Tafsir Al-Hijr: Hakekat Keikhlasan

Shortlink:

Ali ibn Abi Thalib bertarung melawan seorang musuh kafir, duel, satu lawan satu. Dalam waktu singkat, musuh Allah itu berhasil dirobohkan, tapi belum terluka parah. Kafir itu terjatuh dalam posisi terlentang dan tak ada lagi sisa kekuatan untuk melawan mempertahankan diri. Didepannya, Ali sudah mengayunkan pedangnya untuk segera menebas dan menghabisi.

Si kafir itu pikir-pikir, dari pada mati lan-lanan tanpa perlawanan apa-apa, lebih baik mati dengan melawan sebisa-bisanya. Lumayan, untuk melampiaskan nafsu. Tiba-tiba si kafir itu meludah kencang sekali kearah depan hingga mengena ke wajah Ali. “Rasakan itu Ali”, kata dia. Apa yang dilakukan Ali?.

Spontan Ali merunduk dan menghentikan ayunan pedangnya, pertanda urung membunuh. Lalu membentak,: “Hai musuh Allah, segera bangun dan pergilah. Pergilah menjauh dariku”. Si Kafir itu terperanjat tak percaya. Tapi karena melihat keseriusan Ali, maka dia bangun perlahan dan pergi. Ada apa di balik semua itu?

Logikanya, Ali makin keras dan makin serius menebaskan pedangnya dan menghabisi si kafir itu. Selain dia musuh dalam pertempuran agama, dia juga menghina dan meludahi wajahnya. Tapi ada pemikiran lain dalam benak Ali. Ketika dia berangkat perang, dia benar-benar niat berjihad dan ikhlas membela agama Allah, lillahi ta’ala. Begitu juga saat berhadapan dengan musuh, aksinya masih didorong oleh jihad fi sabilillah. Tapi begitu musuh sudah roboh dan meludahi, maka Ali tersinggung dan marah oleh ludahan itu.

Nah, disinilah Ali kuatir, kalau-kalau membunuh si kafir itu lebih didasari oleh rasa ketersinggungan dan marah pribadinya akibat diludahi si kafir tersebut, bukan karena dasar keikhlasan berjihad lillahi ta’ala. Ali takut kehilangan pahala berjihad, maka Ali memilih mengusir si kafir tersebut.

Si kafir memang selamat, tapi pikirannya terus terganggu oleh sikap Ali yang barusan dia alami yang dianggapnya sangat aneh dan tidak pernah ada dalam logika perang. Si kafir terus mencari tahu, apa alasan Ali melepaskan dia, saat dia justru meludahinya. Akhirnya, alasan Ali ini didengar oleh si kafir. Si kafir faham betul keagungan dan kemuliaan ajaran islam, – katanya – akhirnya dia memeluk islam dengan tulus hati.


Artikel Terkait