Mahfudz tak
mengatahui MoU tersebut.


Artikel Terkait