Tafsir Al-Hijr: Presiden Jokowi, Presiden Keikhlasan?

Shortlink:

Pangkat dan derajat itu pulung, disamping prestasi, tapi pulung lebih dominan. Banyak orang lebih berprestasi dan lebih pinter, tapi tidak berarti otomatis menjadi presiden. Jokowi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, nyatanya Tuhan menunjuk dia memimpin negeri ini. Sebagai muslim yang baik, kita wajib beramal yang terbaik untuk agama, negara dan bangsa ini.

Jokowi yang tampilannya melas asih sungguh cocok sebagai figur kesederhanaan, meski kesehariannya sama sekali tidak sederhana. Tapi apa bisa dipromosikan sebagai sosok presiden keikhlasan? Ikhlas tidak sama dengan sederhana. Sederhana bisa ditampakkan, sedangkan ikhlas tidak. Apapun alasannya, yang jelas Jokowi sudah pernah diperlakukan lebih dari pada yang lain, meski yang dilakukan sama. Mau bukti ?

Pertama, sama-sama melakukan turun ke lapangan, tapi kalau yang turun itu pak Jokowi, maka labelnya blusukan, sehingga terkesan sebagai pemimpin yang merakyat dan benar-benar mengerti kamauan rakyat. Tapi kalau yang turun itu pak SBY, namanya pencitraan, sehingga dikesankan sebagai pembohongan publik yang arahnya kepada sosok pemimpin yang munafik.

Kedua, sama-sama mengulur waktu ketika harus ambil keputusan cepat. Kalau yang melakukan itu pak SBY, maka labelnya adalah peragu, penakut, tidak tegas yang mengarah kepada sikap lemah seorang pemimpin. Tapi kalau yang mengulur-ulur itu pak Jokowi, maka labelnya sebagai sosok pemimpin yang hati-hati, tidak grusah-grusuh, mempertimbangkan masa depan yang semuanya mengarah kepada pemujian terhadap pribadi yang arif dan bijak.

Ketiga, sama-sama menaikkan harga BBM bersubsidi. Kalau pak SBY yang melakukan, namanya pemimpin dungu, bagai kerbau yang tidak mehamami penderitaan rakyat dan tega menyengsarakan rakyat. Tapi kalau yang manaikkan pak Jokowi, labelnya sebagai presiden yang memandang kesejahteraan rakyat ke depan. Tapi karena sangat ambisi, jadinya kebat kelewat.

Secara emosional, Jokowi cepat sekali menaikkan harga BBM bersubsidi dan cepat pula menurunkan dan menurunkan lagi karena pertimbangan harga minyak dunia yang makin turun. Sejatinya dia malu di hadapan pengamat minyak internasional. Sebab ketahuan bodohnya, tidak bisa membaca pergerakan harga minyak dunia, kasihan.

Keempat, terhadap tersangka tipikor, meski yang terlibat sudah menjabat dan merupakan anak emas, maka dia harus turun dan segera menyelesaikan masalah hukum yang menimpa dirinya. Begitu yang dilakukan pak SBY. Tapi kalau pak Jokowi, meski sudah tersangka, tetap dicalonkan menjadi kapolri. Waw, andai pak SBY yang salah menunjuk calon kapolri seperti sekarang ini, sungguh kita tidak bisa dibayangkan seperti apa brutalnya ulah oposisi.

Penulis tahu, bahwa itulah politik. Tapi bukan itu yang dibidik dalam tafsir aktual ini. Tafsir ini menilik sebuah amal dari perspektif ketulusan niat. Pada ayat studi kemarin, orang-orang yang ikhlas ( ibadak minhum al-mukhlasin) selalu diganggu dan dijerumuskan. Tapi Iblis dimanjakan dengan umur panjang dan bebas berulah. Atas dasar fenomena ini, ada dua pandangan menurut kurikulum sufistik.

Pertama, a’in ‘ala kaffah. Pandangan menyeluruh nan serba bagus. Cercaan dan perendahan adalah rahmat yang diberikan Tuhan. Kritik adalah teguran bermakna, sehingga jauh-jauh sudah waspada dan tidak terjebak riya’. Cercaan adalah kebajikan ujian demi menaikkan derajat di hadapan Tuhan. Sedangkan pujian justeru berpotensi sebagai momok penjebak yang bisa merusak amal. Inilah yang diunduh sebagai ajaran, yaitu selalu berbaik sangka kepada Tuhan.

Kedua, ‘ain ‘ala harf. Pandangan pinggir nan sepihak. Ketika mendapat kejayaan, keuntungan, kemenangan, mereka merasa disayang Tuhan. Artinya, terhadap orang yang kalah, terpinggirkan atau miskin, maka dianggap tidak disayang Tuhan, bahkan dikutuk. Pandangan ini mesti dijauhi, karena Fir’aun juga raja dan penguasa, Qarun juga kaya raya, tapi keduanya terkutuk. Mudah-mudahan para pejabat negeri ini selalu dalam rahmat Ilahi.


Artikel Terkait